Eka Sapta, Grup Musik Legendaris Indonesia Era 60-an yang Pernah Dipanggil Presiden Soekarno

Eka Sapta, Grup Musik Legendaris Indonesia Era 60-an yang Pernah Dipanggil Presiden Soekarno
Eka Sapta (foto/ist)

KLIKSUMUT.COMNama Eka Sapta mungkin tak sepopuler band masa kini, namun pada dekade 1960-an, grup musik instrumental pop asal Jakarta ini adalah simbol kemewahan musikal Indonesia. Dimotori oleh Bing Slamet, Eka Sapta dikenal sebagai kelompok musik multitalenta dengan gaya lintas genre yang belum pernah ada sebelumnya.

Grup ini beranggotakan musisi papan atas seperti Ireng Maulana (gitar), Idris Sardi (bas dan biola), Itje Kumaunang (gitar), Benny Mustapha (drum), Darmono (vibraphone), dan Kamid (konga). Kombinasi tersebut menjadikan Eka Sapta sebagai salah satu formasi musik paling solid dan berkelas pada masanya.

Nama Eka Sapta mulai dikenal luas saat terlibat dalam proyek rekaman di Singapura, mengiringi penyanyi ternama seperti Vivi Sumanti, Dicky Suprapto, Suzanna, Tanty Josepha, Ernie Djohan, hingga Maya Sopha. Dalam waktu tiga bulan, mereka merampungkan sejumlah rekaman untuk label internasional seperti Fontana Gold dan Canary Records.

Beberapa lagu yang melejit antara lain Menantikan Kasih, Mimpi di Singapura, Selalu Milikmu, dan Salah Sangka. Rekaman ini menjadi bukti bahwa musisi Indonesia kala itu sudah mampu bersaing di panggung internasional.

Tahun 1962 menjadi tonggak penting ketika Eka Sapta tampil perdana di Bandara Kemayoran, Jakarta, mendampingi grup musik melayu Arulan. Penampilan Bing Slamet dan kawan-kawan langsung menyedot perhatian publik berkat gaya bermusik yang modern, enerjik, dan berani bereksperimen.

Bacaan Lainnya

Eka Sapta mampu memainkan berbagai aliran musik, mulai dari pop, rock and roll, jazz, cha-cha, keroncong, hingga orkes melayu, jauh sebelum dangdut dikenal luas.

Tak hanya tampil sebagai grup instrumental, Eka Sapta juga kerap menjadi musik pengiring artis papan atas, seperti Rima Melati, Lilis Suryani, Yanti Bersaudara, Elly Kasim, dan Suzanna. Lagu-lagu seperti Putih-Putih Simelati, Modjang Priangan, Burung Kutjitja, Suling Bambu, dan Tirtonadi sempat menjadi favorit masyarakat.

BACA JUGA: Sejarah dan Perjalanan The Rollies: Legenda Jazz Rock Indonesia yang Abadi

Eka Sapta merilis sejumlah album piringan hitam, salah satunya “Varia Malam Eka Sapta” yang diproduksi oleh Bali Records—label yang kelak berkembang menjadi Musica Studios. Produser Amin Wijaya dikenal memberi kebebasan penuh kepada para personel untuk bereksplorasi secara musikal.

Bahkan, Eka Sapta sempat merilis album The Best of Romantic Keronchong, yang berisi aransemen instrumental Barat populer seperti Nobody’s Child dan I Can’t Stop Loving You.

Kualitas musikal Eka Sapta membuat mereka mendapat kehormatan tampil di Istana Bogor atas undangan Presiden Soekarno. Mereka juga dipercaya tampil dalam acara “Pro Ganefo Night” menjelang Asian Games 1963 di Jakarta.

Nama Eka Sapta pun melambung hingga ke mancanegara. Malaysia, Singapura, bahkan Italia menjadi saksi kepiawaian grup ini membawa musik Indonesia ke panggung dunia.

Seiring waktu, kesibukan pribadi membuat sejumlah personel memilih jalur masing-masing. Beberapa musisi baru pun bergabung, seperti Eddy Tulis, Enteng Tanamal, Kiboud Maulana, hingga Jopie Item. Meski formasi bertambah, dinamika internal tak terelakkan.

Pukulan terberat datang saat Bing Slamet wafat pada 17 Desember 1974. Disusul meninggalnya Eddy Tulis dan Amin Wijaya, Eka Sapta perlahan meredup. Meski demikian, grup ini tidak pernah secara resmi membubarkan diri.

Sebagai penghormatan terakhir, Bali Records merilis album “Album Kenang-Kenangan Terakhir Bing Slamet dengan Eka Sapta”, berisi 19 lagu, termasuk Sampai Akhir Hayat, Kasih Nan Abadi, dan Bunga Piara.

BACA JUGA: Panbers: Kisah Legendaris Empat Bersaudara yang Mengukir Sejarah Musik Indonesia

Para personel Eka Sapta kemudian melanjutkan kiprah gemilang di jalur masing-masing. Idris Sardi menjadi penata musik film peraih Piala Citra, Enteng Tanamal menggagas Yayasan Karya Cipta Indonesia, sementara Ireng Maulana dan Jopie Item membentuk grup jazz ternama.

Meski tak lagi aktif, Eka Sapta tetap dikenang sebagai pionir musik modern Indonesia—grup yang membuktikan bahwa kualitas, keberanian bereksperimen, dan profesionalisme sudah hidup di dunia musik Tanah Air sejak puluhan tahun silam. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait