KLIKSUMUT.COM – Bimbo, grup musik legendaris asal Kota Bandung, kembali menjadi sorotan publik setelah perjalanan panjang mereka selama hampir enam dekade terus dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah musik Indonesia. Grup yang dibentuk tahun 1966 ini digawangi oleh tiga bersaudara Sam Bimbo, Acil Bimbo, dan Jaka Bimbo, kemudian diperkuat oleh sang adik bungsu Iin Parlina.
Bimbo bukan sekadar grup musik; mereka adalah ikon yang memadukan romantisme, humor, kritik sosial, hingga religiusitas dalam satu alunan harmoni yang khas dan sulit ditandingi. Pengaruh musik dunia seperti Bee Gees, Everly Brothers, Cliff Richard, hingga Paul Anka membentuk karakter vokal dan gaya musik yang kemudian menjadi identitas kuat Bimbo.
Lahir dari pasangan Raden Dajat Hardjakusumah dan Oeken Kenran, keluarga besar ini terdiri dari tujuh bersaudara yang sejak kecil telah terpapar musik. Sam dan Acil—kakak beradik yang kelak menjadi tulang punggung Bimbo—mulanya gandrung pada gaya seriosa dan musik Elvis Presley yang sedang meledak pada akhir 1950-an.
Dari sinilah benih musikalitas mereka tumbuh, lalu berkembang dengan terbentuknya berbagai kelompok musik seperti The Alulas, Aneka Nada, hingga Yanti Bersaudara yang dibawakan oleh adik-adik mereka.
Tahun 1966 menjadi titik penting ketika tiga bersaudara Sam, Acil, dan Jaka mendirikan grup bernama Trio Los Bimbos, sebelum akhirnya dikenal sebagai Trio Bimbo.
Pada tahun 1970, Bimbo mendapat kontrak bernyanyi di Ming Court Hotel, Orchard – Singapura. Justru di negeri jiran inilah Bimbo merekam Album I bersama label Fontana, Singapura. Album tersebut langsung meledak di pasaran, menjadikan nama Bimbo diperhitungkan jauh sebelum industri musik Indonesia melirik mereka.
Meski pernah ditolak perusahaan rekaman di Indonesia, kesuksesan Bimbo di Singapura membuat Remaco akhirnya mengontrak mereka. Sejak itu, Bimbo melahirkan banyak lagu hits seperti: Melati dari Jayagiri, Flamboyan, Manis dan Sayang, Tuhan, Sajadah Panjang, Antara Kabul dan Beirut dan Tante Sun (yang kemudian dicekal era Orde Baru)
Gaya harmoni vokal tiga suara berpadu dengan lirik puitis menjadikan Bimbo pelopor genre balada minor dan musik religius modern di Indonesia.
Bimbo dikenal lewat karya-karya religius yang mendalam dan penuh makna. Mereka berkolaborasi dengan sastrawan besar seperti Taufiq Ismail dan Wing Kardjo. Lagu-lagu seperti Dengan Puisi, Rindu Rasul, hingga Sajadah Panjang menjadi mahakarya yang tetap abadi dan dinyanyikan setiap Ramadan.
Bimbo juga dikenal vokal dalam isu lingkungan hidup. Mereka membuat album tentang harimau Jawa, Ciliwung, hingga kependudukan. Tidak sedikit pula lagu mereka yang sarat kritik sosial—bahkan dianggap terlalu tajam hingga dicekal pemerintah Orde Baru.
Pada 22 Agustus 2007, Bimbo merayakan 40 tahun karier dengan konser besar di Jakarta dan merilis buku perjalanan mereka. Hingga kini, Bimbo telah menciptakan sekitar 800 lagu dalam 200 album, sebuah pencapaian langka dalam industri musik tanah air.
Sam Bimbo (Lahir 6 Mei 1942)
Pendiri dan pemimpin Bimbo. Seorang musisi sekaligus seniman lukis lulusan ITB. Pencipta lagu legendaris seperti Tuhan dan Rindu Rasul. Putrinya, Achi SHE, merupakan personel grup SHE.
Acil Bimbo (20 Agustus 1943 – 1 September 2025)
Bariton utama Bimbo yang dikenal bersuara emas. Alumni Fakultas Hukum UNPAD, aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan. Wafat di usia 82 tahun akibat kanker paru-paru.
BACA JUGA: Panbers: Kisah Legendaris Empat Bersaudara yang Mengukir Sejarah Musik Indonesia
Jaka Bimbo (Lahir 1 September 1946)
Musisi pendiam namun tajam dalam berkarya. Pencipta lagu-lagu kritik sosial seperti Tante Sun dan Surat untuk Reagan & Brezhnev.
Iin Parlina (Lahir 1 November 1952)
Satu-satunya personel wanita. Suaranya menjadi warna manis dalam lagu-lagu bernuansa humor dan keseharian seperti Abang Becak, Kumis, dan Mata.
Banyak keturunan Bimbo terjun ke dunia musik, salah satunya Asri Dewi Lestari (Achi SHE). Dua cucu Acil Bimbo, Kyla dan Zara JKT48, bahkan menembus dunia hiburan nasional sebagai penyanyi dan artis layar lebar.
Perjalanan Bimbo selama hampir enam dekade menunjukkan bahwa karya jujur, harmoni kuat, dan keberanian berbicara lewat musik adalah kunci abadi. Dari lagu cinta penuh humor hingga kritik sosial yang menggugah, Bimbo tetap menjadi salah satu fondasi musik Indonesia yang keberadaannya tak tergantikan. (KSC)
TIM REDAKSI





