Wamenkeu Suahasil: Ketidakpastian Global Jadi “Normal Baru”, ASEAN Harus Bangun Stabilitas Sendiri

Wamenkeu Suahasil: Ketidakpastian Global Jadi “Normal Baru”, ASEAN Harus Bangun Stabilitas Sendiri
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyebut ketidakpastian global kini telah menjadi tantangan “normal baru” atau new normal yang harus dihadapi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, stabilitas kawasan ASEAN dinilai harus dibangun secara aktif oleh seluruh negara anggotanya.

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyebut ketidakpastian global kini telah menjadi tantangan “normal baru” atau new normal yang harus dihadapi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, stabilitas kawasan ASEAN dinilai harus dibangun secara aktif oleh seluruh negara anggotanya.

Pernyataan tersebut disampaikan Wamenkeu Suahasil dalam Seminar ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy di Jakarta, Senin (25/5/2026).

“Ketidakpastian akan menjadi normal baru kita di masa depan. Jadi, stabilitas atau kepastian itu tidak diberikan begitu saja kepada kita. Itu harus dibangun oleh kita sendiri,” ujar Suahasil Nazara.

Dalam paparannya, Wamenkeu menyoroti sejumlah tantangan global yang saat ini dihadapi negara-negara ASEAN. Tantangan tersebut meliputi perang dagang, fragmentasi perdagangan global, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, ASEAN perlu memiliki strategi besar untuk memperkuat ketahanan ekonomi kawasan agar mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Bacaan Lainnya

Beberapa langkah strategis yang didorong antara lain:

  • Meningkatkan perdagangan intra-ASEAN
  • Mengurangi hambatan non-tarif
  • Memperkuat kerja sama ekonomi digital
  • Mendorong transisi ekonomi hijau
  • Memperkuat ketahanan pangan dan energi

Selain itu, Suahasil juga menekankan pentingnya kebijakan makroekonomi yang prudent atau hati-hati dalam menjaga stabilitas ekonomi kawasan.

Wamenkeu Suahasil menegaskan bahwa ASEAN harus tetap menjaga posisi strategis dan tidak terjebak masuk ke dalam salah satu blok geopolitik dunia.

BACA JUGA: Mei 2026,  Investor Pasar Modal Capai 26,7 Juta, 54 Persen Berusia di Bawah 30 Tahun

Menurutnya, ASEAN justru harus mampu merangkul berbagai kekuatan ekonomi global seperti Amerika Serikat, China, India, Uni Eropa, hingga Jepang demi menjaga keseimbangan dan kepentingan ekonomi kawasan.

Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi kerja sama keuangan regional seperti Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM) dan local currency settlement untuk memperkuat ketahanan finansial ASEAN.

Dalam kesempatan tersebut, Suahasil menegaskan komitmen Kementerian Keuangan dalam memperkuat sinergi regional melalui kerja sama riset antara Kemenkeu, Dewan Ekonomi Nasional (DEN), dan ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO).

Menurutnya, kolaborasi riset menjadi instrumen penting dalam penyusunan kebijakan fiskal yang tepat dan responsif terhadap tantangan ekonomi global.

Selain membahas kondisi global, Wamenkeu juga memaparkan capaian ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid di tengah ketidakpastian dunia.

Pada kuartal pertama tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,61 persen dengan tingkat inflasi yang terkendali di angka 2,4 persen.

Sementara itu, defisit anggaran negara tetap terjaga pada level 2,9 persen.

“Kombinasi pertumbuhan ekonomi 5,6 persen dengan inflasi 2,4 persen ini saya berani jamin menjadi sumber kecemburuan bagi banyak negara lain,” kata Suahasil.

BACA JUGAKemenperin Gandeng MR.DIY, Perluas Akses Pasar IKM ke Ritel Modern Nasional

Wamenkeu Suahasil juga menyinggung target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, target tersebut sangat krusial untuk dicapai melalui peningkatan produktivitas nasional, pembangunan infrastruktur, serta penguatan kualitas sumber daya manusia.

Ia meyakini langkah tersebut akan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait