Rumiris menuturkan sejak kecil telah ditanamkan kepadanya pola pikir positif dan mencontoh perjuangan Muhammad Ali yang memulai karirnya dari bawah yang berhasil menjadi petinju kesohor di penjuru dunia.
Dari rasa kagum orangtuanya itulah, Rumiris terus menekuni olahraga tinju yang awalnya menekuni cabor karate di bawah arahan pelatih Sudarmadi.
Namun untuk lebih mengembangkan karier di dunia olahraga, Rumiris berpindah cabor dari cabor karate ke cabor Wushu yaitu, Sansho pada tahun 2003. Tapi pada tahun 2004 di PON tidak dipertandingkan nomor Sansho untuk wanita, makanya sejak saat itu berpindah ke cabor tinju yang juga di bawah arahan pelatih Sudarmadi.
Baca juga: Danwing III Paskhas Terima Suprise HUT ke-75 TNI Angkatan Udara Dari Wakapolda Sumut
Sejak itulah, Rumiris pun menggeluti olahraga tinju dengan berlatih serius di sasana tinju FKKPI yang beralamat di Jalan Kertas Medan tersebut.
“Di sasana itu saya digembleng dan digenjot serta dibina agar menjadi petinju putri yang tangguh dan andalan serta menanamkan jiwa menjadi satria di luar dan di dalam ring. Apalagi saya juga berpikir, cowok aja bisa kenapa cewek tidak bisa. Apalagi tidak ada perbedaan antara karate dengan tinju. Hanya saja, kalau karate tangan tidak terlalu naik, sedangkan tinju kedua tangan harus naik ke atas,” terang wanita yang sudah berumah tangga sejak 2014 silam.
Baca juga: Toko Kelontong BKAD Nibong di Resmikan oleh Wakil Bupati
Dari keseriusan inilah, Rumiris mencoba ikut kejuaraan tinju Formaisa di Jakarta pada tahun 2004. Dan pada kejuaraan itu, Rumiris keluar sebagai juara pertama sekaligus keluar sebagai petinju terbaik wanita asal Sumut.
“Awalnya saya tak menyangka bisa keluar sebagai juara dan jadi petinju terbaik wanita. Apalagi di event tersebut, saya membawa nama baik Sumut dan senangnya luar biasa saat itu,” kenang ibu dari Grezia Prescilla Ruth Basani Pardede ini.








