Sungai Wampu Meluap, Ribuan Rumah di Langkat Terendam Banjir

Sungai Wampu Meluap, Ribuan Rumah di Langkat Terendam Banjir
SUNGAI WAMPU MELUAP: Debit air Sungai Wampu di Langkat meluap menyebabkan rumahwarga tergenang banjir. Pemkab Langkat dan relawan menyalurkan bantuan darurat. (FOTO: Dody Ariandi)

KLIKSUMUT.COM | LANGKAT ~ Hujan deras mengguyur Kabupaten Langkat selama empat hari berturut-turut atau sekitar 100 jam, menyebabkan debit air Sungai Wampu meluap. Banjir melanda Kecamatan Wampu dan Tanjung Pura, serta sembilan kecamatan lain, yaitu Berandan Barat, Babalan, Sei Lepan, Tanjung Pura, Gebang, Pematang Jaya, Pangkalan Susu, Besitang, dan Padang Tualang.

Data sementara mencatat sekitar 984 kepala keluarga (KK) terdampak di Berandan Barat, 500 KK di Besitang, dan 4.500 jiwa di Kecamatan Gebang. Warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai merasa cemas karena beberapa bagian tanggul mengalami kerusakan dan terancam jebol akibat aliran deras. Aktivitas pengerukan pasir yang tidak terkendali juga membuat benteng sungai rawan abrasi.

BACA JUGA: Ratusan Rumah Terendam Banjir di Langkat, Basarnas Evakuasi Warga

Pemerintah Bergerak Cepat Tanggulangi Banjir

Bupati Langkat, Syah Afandin, memastikan pemerintah menangani bencana dengan cepat dan menyeluruh. Ia menugaskan Sekda Amril bersama jajaran perangkat daerah untuk meninjau langsung wilayah terdampak.

Kepala Dinas Sosial Taufik Rieza, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Khairul Azmi, Kepala Dinas Kominfo Wahyudiarto, serta Kalak BPBD Langkat M. Ansyari, melakukan peninjauan langsung ke lokasi banjir.

Bacaan Lainnya

“Seluruh unsur pemerintah harus bergerak cepat merespons kondisi darurat, memastikan evakuasi berjalan aman, dan kebutuhan warga segera terpenuhi,” ujar Wahyudiarto di Stabat, Kamis (27/11/2025).

BACA JUGA: Lintas Banda Aceh–Medan Lumpuh, Ketua TP PKK Aceh Tinjau Korban Banjir di Lhoksukon dan Aceh Timur

Dinas Sosial Kabupaten Langkat telah menyalurkan bantuan ke beberapa posko. Di Babalan, pihak posko menyalurkan beras 100 kg, mie instan 10 kotak, telur 10 papan, makanan anak 40 paket, dan 1 unit perahu karet.

Di Sei Lepan, pihak posko menyalurkan beras 50 kg, mie instan 5 kotak, telur 5 papan, dan 24 paket makanan anak. Sementara di Berandan Barat, bantuan berupa beras 50 kg, mie instan 5 kotak, telur 5 papan, makanan anak 40 paket, 1 unit tenda, serta 1 set peralatan dapur.

Pemkab Langkat juga menyiapkan lokasi pengungsian dan dapur umum bagi masyarakat yang harus meninggalkan rumah. Sekda Amril mengimbau warga tetap siaga dan segera menghubungi perangkat desa atau posko bantuan bila membutuhkan pertolongan.

BACA JUGA: Banjir Meluas di Pidie, Polres Pidie Kerahkan Perahu Karet Evakuasi Warga

“Pemerintah Kabupaten Langkat berkomitmen penuh memberikan perlindungan dan layanan terbaik bagi seluruh warga selama masa tanggap darurat,” tegasnya.

Warga dan Tokoh Agama Serukan Solidaritas

Tokoh agama setempat, Ustaz H. Sarpuddin, mengimbau warga tetap sabar dan saling membantu.

“Bencana ini adalah ujian. Mari kita perkuat doa, gotong royong, dan saling peduli. Pemerintah sudah berusaha, masyarakat juga harus menjaga ketertiban dan tidak panik,” ujarnya.

Pdt Rismon Purba dari Gereja Katolik Tanjung Pura menekankan pentingnya solidaritas lintas iman.

“Air tidak memilih siapa yang diterjang. Karena itu, mari kita bersatu, saling menolong, dan memastikan anak-anak serta lansia mendapat perlindungan,” katanya.

BACA JUGA: KAMMI Sumut Desak Pemerintah Tetapkan Status Darurat Bencana Nasional di Sumatera

Sementara itu, warga setempat meminta pemerintah bertindak lebih cepat.

“Kondisi tanggul sudah tinggal separuh, pecah dari bibir sungai. Kalau jebol, kota Langkat bisa kebanjiran,” ujar Zul, warga sekitar.

Aminah, seorang ibu rumah tangga di Gebang, mengaku sudah mengungsi ke balai desa.

“Anak-anak ketakutan, tapi kami bersyukur ada bantuan makanan. Harapan kami, pemerintah segera memperbaiki tanggul supaya tidak jebol,” ucapnya.

BACA JUGA: Banjir dan Longsor Tapteng: Tim SAR Masih Lakukan Pencarian Korban Tertimbun

Sejarah Catat Langkat Rawan Banjir

Sejarawan lokal Wulan mengingatkan, banjir merupakan persoalan historis dan ekologis di Langkat.

“Sejak masa kolonial, Kabupaten Langkat telah menjadi wilayah rawan banjir. Sungai-sungai besar seperti Wampu dan Batang Serangan kerap meluap, merendam perkebunan tembakau dan kampung-kampung Melayu di sekitarnya,” katanya.

Wulan menambahkan, fenomena banjir telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Langkat.

“Sejarah ini mengingatkan kita bahwa banjir bukan sekadar bencana tahunan, melainkan persoalan ekologis dan sosial yang memerlukan kesadaran bersama: menjaga sungai, melestarikan hutan, dan membangun tata ruang yang berpihak pada keselamatan masyarakat,” tutup Wulan (KSC)

REPORTER: Dody Ariandi

Pos terkait