Setengahnya Anak-Anak, Varian Delta Dominasi Kasus COVID-19 di Yogya

Setengahnya Anak-Anak, Varian Delta Dominasi Kasus COVID di Yogya
Seorang dokter merawat bayi yang dites positif virus corona COVID-19 di sebuah rumah sakit di Bogor pada 23 Juni 2021. Di Yogya, varian delta mendominasi kasus COVID, setengahnya anak-anak. (Foto: AFP/Aditya Aji)

YOGYAKARTA | kliksumut.com Beberapa hari ini, Yogyakarta mengalami peningkatan jumlah kasus positif dan kematian yang luas biasa dalam beberapa pekan terakhir. Varian Delta terkonfirmasi menjadi penyebab angka-angka itu terus naik tanpa dapat dikendalikan. Sembilan dari dua puluh kasus yang diiuji, terjadi pada anak-anak.

Dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com bahwa Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengungkapkan hal tersebut berdasarkan data hasil uji Whole Genome Sequencing (WGS) SARS-COV-2, yang dilakukan Laboratorium WGS Pokja Genetik FKKMK UGM. Uji sampel ini menggunakan metode Amplicon-based dari spesimen COVID-19 dengan 25 sampel dari berbagai wilayah di DIY.

“Perlu kami sampaikan bahwa hasil pemeriksaan WGS terhadap 25 spesimen, yang terdiri atas 15 orang dewasa dan 10 anak-anak, mengindikasikan bahwa 20 orang telah terpapar varian Delta, dengan rincian 11 kasus pada orang dewasa dan sembilan kasus pada anak-anak,” kata Sultan dalam keterangan resmi tertulis yang disampaikan ke media, Sabtu (17/7) petang.

Lebih rinci disebutkan, pengambilan sampel spesimen dilaksanakan pada Juni, dan uji sampel dilaksanakan mulai 5 Juli 2021. Hasil tes dilaporkan oleh Dekan FKKMK UGM, kepada Menteri Kesehatan pada 10 Juli 2021. Pemda DIY sendiri menerima laporan dan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan pada 14 Juli 2021.

BACA JUGA: Kembali lagi, AS Kirim Tambahan 1,5 Juta Dosis Vaksin Moderna

Pemda DIY memastikan, pemeriksaan WGS melibatkan spesimen pasien terkonfirmasi positif yang memenuhi persyaratan, dan telah merujuk pada pedoman yang ditetapkan Badan Litbangkes Kemenkes.

Kriteria yang ditetapkan adalah pertama, melibatkan orang yang baru mendarat dari negara asing. Kedua, spesimen diambil dari lokasi atau komunitas masyarakat tertentu yang mengalami fenomena penularan secara cepat dan telah menginfeksi kelompok yang sebelumnya tidak masuk kategori rentan, semisal anak-anak. Ketiga, orang yang sudah divaksin tetapi terinfeksi. Keempat, penyintas COVID-19 yang mengalami re-infeksi. Kelima, kasus kematian COVID-19 dengan komorbid penyakit menular lain, seperti HIV, TBC dan lain-lain.

“Merujuk pada pesatnya pertambahan kasus positif COVID-19 di DIY secara merata akhir-akhir ini, tidak menutup kemungkinan telah terjadi penyebaran varian mutasi virus tersebut,” lanjut Sultan.

Pos terkait