KLIKSUMUT.COM | LANGKAT – Setelah digemparkan oleh kemunculan harimau Sumatera, warga Dusun Aras Napal, Desa Bukitmas, Kecamatan Besitang, kini dihantui ancaman baru: kawanan gajah liar yang keluar dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).
Sebanyak 13 ekor gajah liar dilaporkan memasuki kawasan perkebunan warga pada Kamis malam (11/9/2025) dan menyebabkan kerusakan parah. Tanaman sawit, kelapa, dan pisang jadi sasaran amukan satwa bertubuh besar ini. Dalam waktu semalam, luas kerusakan mencapai setengah hektare lahan produktif.
“Kami sangat resah. Gajah-gajah itu masuk ke kebun dan menghancurkan tanaman kami,” kata Rosmita Manjorang, warga Aras Napal, saat ditemui pada Jumat (12/9/2025).
Sekretaris Desa Bukitmas, Musa Tarigan, menjelaskan bahwa perambahan hutan dan kerusakan habitat alami gajah di TNGL menjadi penyebab utama konflik ini. Tekanan terhadap habitat membuat satwa liar terdorong keluar dari hutan untuk mencari makan.
BACA JUGA: Jaga Stabilitas Kamtibmas, Polres Karo Patroli Skala Besar
“Gajah tidak hanya merusak sawit yang baru tanam, tapi juga pohon-pohon sawit yang sudah besar. Mereka tumbangkan semuanya,” ujar Musa.
Meski warga sudah berulang kali melaporkan kejadian ini ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BKSDAE), belum ada solusi jangka panjang yang diterapkan. Gajah masih terus datang dan menyebabkan kerugian.
“Kami sudah lapor berkali-kali, tapi belum ada tindakan yang benar-benar menyelesaikan masalah,” keluh Rosmita.
Serangan gajah liar di Aras Napal menambah deretan konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah TNGL. Sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi di Desa Mekar Makmur, Langkat, yang bahkan menyebabkan seorang petani mengalami luka serius akibat diserang gajah.
Para ahli konservasi menyebut bahwa jalur jelajah satwa kini tumpang tindih dengan aktivitas manusia, dan ini menjadi pemicu utama konflik yang tak kunjung usai.
BACA JUGA: Terjerat Kasus Dugaan Korupsi Dana Desa: Nasib 13 Kades di Tapteng “di Ujung Tanduk”
Insiden ini menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya soal menjaga satwa, tapi juga soal melindungi keselamatan dan mata pencaharian masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.
Diperlukan kolaborasi nyata antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat lokal untuk mencari solusi berkelanjutan. Tanpa langkah serius, konflik semacam ini akan terus berulang dan mungkin, menelan korban jiwa. (KSC)
REPORTER: Dody Ariandi








