KLIKSUMUT.COM | LABUHANBATU – Di tengah kebijakan pemerintah yang terus memperluas akses pendidikan bagi seluruh anak Indonesia, masih ada keluarga di Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu, yang menghadapi persoalan paling mendasar: tiga dari lima anak dalam satu keluarga disebut tidak pernah mendapatkan pelayanan pendidikan.
Ketiga anak tersebut berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi miskin. Rendahnya kemampuan pendapatan keluarga menjadi salah satu persoalan yang membuat akses mereka terhadap pendidikan tidak terpenuhi.
Kondisi keluarga semakin berat karena orang tua disebut mengalami gangguan kesehatan berupa kebutaan mata. Persoalan lain juga muncul dari sisi administrasi kependudukan, karena keluarga tersebut disebut belum pernah memiliki dokumen administrasi keluarga yang semestinya menjadi bagian penting dalam mengakses berbagai layanan dasar pemerintah.
BACA JUGA: Karhutla Dekat Permukiman, Polres Labuhanbatu Gerak Cepat Kerahkan Water Canon
Kondisi ril ini pertama kali ditemukan Ketua Grib Jaya Labuhanbatu, Ahmad Putra Lubis setelah menerima informasi dari masyarakat. Hatinya bergetar untuk bergegas memberikan bantuan.
“Kita terpanggil untuk memberi perhatian, empati dan kepedulian,” ujarnya, Jumat (11/9/2026).
Menerima informasi pilu itu, pihaknya kata Putra, Selasa (8/9/2026) langsung menyambangi kediaman keluarga Zainul (43) dan Sartika istrinya di bilangan kelurahan Padang Bulan, Rantau Utara, Labuhanbatu.
Di sana, mereka memperoleh informasi jika anak pertama pasutri itu berusia 11 tahun, anak kedua 9 tahun dan ketiga 7 tahun yang semestinya harus mengenyam pendidikan.
Namun, karena ketiadaan administrasi kependudukan sipil hak ketiganya tidak tercapai. Sebab, Zainul masih terdata sebagai warga Kabupaten Rokan Hilir, Riau dan Sartika sebagai warga Kabupaten Simalungun.
Kondisi itu sudah berbilang sepuluh tahun terakhir sejak mereka mengarungi hidup bersama membina rumah tangga.
“Sudah 10 tahun mereka tinggal di Rantauprapat. Dan selama itu mereka tidak terdata sebagai warga Labuhanbatu,” jelasnya.
Selama ini, Zainul bekerja lepas. Sebagai pengatur lalu lintas di persimpangan Hoklie jalan By Pas dan jalan HM Said.
Tapi, kondisi Zainul selama tiga bulan terakhir, miris. Kedua bola matanya mengalami kebutaan karena katarak yang parah. Sehingga kebutuhan hidup mereka mengharap belas kasih warga yang peduli.
Tapi, kehadiran Grib Jaya Labuhanbatu mampu mengubah kondisi itu. Setelah menyerahkan sejumlah kebutuhan hidup sehari-hari untuk keluarga itu. Mereka, aku Putra menggerakkan jaringan kemitraan di lapangan untuk saling bersinergi memberikan bantuan.
“Ya, kita hubungi sejumlah pihak. Agar bersama memberikan bantuan dan kepedulian,” ujarnya.
Kemudian, ketika menghubungi pihak Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (DKCP) Labuhanbatu, Rabu (9/9/2026) bersedia membantu untuk menyelesaikan persoalan administrasi kependudukan keluarga ini.
“Setelah nanti keluarga KK dan KTP pasutri ini, kita akan bawa dan urus keperluan administrasi perobatannya di RSUD Rantauprapat,” tambahnya.
Sedangkan persoalan pendidikan ketiga putri mereka, Dinas Pendidikan Labuhanbatu akan mencarikan solusi untuk persoalan pendidikannya.
BACA JUGA: Demi Mempererat Hubungan Silaturahmi Dengan Warga, Polres Labuhanbatu Gelar Kegiatan Jumat Curhat
Kasus ini menjadi potret bahwa persoalan anak tidak bersekolah bukan semata-mata soal ada atau tidaknya gedung sekolah. Kemiskinan, kondisi kesehatan orang tua, serta ketiadaan administrasi kependudukan dapat menjadi mata rantai yang akhirnya membuat anak kehilangan hak memperoleh pendidikan.
Kasus ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan administrasi kependudukan saling berkaitan.
Masalah ini, akan menjadi perhatian bersama. Sejauh mana kepedulian kaum berkemampuan dalam hal ekonomi untuk bersedia menyisihkan materi untuk tetangga yang membutuhkan. (KSC)
Reporter: Fajar Dame Harahap








