
JAKARTA | Kliksumut.com – Popularitas dari calon presiden dari petahana yang diusung Partai Republik, Donald Trump turun tajam, dibandingkan lawan tandingnya dari Partai Demokrat, Joe Biden naik unggul 13 poin.
Hal ini terbukti dari hasil tersebut diketahui dari jajal pendapat dari Reuters-Ipsos melakukan survei.
Survei tersebut, 48 persen responden mengatakan mereka akan memilih Biden, dan 35 persen lainnya mengatakan akan mendukung Trump seorang petahana.
Donald Trump mengetahui perolehan suaranya menurun dalam jajak pendapat di beberapa bulan terakhir. Penurunan itu diduga sebagai kritik atas penanganannya terhadap pandemi virus corona, dan tanggapannya terhadap aksi protes nasional atas terbunuhnya George Floyd di tangan polisi dan rasisme kepada kulit hitam.
Baca juga : Agar Menangi Pilpres AS, Trump Minta Bantuan Presiden China
Melansir dari The Hill, Kamis (18/6/2020), 55 persen responden mengatakan mereka tidak puas dengan penanganan pandemi ala Trump yang telah menewaskan lebih dari 115.000 warga Amerika. Hanya 40 persen responden yang menyetujui kebijakan yang diambil Trump di masa krisis.
Sebaliknya, sekitar dua pertiga dari responden yang disurvei ikut bersimpati terhadap aksi protes yang telah berlangsung selama lebih dari tiga pekan.
Secara terbuka, Trump mengambil sikap agresif terhadap aksi protes. Memang di beberapa wilayah demonstrasi itu memicu aksi penjarahan dan perusakan properti.
Trump berulang kali juga mengancam akan mengerahkan militer untuk meredam kerusuhan, yang dinilai semakin memperkeruh suasana.
Menurut sebuah jajak pendapat terbaru, dukungan untuk Trump di kalangan Partai Republik juga menurun sebanyak 13 poin sejak Maret lalu.
Selama proses pemakzulan, hanya 38 persen responden yang menyetujui kinerja Trump. Angka tersebut menjadi tingkat dukungan terendah kepada Trump sejak November 2019.
Baca juga : Donald Trump Tidak Lakukan Lockdown Walau Virus Corona Meluas
Aspek menguntungkan Trump dalam jajak pendapat ada pada ekonomi, di mana 43 persen responden mengatakan kinerja Trump sangat baik bagi perekonomian. Sementara 38 persen lainnya memilih Biden.
Jajak pendapat yang dilakukan sejak 10 hingga 16 Juni itu mensurvei sebanyak 4.426 pemilih terdaftar dan memiliki margin kesalahan sebesar dua poin persentase.
sumber : cnnindonesia.com








