Perang Memanas, Israel Batasi Media: Sensor Ketat Hantui Jurnalis Lokal

Perang Memanas, Israel Batasi Media: Sensor Ketat Hantui Jurnalis Lokal
Perang Israel-Iran memanas, tetapi jurnalis di Israel justru dibungkam. (kliksumut.com/ist)

Perang Israel-Iran memanas, tetapi jurnalis di Israel justru dibungkam. Sensor militer perintahkan media lokal bungkam soal dampak serangan Iran. Inilah fakta terbaru pembungkaman pers di negara Zionis itu.

KLIKSUMUT.COM | ISRAEL – Ketegangan antara Israel dan Iran terus meningkat. Serangan balasan dari kedua belah pihak telah menyebabkan kehancuran parah dan memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Namun di balik hiruk-pikuk medan perang, situasi yang tak kalah mengkhawatirkan terjadi di lini media: pembungkaman kebebasan pers di Israel kian memburuk.

Pada Rabu (18/6/2025), militer Israel secara resmi mengedarkan surat edaran berisi pedoman penyensoran terbaru kepada seluruh organisasi media dan jurnalis di negara tersebut. Surat tersebut ditandatangani langsung oleh Brigadir Jenderal Kobi Mandelblit, Kepala Sensor Militer Israel, dan diberi judul tegas: “Rising Lion – Pedoman Sensor IDF untuk Liputan Serangan Iran.”

BACA JUGA: Siaga I di Iran, KBRI Tehran Siapkan Evakuasi WNI Di Tengah Konflik Memanas Israel-Iran

Aturan Baru: Dilarang Siar Lokasi Serangan dan Rudal

Dalam surat edaran itu, media dilarang keras untuk:
– Menyiarkan gambar lokasi terdampak perang, terutama dekat instalasi militer.
– Menggunakan drone atau kamera lebar untuk memperlihatkan area yang diserang.
– Menyebut lokasi pasti serangan rudal Iran di wilayah Israel.
– Menayangkan peluncuran rudal Israel atau intersepsi rudal Iran.
– Membagikan video media sosial tanpa ditinjau tim sensor militer.

Aturan ini langsung berdampak. Seorang fotografer ditangkap di pelabuhan Haifa pada Selasa (17/6) saat hendak memotret potensi serangan. Ini menunjukkan betapa ketatnya kontrol yang diberlakukan.

Sensor Militer Israel: Dari Mandat Inggris ke Rezim Zionis

Penyensoran bukan hal baru di Israel. Sejak masa Mandat Inggris atas Palestina pada 1945, praktik ini telah berlangsung dan dilembagakan sebagai hukum ketika Israel berdiri pada 1948. Tapi sekarang, pembatasan ini lebih ekstrem dan sistematis.

Media harus menyerahkan artikel yang “berpotensi menyangkut keamanan negara” untuk ditinjau oleh otoritas sensor sebelum tayang. Walau mereka tidak boleh menolak berita hanya karena menyudutkan tentara atau pejabat Israel, batasan yang dipakai sangat subjektif dan sering kali politis.

Fakta Mengerikan: 164 Jurnalis Gugur, Al Jazeera Diusir

Menurut Federasi Jurnalis Internasional (IFJ), sejak perang Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, sedikitnya 164 jurnalis tewas. Sebagian besar di Gaza, namun korban juga jatuh di Lebanon, Tepi Barat, bahkan Iran.

Israel bahkan mengusir Al Jazeera pada Mei 2024 dan memberikan sanksi kepada koran liberal Haaretz pada November 2024 karena dianggap terlalu kritis. Ini memperlihatkan betapa pemerintah Israel tak segan membungkam media yang menantang narasi resminya.

Data Mengejutkan: 1.635 Artikel Diblokir Sepanjang 2024

Majalah independen +972 melaporkan bahwa sensor militer Israel memblokir total 1.635 artikel dan menyensor sebagian 6.265 artikel lainnya hanya dalam satu tahun.

Artinya, rata-rata 21 intervensi berita per hari—angka yang dua kali lebih tinggi dibandingkan masa perang Gaza tahun 2014.

Israel Merosot di Indeks Kebebasan Pers Dunia

Menurut Reporters Sans Frontières (RSF), Israel kini menempati peringkat ke-112 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia. Posisi ini bahkan lebih buruk dari Haiti, Sudan Selatan, dan Chad.

“Sejak serangan 7 Oktober 2023, kebebasan pers dan pluralitas media di Israel semakin terkikis. Media kritis dibungkam, dan hanya saluran pro-pemerintah seperti Channel 14 yang mendapat akses pada narasumber elite,” ujar RSF.

Sensor Bukan Sekadar Perlindungan, Tapi Alat Politik

Banyak pihak menilai penyensoran Israel bukan semata demi keamanan nasional, tapi juga menjadi alat untuk mengontrol narasi perang, meredam kritik publik, dan menjaga citra pemerintah.

Topik yang disensor sangat luas: dari operasi militer, transaksi senjata, tahanan administratif, hingga hubungan luar negeri. Bahkan niat atau konsumsi konten dianggap “pro-terorisme” bisa dikenai hukuman berdasarkan amandemen UU Antiterorisme 2023.

BACA JUGA: Israel Terjebak Dua Front Perang: Biaya Konflik Iran-Gaza Capai Ratusan Triliun, Keuangan Negara Tercekik

Saat Senjata Bicara, Jurnalis Dibungkam

Di tengah kobaran perang dan serangan udara, pertarungan lain terjadi di ruang redaksi dan halaman berita. Saat publik dunia ingin mengetahui kebenaran di medan perang Israel-Iran, suara jurnalis lokal justru dibungkam oleh sistem penyensoran ketat negara mereka sendiri.

Kebebasan pers, yang seharusnya menjadi fondasi demokrasi, tampaknya menjadi korban pertama dalam konflik ini. (KSC/CNBC)

Pos terkait