Pencalonan RI Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2036 Berpotensi Timbulkan Dampak Negatif

Pencalonan RI Jadi Tuan Rumah Olimpiade 2036 Berpotensi Timbulkan Dampak Negatif
Cincin Olimpiade selama upacara penutupan Olimpiade Musim Dingin 2022, 20 Februari 2022, di Beijing. (Foto: P)

Indonesia menyatakan siap untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade musim panas pada 2036. Namun, pencalonan menjadi tuan rumah perhelatan olahraga kelas dunia itu dinilai bakal menghadirkan banyak dampak negatif.

kliksumut.com Ambisi Indonesia untuk menjadi tuan rumah pada Olimpiade 2036 diyakini akan dihantui oleh rentetan dampak buruk. Berkaca pada pengalaman dari berbagai kota yang menjadi tuan rumah Olimpiade, ajang olahraga multi-event itu kerap menimbulkan masalah baru, mulai dari anggaran yang membengkak dan menyebabkan krisis keuangan hingga infrastruktur yang terbengkalai.

Pemerhati olahraga nasional, Ainur Rohman, mencontohkan pada proses bidding Olimpiade 2024 di Paris, ada lima kota yang mengajukan diri sebagai tuan rumah. Kota-kota tersebut adalah Roma, Budapest, Hamburg, Paris, dan Los Angeles. Namun, sebelum penentuan tuan rumah Olimpiade terjadi, tiga kota yaitu Roma, Budapest, dan Hamburg mengundurkan diri sebagai calon tuan rumah Olimpiade 2024. Saat itu Roma mengundurkan diri karena alasan keuangan. Sedangkan, Budapest dan Hamburg, mereka beralasan para warganya tak sepakat untuk menggelar Olimpiade di kota mereka.

“Kenapa itu terjadi? Karena warganya tahu bahwa Olimpiade itu tidak menguntungkan mereka secara langsung. Jadi daripada uang anggaran digunakan untuk pesta olahraga. Lebih baik dipakai untuk yang lain misalnya kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur lainnya berhubungan dengan kepentingan publik,” kata Ainur yang juga merupakan jurnalis olahraga kepada VOA, Jumat (18/11/2022).

BACA JUGA: Atlet Olimpiade Tokyo 2020 Diberikan Bonus Presiden, Peraih Emas Dapat Rp5,5 Miliar

Berkaca dari pengalaman beberapa kota tersebut, maka Indonesia pun dinilai belum perlu untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2036.

“Kita masih belum siap dan memang menurut saya menjadi tuan rumah Olimpiade tidak memiliki dampak yang sehebat itu. Jadi dampak Olimpiade akan mendatangkan keuntungan yang besar lewat sektor pariwisata dan coverage media menjadi besar itu hal yang mitos. Itu tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan oleh penyelenggara,” ucapnya.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) di sela-sela gelaran KTT G20 di Bali, menyampaikan bahwa Indonesia siap menjadi tuan rumah penyelenggaraan pesta olahraga terakbar di dunia yaitu Olimpiade pada tahun 2036. Presiden menyiapkan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, sebagai tempatnya.

Pembengkakan Dana

Menurut studi Universitas Oxford tahun 2016, setiap negara tuan rumah Olimpiade sering kali harus merogoh kocek lebih dalam karena perhelatan tersebut menghabiskan dana yang jauh lebih besar daripada alokasi semula. Olimpiade 2012 di London, Britania Raya, misalnya, awalnya hanya menganggarkan biaya $5 miliar, tetapi akhirnya membengkak hingga $18 miliar. Lalu, Olimpiade musim dingin 2014 di Sochi, Rusia, menggerus kantong negara tersebut hingga $51 miliar dibandingkan perhitungan awal sebesar $10,3 miliar. Hal serupa juga terjadi di gelaran Olimpiade musim panas 2016 di Rio de Janeiro, Brazil, di mana anggaran jadi meroket ke $20 miliar dari alokasi $14 miliar.

“Jadi selalu overbudget karena sebuah kota yang menjadi tuan rumah Olimpiade itu akan selalu membangun minimal fasilitas untuk 30 cabang olahraga. Meskipun tidak membangun baru, tapi sebuah kota penyelenggara itu selalu memperbaiki fasilitas dan mempersiapkan tempat pembukaan serta penutupan seremoni, itu sangat mahal,” ungkap Ainur.

Pos terkait