Menelisik Pilkada Sumut 2024

Menelisik Pilkada Sumut 2024
Muhammad Zikri Asmara S.I.Kom, M.I.Kom

Oleh Muhammad Zikri Asmara S.I.Kom, M.I.Kom

MEDAN | kliksumut.com Tanpa disadari kita hampir berada di pertengahan tahun 2022, jika melihat waktu menuju pilkada serentak 2024 dengan kata lain para figur atau sosok yang ingin mencalonkan diri menjadi orang nomor 1 di Sumut hanya memiliki waktu 1 tahun lebih untuk melakukan pendekatan dengan partai-partai pengusung atau elemen masyarakat lainnya untuk mendapatkan dukungan.

Menariknya di pemilu 2024 ini semua kemungkinan bisa terjadi karena kita bisa lihat keadaan menjadi netral kembali seluruh partai bisa saja berkoalisi tanpa melihat keadaan yang ada saat ini.

Sekarang mari kita menuju kampung halaman Sumatera Utara, sudah mulai banyak isu warung kopi yang beredar figur-figur yang mulai memperlihatkan hasratnya untuk turut berkontestasi pada Pilkada Sumut mendatang apakah Sumut 1 atau Sumut 2.

BACA JUGA: AHY Lantik Lokot Nasution Jadi Ketua DPD Demokrat Sumut

Tapi pertama-tama mari kita lihat dari sosok incumbent yang hari ini masih memimpin Sumut, ada Edy Rahmayadi yang hari ini masih menjadi Gubernur Sumut berpasangan dengan Musa Rajeckshah yang disebut pasangan Eramas dengan koalisi besar pada pilkada lalu hanya PDIP dan PPP yang mengusung calon lain.

Hari ini Pak Edy menjadi sosok yang paling memungkinkan untuk kembali bertarung di pilkada 2024 mendatang, karena bagaimanapun sosok incumbent pasti memiliki peluang lebih besar daripada figur lain jika tidak ada intervensi yang terjadi dan partai diberi kebebasan mendukung.

Mungkin secara kasat mata pak Edy belum memperlihatkan gelagat kembali bertarung untuk periode kedua, melihat pak Edy juga figur non partai yang tidak berada di partai manapun, akan menjadi “pekerjaan rumah” yang cukup berat untuk mendapat dukungan dari partai terlebih partai tersebut juga memiliki calon dari partai mereka sendiri.

Namun hari ini jika melihat partai non-koalisi ada PKS dan Demokrat yang bisa menjadi peluang besar untuk pak Edy kembali diusung, dengan kata lain jika Pak Edy mendapat dukungan dari PKS dan Demokrat itu sudah mencukupi untuk menjadi calon gubernur dengan treshold 20 persen yang dimiliki PKS 11 kursi dan Demokrat 9 kursi di DPRD Sumut.

Kita melihat sampai hari ini dari PKS dan Demokrat sendiri belum ada memperlihatkan kader mereka yang akan bertarung, namun apabila pasangan Eramas akan berjalan masing-masing pada periode kedua dengan dukungan PKS dan Demokrat kepada pak Edy bisa saja Pak Edy akan berpasangan dari salah satu kader PKS atau Demokrat untuk menjadi wakilnya, namun begitu manuver politik apa saja bisa terjadi sampai detik-detik waktu pendaftaran telah tiba.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: FPDI Perjuangan Dukung Jaksa Agung Bersih-Bersih di Korps Adhiyaksaa

Di sisi lain ada Musa Rajeckshah yang hari ini menjadi Wakil Gubernur Sumut yang masa baktinya akan selesai pada September 2023 mendatang, Musa Rajeckshah yang lebih dikenal disapa Bang Ijeck cenderung lebih memperlihatkan pergerakan politiknya untuk melanjutkan periode kedua menjadi Gubernur Sumut.

Langkah awal Bang Ijeck menjadi ketua Golkar Sumut seperti memberi sinyal bahwa Bang Ijeck akan bertarung menjadi Sumut 1 pada Pilkada 2024 mendatang, dengan memiliki partai sebesar Golkar yang memiliki 15 Kursi di DPRD Sumut sudah menjadi modal awal untuk bang Ijeck bertarung di panggung Pilkada Sumut 2024 nanti.

Ditambah Bang Ijeck memiliki kedekatan emosional seperti Nasdem yang dimana Ketua Umum Surya Paloh sendiri mengatakan di beberapa kesempatan yang lalu bahwa Bang Ijeck selain Memiliki Partai Golkar beliau juga memiliki Partai Nasdem.

Lalu ada juga Partai Gerindra yang hari ini memiliki posisi Strategis sebagai Partai dengan jumlah kursi 15 di DPRD Sumut yang menunjuk Harun Mustofa sebagai Wakil Ketua DPRD dari Partai Gerindra.

Kita ketahui bersama hubungan kedekatan Bang Ijeck dengan Harun Mustofa sudah terbangun sejak lama bahkan sebelum mereka sama sama terjun ke panggung politik.

Dengan demikian penulis berpendapat Bang Ijeck akan maju bertarung di Pilkada Sumut 2024 dengan dukungan Partai Golkar, Nasdem ditambah Gerindra apabila semuanya disetujui oleh pimpinan pusat partai.

Bisa saja menggandeng wakil gubernurnya seperti Harun Mustafa Nasution dari Gerindra atau seperti Bakhtiar Sibarani dari kader Nasdem Bupati Tapteng yang masa jabatannya akan habis di bulan Mei 2022 ini.

BACA JUGA: Disambut Adat Melayu, AHY dan Istri Tiba di Sumut Mendadak Biru

Tak luput juga dari pandangan kita bahwa seperti Partai Hanura Sumut yang hari ini memilki 6 Kursi di DPRD Sumut yang saat ini dipimpin Kodrat Shah sebagai Ketua Hanura Sumut yang baru juga diangkat menjadi Sekjend DPP Hanura adalah paman dari Bang Ijeck sendiri sangat memungkinkan untuk Hanura juga turut mendukung Bang Ijeck di kontestasi Pilkada Sumut mendatang untuk memperkuat amunisi dukungan partai, tapi kembali lagi apapun bisa terjadi dalam politik saat ini.

Dengan begitu penulis berpendapat dua pasang calon yang akan bertarung di Pilkada Sumut nanti, Pak Edy dengan PKS – Demokrat, lalu Bang Ijeck dengan dukungan Golkar, Nasdem, Gerindra dan Hanura.

Kini bersisa PDIP, PAN, PKB, PPP, dan Perindo yang belum terlihat figur dari masing-masing partai, terlebih seperti PKB 2 Kursi PPP 2 kursi dan Perindo 1 kursi berat rasanya untuk masing masing partai dapat mengusung kader mereka karena jumlah kursi yang cenderung kecil dan tidak dapat memenuhi treshold 20 persen, terkecuali seperti PDIP yang mendominasi sebagai Partai pemenang dengan jumlah 19 kursi bisa saja PDIP tinggal menggaet partai seperti PPP, PKB atau Perindo karna hanya membutuhkan 1 kursi untuk memenuhi treshold 20 persen.

Ada juga PAN yang memiliki 8 kursi namun demikian tidak juga memperlihatkan figurnya sampai saat ini di Sumut, padahal kalau dilihat jumlah kursi PAN cukup strategis dengan berkoalisii pada partai yang mungkin dapat menggenapkan kebutuhan treshold tersebut.

Tapi mari kita melihat pada partai pemenang yaitu PDIP, partai yang sangat memungkinkan menggaet partai apa saja untuk berkoalisi dengan kekuatan 19 kursi DPRD saat ini, namun jika kita lihat sepertinya PDIP sendiri belum menunjukan gelagat calon mereka, beda seperti Golkar yang sudah mulai menggaungkan bang Ijeck.

Tapi kita bisa lihat di Pilkada sebelumnya PDIP selalu memberi kejutan di masa-masa last minute pendaftaran calon. Kalau melihat dari kader sendiri PDIP memiliki Bobby Nasution yang hari ini menjadi Walikota Medan dan juga notabene menantu Presiden Jokowi, tapi lagi-lagi kita lihat di 2024 ini masa jabatan Presiden Jokowi juga akan habis dan seluruh situasi politik akan kembali netral, apakah PDIP dapat melihat bahwa Bobby Nasution sudah cukup siap untuk bertarung di pilkada Sumut 2024 apakah itu Sumut 1 atau Sumut 2.

Namun jika dilihat saat ini PDIP enggan rasanya untuk mengusung kader mereka menjadi orang nomor 2 di Sumut jika dilihat dari kekuatan partai moncong putih hari ini di Sumut, tapi di sisi lain PDIP bisa saja mengusung figur potensial non-kader untuk mereka dukung di Pilkada nanti.

BACA JUGA: Edy Puji Kepribadian dan Pengetahuan AHY

Kita bisa lihat seperti Komjen Agus Ardianto, putra Jawa yang banyak menghabiskan masa tugasnya di Sumatera Utara sampai beliau menjadi Kapolda Sumut dan kini menduduki jabatan Kabareskrim Polri, melihat di 2024 juga nantinya Jendral Agus juga akan menjelang masa pensiunnya sebagai Polisi, sangat memungkinkan untuk Agus Ardianto turut serta meramaikan kontestasi di pilkada Sumut, terlebih lagi PDIP mungkin saja tidak mau mengulangi kegagalan beberapa kali di Pilkada Sumut dengan mengusung pasangan pelangi.

Bisa saja PDIP akan mengusung Agus Ardianto dengan figur wakil mungkin dari kalangan masyarakat Melayu untuk penyeimbang suara wilayah pantai timur Sumatera Utara.

Dengan demikian, penulis berpendapat pada Kontestasi Pilkada Sumut 2024 nanti akan melahirkan 3 poros koalisi yaitu Poros Edy Rahmayadi (Demokrat – PKS), Poros Ijeck ( Golkar, Gerindra, Nasdem, Hanura), Poros Agus Ardianto atau Bobby Nasution (PDIP, PKB, PPP, Perindo), lalu PAN tinggal memilih poros yang mempunyai potensi untuk memenangkan kontestasi.

Sekali lagi ini hanya analisa warung kopi seorang penulis yang memiliki antusiasme terhadap konstalasi politik di Sumut, karena apapun ceritanya politik adalah hal yang sangat dinamis, apapun bisa terjadi dalam hal politik.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahhan diskusi kita bersama untuk dapat melihat siapa yang paling pantas untuk menjadi pemimpin Sumut berikutnya. (Penulis Dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU)

Pos terkait