Menag Ajak Perluas Makna Silaturahmi: Dari Sesama Manusia hingga Alam Semesta

Menag Ajak Perluas Makna Silaturahmi: Dari Sesama Manusia hingga Alam Semesta
Menteri Agama Nasaruddin Umar

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat untuk memperluas pemahaman tentang silaturahmi dalam perspektif yang lebih utuh, tidak hanya terbatas pada hubungan antar manusia, tetapi juga mencakup relasi dengan alam semesta, makhluk hidup lain, hingga dimensi spiritual.

Pesan tersebut disampaikan dalam tausyiah pada acara halalbihalal Keluarga Besar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin (30/3/2026).

Bacaan Lainnya

Menurut Menag, tradisi Halalbihalal yang telah mengakar kuat di Indonesia memang tidak memiliki makna literal dalam literatur klasik. Namun, praktik ini dimaknai sebagai bentuk silaturahmi yang melengkapi ibadah puasa Ramadan dan perayaan Idulfitri.

Dalam pandangannya, silaturahmi memiliki dimensi ekoteologis, yakni keterhubungan antara manusia, Tuhan, dan seluruh ciptaan. Ia menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, tidak ada istilah “benda mati”.

“Semua unsur alam, termasuk pasir, tumbuhan, hingga benda di sekitar manusia, memiliki dimensi kehidupan dan senantiasa bertasbih kepada Tuhan,” ujarnya.

Ia menambahkan, perlakuan manusia terhadap alam akan berdampak nyata. Tanaman yang dirawat dengan kasih sayang dapat tumbuh lebih baik, bahkan benda seperti mesin bisa lebih awet jika diperlakukan dengan penuh perhatian.

Menag juga menekankan pentingnya membangun empati terhadap seluruh makhluk hidup, termasuk hewan. Ia mencontohkan kisah Nabi Muhammad yang menunjukkan kasih sayang kepada seekor kijang sebagai bukti bahwa hewan memiliki emosi dan mampu merespons kedekatan manusia.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa silaturahmi tidak boleh dibatasi oleh agama maupun kebangsaan. Nilai persaudaraan universal dalam ajaran Al-Qur’an harus dimaknai sebagai penghormatan terhadap kemanusiaan secara luas.

BACA JUGA: Wamenag Tinjau Masjid Ramah Pemudik di Sumut

Dalam dimensi spiritual, Menag menjelaskan bahwa hubungan antar manusia tidak terputus oleh kematian. Ia menggambarkan kematian sebagai perpindahan “terminal” kehidupan, di mana relasi tetap dapat dijalin melalui doa dan amal.

“Doa itu ibarat parsel yang kita kirimkan kepada mereka yang telah wafat,” jelasnya, menggambarkan hubungan antara dunia fana dan kehidupan setelah mati seperti alam kubur, barzah, hingga akhirat.

Silaturahmi, lanjutnya, juga mencakup hubungan dengan makhluk gaib dan Tuhan. Ia menekankan pentingnya membuka ruang dialog spiritual, sebagai bentuk komunikasi yang tidak terputus antara manusia dengan Sang Pencipta.

Menurutnya, konsep ini menjadi pelajaran penting agar manusia tidak menutup diri dari komunikasi dan dialog, baik secara sosial maupun spiritual.

Menariknya, Menag juga menyinggung keterkaitan antara ajaran Al-Qur’an dengan temuan ilmiah modern. Ia mencontohkan fenomena alam seperti kilat yang dapat menyuburkan tanah, serta metode penyimpanan hasil pertanian yang diajarkan Nabi Yusuf, yang terbukti efektif secara ilmiah.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam kitab suci memiliki relevansi kuat dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Dalam kerangka ekoteologi, manusia dipandang sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Oleh karena itu, memperbaiki hubungan dengan alam menjadi sebuah kebutuhan, bukan sekadar pilihan.

BACA JUGA: Menag: Idulfitri 1447 H Jadi Momentum Perkuat Empati dan Kepedulian Sosial

Menag berharap tradisi halalbihalal tidak berhenti sebagai seremoni semata, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki lingkungan yang rusak serta memperkuat hubungan harmonis dengan seluruh ciptaan.

“Silaturahmi sejati adalah membangun hubungan dengan semua yang ada—yang terlihat maupun tidak, yang hidup maupun yang telah tiada,” pungkasnya.

Dengan pendekatan ini, konsep ekoteologi diharapkan tidak lagi bersifat abstrak, melainkan menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari: merawat alam, menghargai kehidupan, dan membangun dialog spiritual sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait