KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat transformasi sektor manufaktur menuju industri hijau melalui penguatan sistem pengukuran, pelaporan, validasi, dan verifikasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Langkah strategis ini menjadi bagian penting dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global yang semakin menuntut aspek keberlanjutan.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa tata kelola emisi yang transparan dan sesuai standar internasional menjadi fondasi utama dalam membangun industri nasional yang berkelanjutan.
“Verifikasi emisi GRK merupakan bagian penting dalam membangun industri nasional yang berdaya saing global, berkelanjutan, serta adaptif terhadap tuntutan pasar internasional. Langkah ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mencapai target Net Zero Emission dan penguatan daya saing industri nasional di pasar global,” ujar Agus Gumiwang di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Transformasi menuju industri hijau menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui penguatan sistem verifikasi emisi, perusahaan manufaktur diharapkan mampu mengidentifikasi, mengukur, serta mengurangi jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas produksinya.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), Emmy Suryandari, menyatakan bahwa pengembangan lembaga validasi dan verifikasi emisi yang independen dan terakreditasi menjadi langkah penting dalam mempercepat implementasi industri hijau di Indonesia.
“BSKJI terus memperkuat infrastruktur standardisasi dan jasa industri, termasuk melalui pengembangan lembaga validasi dan verifikasi GRK yang kompeten, independen, dan terakreditasi,” ujarnya.
Sebagai bagian dari penguatan infrastruktur industri hijau, Lembaga Validasi dan Verifikasi (LVV) yang berada di bawah Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Agro telah memperoleh akreditasi resmi dari Komite Akreditasi Nasional melalui Sertifikat Akreditasi Nomor LVV-025-IDN.
BACA JUGA: Kemenperin dan Pemkab Pinrang Perkuat Sinergi, IKM Kini Lebih Mudah Akses Sertifikasi hingga TKDN
Akreditasi tersebut diperoleh setelah BBSPJIA mempersiapkan sistem manajemen sesuai standar SNI ISO/IEC 17029:2019 sejak tahun 2024.
Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat layanan verifikasi emisi GRK yang kredibel dan sesuai standar internasional.
Sebagai implementasi nyata program dekarbonisasi industri, BBSPJIA menyerahkan Sertifikat Pernyataan Verifikasi Emisi GRK kepada PT Lami Packaging Indonesia.
Perusahaan multinasional tersebut dikenal sebagai pabrik kemasan aseptik berbasis kertas pertama di Indonesia yang melayani industri makanan dan minuman.
Kepala BBSPJIA, Yuni Herlina Harahap, menyebut keberhasilan verifikasi tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran industri terhadap pentingnya pengelolaan emisi karbon.
“PT Lami Packaging Indonesia menunjukkan komitmen nyata dalam penerapan prinsip keberlanjutan melalui inventarisasi dan verifikasi emisi GRK,” kata Yuni.
Proses verifikasi emisi dilakukan secara menyeluruh melalui pemeriksaan dokumen, evaluasi metodologi perhitungan emisi, hingga verifikasi lapangan ke fasilitas produksi perusahaan pada 31 Maret hingga 3 April 2026.
Selain itu, dilakukan pula independent review internal guna memastikan objektivitas hasil verifikasi yang diterbitkan.
Kegiatan tersebut mengacu pada standar nasional dan internasional, yakni SNI ISO 14064-1:2018 serta SNI ISO 14064-3:2019 sesuai ketentuan akreditasi KAN.
Kemenperin menilai penguatan layanan validasi dan verifikasi emisi GRK akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri nasional, terutama di tengah semakin ketatnya regulasi lingkungan di berbagai negara tujuan ekspor.
Dengan sistem pengelolaan emisi yang transparan dan terverifikasi, perusahaan Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar global yang kini semakin menuntut produk ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Melalui sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, Indonesia optimistis dapat mempercepat pencapaian target Net Zero Emission sekaligus memperkuat posisi sektor manufaktur sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. (KSC)
TIM REDAKSI





