KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Industri pulp dan kertas nasional terus menunjukkan peran strategis sebagai salah satu sektor manufaktur bernilai tambah tinggi yang menopang perekonomian Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, sektor ini juga menjadi andalan ekspor, terutama untuk produk kemasan yang semakin dibutuhkan berbagai industri.
Berdasarkan data tahun 2025, industri kertas, barang kertas, dan percetakan berkontribusi sebesar 3,73 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pengolahan nonmigas. Dari sisi ekspor, nilai ekspor pulp mencapai USD 3,60 miliar, sementara ekspor kertas menembus USD 4,57 miliar.
Tak hanya itu, industri ini juga memiliki dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Lebih dari 280 ribu tenaga kerja terserap secara langsung dan sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung, dengan total 113 perusahaan yang beroperasi di sektor ini.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa kontribusi tersebut menunjukkan peran penting industri pulp dan kertas dalam struktur manufaktur nasional.
“Kontribusi terhadap PDB pengolahan nonmigas serta penyerapan lebih dari 1,4 juta tenaga kerja mencerminkan dampak luas sektor ini bagi perekonomian nasional,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Secara global, Indonesia juga menempati posisi strategis, yakni peringkat ke-7 untuk industri pulp dan ke-6 untuk industri kertas dunia. Di kawasan Asia, Indonesia bahkan berada di posisi ke-2 untuk pulp dan ke-4 untuk kertas.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menyebut sektor ini memiliki daya ungkit tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi karena menghasilkan beragam produk bernilai tambah.
“Produk yang dihasilkan meliputi pulp, kertas industri, tisu, kertas khusus, hingga rayon/viscose yang dimanfaatkan luas oleh berbagai sektor industri,” jelasnya.
BACA JUGA: Kredit Perbankan Tumbuh 9,37% per Februari 2026 di Tengah Ketidakpastian Global
Ke depan, prospek industri pulp dan kertas nasional dinilai semakin cerah. Tren global menunjukkan peningkatan penggunaan kemasan berbasis kertas dan flexible packaging yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Saat ini, paperboard menguasai sekitar 31,8 persen pasar kemasan global. Sementara itu, pasar flexible packaging telah bernilai lebih dari USD 270 miliar dan diproyeksikan tumbuh 5–6 persen per tahun hingga 2032.
Permintaan yang meningkat dari sektor makanan dan minuman, e-commerce, serta tren substitusi plastik menjadi bahan ramah lingkungan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri ini.
Selain itu, inovasi bahan baku juga terus berkembang. Industri tidak hanya bergantung pada pulp murni dan kertas daur ulang, tetapi juga mulai memanfaatkan serat alternatif seperti pisang, sereh wangi, tandan kosong kelapa sawit, hingga kenaf.
Meski prospeknya menjanjikan, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya keterbatasan bahan baku kertas daur ulang domestik, kebijakan impor bahan pendukung industri, hingga regulasi global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) dan hambatan perdagangan lainnya.
Selain itu, kewajiban sertifikasi halal pada 2026 juga menjadi perhatian bagi pelaku industri untuk segera beradaptasi.
“Terlepas dari tantangan tersebut, industri pulp dan kertas nasional tetap menunjukkan perkembangan positif dengan mengedepankan prinsip industri hijau dan ekonomi sirkular,” kata Putu.
Untuk memperkuat daya saing, Kementerian Perindustrian terus mendorong berbagai strategi, mulai dari penguatan rantai pasok bahan baku, inovasi produk, hingga pengembangan industri ramah lingkungan.
BACA JUGA: Isu APBN Hanya Cukup 2 Pekan Dibantah Menkeu Purbaya, Defisit Dipastikan Tetap Aman di 2026
Pemerintah juga telah menerapkan kebijakan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk kertas dan karton kemasan pangan sejak 24 Juli 2025 guna meningkatkan kualitas dan kepercayaan pasar.
Di sisi promosi global, partisipasi Indonesia sebagai Partner Country pada ajang INNOPROM 2026 di Rusia menjadi peluang strategis untuk memperluas pasar ekspor ke kawasan Eurasia.
Dengan sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, sektor pulp dan kertas nasional diharapkan semakin adaptif, inovatif, serta mampu memenuhi kebutuhan pasar global yang terus berkembang.
“Kami berharap kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat untuk menciptakan produk kertas yang ramah lingkungan, inovatif, dan berdaya saing tinggi,” pungkas Putu. (KSC)
TIM REDAKSI





