Diharapkan kerjasama yang terjalin antara BSI dengan kelima universitas ini akan mendukung majunya industri perbankan syariah Indonesia ke depannya. BSI akan terbuka bagi universitas lain yang ingin bergabung dalam program SSBM.
Hadir juga dalam acara menandatangani perjanjian kerja sama tersebut antara lain Rektor Universitas Brawijaya, Nuhfil Hanani, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ma’mun Murod, Direktur Compliance & Human Capital BSI, Tribuana Tunggadewi, dan Direktur Finance & Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho.
Rektor Institut Pertanian Bogor, Arif Satria dalam testimoninya mengatakan bila kerja sama antara IAEI, BSI dan perguruan tinggi merupakan program yang sangat baik. Arif berharap bila program ini bisa diperluas pada seluruh kampus di seluruh Indonesia. Menurut Arief lewat kerja sama ini, Indonesia bisa menjadi trendsetter perubahan, termasuk pada industri keuangan syariah.
BACA JUGA: Bank Syariah Indonesia Siap Satukan Operasional di Sumatera Utara
“Lewat kerja sama ini, kita berharap agar lulusan-lulusan ke depan memiliki kompetensi real yang dibutuhkan oleh industri. Untuk itu, kita perlu menyesuaikan suasana kampus sesuai dengan suasana industri, agar lulusan bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan di luar,” tutur Arif.
Sebagai informasi bahwa Program Strategic Sharia Banking Management (SSBM) ini diinisiasi sejak tahun 2020 dengan berkolaborasi bersama Institut Pertanian Bogor (IPB). Respon dan antusiasme mahasiswa untuk mengikuti program ini cukup baik dengan pendaftar atau mahasiswa terdaftar mencapai 122 mahasiswa dengan rata – rata kehadiran di setiap pertemuan mencapai 95%.
Pada tahun ini, tercatat sebanyak 1.123 mahasiswa dari kelima universitas mengikuti program Strategic Sharia Banking Management (SSBM) dengan jumlah peserta terbanyak dari Universitas Indonesia. Dalam program ini, pengajar berasal dari praktisi Bank Syariah Indonesia dengan metode pembelajaran secara online digital learning, studi kasus, dan tugas kelompok.
Tentang PT Bank Syariah Indonesia Tbk
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (“Bank Syariah Indonesia”) adalah bank hasil penggabungan dari tiga bank Syariah milik BUMN yakni PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank BRIsyariah Tbk. yang mulai beroperasi pada 1 Februari 2021. Penggabungan ini menyatukan kekuatan ketiga bank syariah tersebut dan bertujuan untuk mengoptimalkan potensi keuangan dan ekonomi syariah Indonesia yang besar.
Didukung sinergi dengan perusahaan induk (Mandiri, BNI, BRI) serta komitmen pemerintah melalui Kementerian BUMN, Bank Syariah Indonesia memiliki visi untuk menjadi salah satu dari 10 bank Syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar dalam 5 tahun ke depan.
BACA JUGA: Tingkatkan Ekonomi Syariah, Bank Syariah Indonesia Tandatangani Kerjasama Universitas Sumatera Utara
Dengan kinerja finansial tersebut, Bank Syariah Indonesia masuk dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset. Dari sisi jaringan, Bank Syariah Indonesia didukung oleh lebih dari 1.500 outlet dan lebih dari 2.400 jaringan ATM yang tersebar di seluruh Nusantara.
Seluruh aset dan kekuatan ini akan dioptimalkan Bank Syariah Indonesia untuk memberikan layanan dan produk finansial syariah yang lengkap dalam satu atap untuk memenuhi bermacam-macam kebutuhan nasabah dari berbagai segmen, mulai dari UMKM, ritel, komersial, wholesale, dan korporasi baik dalam maupun luar negeri.
Sehubungan dengan telah dilakukannya migrasi sistem terhadap ke 3 (tiga) Bank Syariah milik Himbara yaitu Bank Syariah Mandiri, BRIsyariah, dan BNI Syariah menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk maka kode bank tujuan transfer bagi ke-2 (dua) Bank ex-Legacy BNIS (427) & BRIS (422) telah ditutup dan penamaan kode bank ex legacy BSM/BRIS/BNIS berubah menjadi BSI dengan kode bank 451. (puji)







