JAKARTA | kliksumut.com – PT Bank Syariah Indonesia (Tbk) menandatangani perjanjian kerja sama dengan lima universitas terkemuka di Indonesia untuk meningkatkan literasi keuangan syariah. Program dengan nama Strategic Sharia Banking Management (SSBM) merupakan hasil kolaborasi BSI dengan Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Program perkuliahan SSBM sendiri merupakan program dengan tujuan antara lain melakukan link and match antara industri keuangan syariah dan lembaga pendidikan, meningkatkan literasi keuangan dan perbankan syariah bagi generasi muda, dan meningkatkan kualitas kerja sama antar lembaga. BSI ikut menjadi tenaga pendidik dalam program ini.
BACA JUGA: Bank Syariah Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi 2021 Dekati 5%
Dalam sambutannya Menteri Keuangan sekaligus Ketua Umum IAEI, Sri Mulyani Indrawati mengatakan saat ini masyarakat Indonesia mulai menunjukkan keinginan untuk hidup dengan nilai-nilai keislaman di setiap aspek kehidupan. Ini adalah kesempatan pada industri keuangan untuk harus memiliki daya saing baik dari struktur organisasi maupun sumber daya manusia.
Sementara Direktur Utama BSI, Hery Gunardi menegaskan BSI sebagai salah satu pelaku industri perbankan syariah sekaligus market leader, berinisiatif untuk bersinergi dan berkolaborasi melalui Program Strategic Sharia Banking Management (SSBM). Program ini merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan literasi keuangan dan perbankan syariah bagi generasi muda, Civitas Akademica, dan masyarakat luas bersama universitas di Indonesia yang didukung oleh IAEI.
“Ada pekerjaan rumah besar dalam hal peningkatan literasi keuangan dan perbankan syariah di Indonesia. Dalam catatan Otoritas Jasa Keuangan, literasi masyarakat terhadap keuangan dan perbankan syariah hanya kurang dari 9% saja, jauh tertinggal dari literasi terhadap keuangan konvensional yang hampir 40%. Dari literasi yang masih perlu ditingkatkan tersebut mengakibatkan inklusi keuangan syariah hanya diangka 9,1%, jauh tertinggal dari bank konvensional yang mencapai 76,2%,” kata Hery.







