Banjir Bandang Lumpuhkan Pesantren Darul Mukhlisin, 215 Santri Terhenti Belajar

Banjir Bandang Lumpuhkan Pesantren Darul Mukhlisin, 215 Santri Terhenti Belajar
BENCANA RUSAK PESANTREN: Kondisi Pondok Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang yang masih dipenuhi gelondongan kayu akibat banjir bandang, menyebabkan aktivitas pendidikan terhenti. (FOTO: Ist

KLIKSUMUT.COM | ACEH TAMIANG ~ Banjir bandang melumpuhkan aktivitas pendidikan di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, Kabupaten Aceh Tamiang. Tumpukan gelondongan kayu dan material banjir masih menutupi area pesantren, sehingga pengelola belum dapat mengaktifkan kembali seluruh fasilitas pendidikan hingga Rabu (17/12/2025).

Material kayu yang terbawa arus deras banjir memenuhi halaman hingga bangunan utama pesantren. Kondisi tersebut menghambat proses pembersihan dan memperparah kerusakan sarana pendidikan.

BACA JUGA: Gubernur Aceh Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Lokasi Bencana di Aceh Tamiang dan Bener Meriah

Aktivitas Pendidikan Terhenti Total

Banjir bandang menyebabkan sebanyak 215 santri belum dapat kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kerusakan parah melanda sejumlah ruang belajar dan fasilitas penunjang lain yang menjadi pusat aktivitas santri.

“Sejumlah bangunan dan fasilitas utama pondok pesantren rusak parah, sehingga aktivitas pendidikan terpaksa dihentikan sementara,” ujar Ahmadi, salah seorang korban banjir bandang Aceh Tamiang, Rabu (17/12/2025).

Bacaan Lainnya

Pengelola pesantren menilai kondisi lingkungan yang belum bersih dan aman menjadi alasan utama penghentian sementara kegiatan pendidikan demi keselamatan santri.

BACA JUGA: Bersama Tim Medis Malaysia, Gubernur Aceh Kembali Tinjau Korban Banjir Aceh Tamiang

Pembersihan Belum Terealisasi

Ahmadi menyampaikan bahwa sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah telah meninjau langsung lokasi terdampak. Namun, hingga kini pihak terkait belum merealisasikan pembersihan material banjir di area pesantren.

“Kondisi ini membuat pihak pesantren dan para santri harus menunggu lebih lama untuk bisa kembali beraktivitas,” ucapnya.

Pantauan awak media di lokasi menunjukkan potongan kayu berukuran kecil hingga gelondongan besar masih menumpuk dan menutupi sebagian bangunan pesantren. Situasi tersebut tidak hanya menghambat pemulihan, tetapi juga membahayakan lingkungan sekitar.

BACA JUGA: RSUP Adam Malik Percepat Pemulihan Layanan RSUD Aceh Tamiang Pascabencana

Warga Bertahan di Pengungsian

Selain merusak pesantren, banjir bandang juga menghancurkan permukiman warga di sekitar lokasi. Ahmadi mengungkapkan bahwa banjir merusak hampir seluruh rumah warga, bahkan sebagian bangunan hanyut terbawa arus.

“Hampir semua rumah rusak parah, bahkan hanyut. Kami sekarang tinggal di tenda pengungsian dan sangat kesulitan mendapatkan air bersih. Kami berharap pemerintah atau relawan bisa membantu penyediaan tenda agar kami bisa kembali tinggal di lokasi rumah kami,” kata Ahmadi.

BACA JUGA: Update Banjir Aceh Tamiang: 57 Meninggal Dunia, Ribuan Mengungsi

Pihak pesantren dan warga terdampak berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan konkret, terutama untuk pembersihan material banjir, perbaikan fasilitas pesantren, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga agar pemulihan pascabencana dapat segera berjalan. (KSC)

Pos terkait