Pemulihan Ekonomi Aceh Dipercepat, Tambak Kembali Beroperasi dan 4 Juta Bibit Kopi Disiapkan untuk Petani Gayo

Pemulihan Ekonomi Aceh Dipercepat, Tambak Kembali Beroperasi dan 4 Juta Bibit Kopi Disiapkan untuk Petani Gayo
Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha Donny Oktopur meninjau pemulihan tambak terdampak bencana di Pidie Jaya. dok. Satgas PRR/KKP. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM | ACEH – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera terus mengakselerasi pemulihan ekonomi masyarakat di Provinsi Aceh melalui pengaktifan kembali sektor-sektor produktif. Program ini difokuskan pada rehabilitasi tambak perikanan, pendampingan petambak, hingga penyediaan jutaan bibit kopi bagi petani di kawasan Gayo.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengembalikan mata pencaharian masyarakat yang terdampak bencana secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.

BACA JUGA: Siswa Asal Sumut dan Aceh Raih Beasiswa Kuliah dari Telkomsel

Pemulihan ekonomi merupakan salah satu dari lima klaster prioritas Satgas PRR Pascabencana Sumatera, selain klaster permukiman, infrastruktur, sosial, dan tata kelola. Fokus pemulihan mencakup sektor pertanian, perkebunan, perikanan, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pasar rakyat, hingga sektor pariwisata.

Di sektor perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sebanyak 15.000 hektare tambak yang terdampak bencana di Aceh dapat kembali beroperasi hingga akhir 2026.

Sebagai tahap awal, sekitar 5.200 hektare tambak ditargetkan sudah kembali difungsikan paling lambat September 2026. Hingga akhir Juli 2026, sebanyak 694 hektare tambak telah kembali beroperasi melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin.

Sekretaris Jenderal KKP, Andy Artha Donny Oktopura, menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan fisik tambak, melainkan juga dari pulihnya aktivitas ekonomi masyarakat.

“Tujuan kami bukan sekadar memperbaiki tambak, tetapi memastikan masyarakat kembali berproduksi. Karena itu, setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budidaya,” ujarnya saat meninjau lokasi rehabilitasi tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

Untuk mempercepat proses rehabilitasi, KKP menyalurkan 12 unit ekskavator ke wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari jumlah tersebut, delapan unit difokuskan untuk memperbaiki tambak di sejumlah kabupaten di Aceh.

Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan kepada nelayan berupa bantuan mesin kapal dan 100 unit kotak pendingin berkapasitas 300 liter yang disalurkan kepada kelompok nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.

Pengaktifan kembali tambak dinilai memiliki dampak ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat pesisir.

Dengan penerapan teknologi budidaya tradisional plus, setiap hektare tambak diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 600 kilogram udang dalam satu siklus budidaya selama tiga bulan.

Dengan asumsi harga jual rata-rata Rp50.000 per kilogram, maka potensi omzet yang dapat diperoleh mencapai sekitar Rp30 juta per hektare dalam setiap siklus panen.

Pemerintah memastikan seluruh bantuan berupa benih, pakan, maupun sarana produksi diberikan secara gratis tanpa dipungut biaya.

Selain itu, penyuluh perikanan bersama dinas terkait akan terus melakukan pendampingan kepada para petambak hingga masa panen. Masyarakat dan media juga diajak ikut mengawasi proses penyaluran bantuan agar tepat sasaran.

Salah seorang petambak asal Pidie Jaya, Fazil, mengaku optimistis dapat kembali bangkit setelah menerima bantuan pemerintah.

“Bantuan benih dan pakan ini sangat membantu kami untuk kembali beroperasi. Saya yakin tiga bulan ke depan sudah bisa panen,” katanya.

Selain sektor perikanan, pemulihan ekonomi Aceh juga diperkuat melalui sektor perkebunan.

Kementerian Pertanian telah menyiapkan 4 juta bibit kopi untuk mendukung rehabilitasi kebun-kebun kopi di kawasan Gayo yang terdampak bencana.

Program tersebut diharapkan mampu membantu petani membangun kembali sumber penghasilan sekaligus menjaga keberlanjutan kopi Gayo sebagai salah satu komoditas unggulan nasional yang memiliki nilai ekspor tinggi.

Kepala Posko Satgas PRR Wilayah Aceh, Safrizal ZA, mengatakan bantuan produktif akan terus diarahkan untuk mempercepat kebangkitan ekonomi masyarakat.

“Untuk kawasan Gayo, sebanyak empat juta bibit kopi sudah siap disalurkan. Ini merupakan bagian dari upaya untuk menstimulasi, mengakselerasi, dan memulihkan kembali perekonomian Aceh yang sebelumnya sempat terdampak,” ujar Safrizal.

BACA JUGA: Polres Pelabuhan Belawan Gagalkan Peredaran 840 Gram Ganja dari Aceh, Pengedar Ditangkap di Sicanang

Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci agar proses rehabilitasi tidak hanya menghasilkan pembangunan fisik, tetapi juga mampu mengembalikan produktivitas ekonomi warga secara berkelanjutan.

Dengan percepatan rehabilitasi tambak, bantuan sarana produksi, serta revitalisasi sektor perkebunan kopi, pemerintah optimistis pemulihan ekonomi Aceh akan terus menunjukkan kemajuan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah terdampak bencana. (KSC)

Bacaan Lainnya

Pos terkait