KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Stroke saat ini tidak lagi hanya dialami orang lanjut usia, karena tren kasusnya kini bergeser menyerang usia produktif atau pada usia yang lebih muda.
Spesialis Bedah Saraf Columbia Asia Hospital Medan, Steven Tandean, M.Ked (Neurosurg), Sp.BS mengingatkan masyarakat untuk mengenali tanda- tanda atau sinyalnya.
“Stroke saat ini juga bisa menyerang pada usia muda, berkisar antara 30 hingga 40-an tahun bukan lagi hanya usia lanjut atau 60-an tahun,” kata Steven pada media gathering Columbia Asia Hospital Medan bertajuk “Dari Diagnosis hingga Tindakan: Mengenal Manfaat DSA”, Rabu (26/8/2026).
BACA JUGA: All 2 Stroke Bikers Ngabuburit Bersama Bobby
Disebutkannya, pemicu utama stroke selain akibat gaya hidup dengan kebiasaan tidak sehat seperti konsumsi makanan tinggi garam dan lemak, jarang olahraga juga begadang menjadi faktor penyebabnya.
Selain diperlukan teknologi penangannya, masyarakat juga harus mengenali tanda gejala stroke sejak awal dengan B.E. F.A.S.T.
– B (Balance), kehilangan keseimbangan atau koordinasi secara tiba-tiba.
– E (Eyes), gangguan penglihatan yang muncul secara tiba-tiba.
– F (Face), salah satu sisi wajah turun atau mencong.
– A (Arms), salah satu lengan tiba-tiba lemah atau sulit diangkat.
– S (Speech), bicara pelo, sulit berbicara, atau sulit memahami pembicaraan.
– T (Time), segera mencari pertolongan medis ketika salah satu gejala tersebut muncul secara tiba-tiba.
Dijelaskannya, stroke iti adalah kondisi yang membutuhkan respons cepat. Gejala yang muncul tiba- tiba seperti wajah mencong, kelemahan pada salah satu sisi tubuh atau gangguan bicara harus segera diperiksakan.
“Semakin cepat pasien mendapatkan evaluasi dan penanganan yang sesuai, semakin cepat pula dokter dapat menentukan langkah medis berikutnya,” paparnya.
Kecepatan penanganan pada pasien stroke itu, lanjutnya sangat penting karena dapat berpengaruh terhadap kesembuhan pasien.
Steven mengungkapkan, manfaat Digital Subtraction Angiography (DSA) menjadi salah satu teknologi yang dapat membantu dokter melihat kondisi pembuluh darah otak secara lebih detail,
Dengan peran DSA itu juga sekaligus mendukung penentuan terapi pada pasien stroke atau gangguan pembuluh darah.
“Manfaat DSA itu memungkinkan dokter memetakan pembuluh darah dari area leher hingga otak dengan lebih jelas. Dengan demikian pemeriksaan ini dapat membantu melihat aliran darah, lokasi sumbatan, penyempitan, maupun kelainan pembuluh darah lainnya,” ungkap Steven.
Dari pemetaan itu, katanya bisa menentukan lokasi serta karakteristik gangguan pembuluh darah untuk tahap terapi selanjutnya
Steven juga menjelaskan pemahaman masyarakat mengenai DSA yang selama ini pernah dikaitkan dengan istilah “brain wash” atau cuci otak.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa DSA pada dasarnya merupakan teknologi/prosedur untuk melihat dan mengevaluasi pembuluh darah. Pemeriksaan standar ini juga dilakukan di sejumlah negara.
DSA itu, sebutnya digunakan untuk melihat pembuluh darah dan aliran darahnya secara detail.
Dari pemeriksaan itu dokter dapat mengetahui apakah terdapat penyumbatan, penyempitan, pelebaran pembuluh darah, maupun kelainan lainnya.
Jadi peran DSA itu adalah untuk melihat kondisi pembuluh darah dan menentukan terapi selanjutnya.
Kalau ditemukan masalah tertentu dan pasien memenuhi indikasi, maka dari prosedur tersebut bisa dilanjutkan dengan tindakan intervensi seperti trumbektomi.
Dalam kasus stroke akibat penyumbatan pembuluh darah atau stroke iskemik, DSA juga dapat mendukung tindakan intervensi tertentu, salah satunya trombektomi yang merupakan prosedur untuk mengambil bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah otak.
Dia menyebutkan, waktu sangat penting pada stroke karena penyumbatan maupun pendarahan pada pembuluh darah.
Pada pasien yang memenuhi kriteria penyumbatan pembuluh darah, golden time itu sekitar 4,5 jam sejak gejala pertama muncul.
“Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan, semakin minimal kecacatan terhadap pasien ” katanya.
Dia juga mengimbau, medical check-up secara berkala juga penting sebagai bagian dari pencegahan dan mengontrol faktor risikonya
Sementara itu, Hospital CEO RS Columbia Asia Medan dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE., CPCCP, mengatakan kehadiran layanan DSA merupakan bagian dari upaya menyediakan teknologi yang mendukung diagnosis dan penanganan gangguan pembuluh darah secara lebih terintegrasi.
BACA JUGA: 5 Makanan Pemicu Kolesterol Tinggi yang Sering Dikonsumsi, Nomor 1 Jadi Minuman Favorit Banyak Orang
“Pesan kami sederhana: kenali gejalanya, jangan menunda pertolongan. Percayakan keputusan pemeriksaan maupun tindakan kepada tim medis,” ujar Stella.
Kehadiran layanan DSA, katanya merupakan bagian dari upaya menyediakan teknologi yang dapat mendukung diagnosis dan penanganan gangguan pembuluh darah secara lebih terintegrasi.
Dengan tersedianya teknologi seperti DSA, dokter memiliki sarana untuk mendapatkan gambaran pembuluh darah secara lebih rinci ketika memang dibutuhkan.
Namun, keberhasilan penanganan stroke tetap sangat dipengaruhi oleh kecepatan pasien mendapatkan pertolongan dan ketepatan terapi sesuai kondisi masing-masing.
Karena itu, ketika gejala stroke muncul, jangan menunggu. Kenali B.E. F.A.S.T., segera cari pertolongan medis. (KSC)
Reporter: Swisma








