Tuduhan Kepada Humas TPL Terhadap Kriminalisasi Anak, Hanya Rekayasa

Tuduhan Kepada Humas TPL Terhadap Kriminalisasi Anak, Hanya Rekayasa
Marudut Ambarita

Kekhawatiran dan rasa bersalahnya semakin menjadi, bahkan saat panggilan kedua dari Polisi lewat telpon datang, Marudut pun semakin takut dan memilih melarikan diri ke Jambi.

“Saya takut lalu lari malam ke Jambi. Kenapa saya lari? Karena saya tidak berani mempertanggungjawabkan pengaduan saya, karena pengaduan itu palsu, bohong, tidak benar. Saya lari ke Jambi dan meninggalkan anak saya yang baru lahir, masih berusia satu bulan,” cetusnya.

Selama di Jambi, ia merenungi kesalahan yang mengatakan hal tidak benar dan berbohong kepada semuanya termasuk kepada polisi. Dia menegaskan, kembali terpaksa berbohong karena dorongan oknum tak bertanggungjawab dari salah satu lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi mereka.

“Saya pun berbohong karena dorongan lembaga tersebut, dipaksa orang itu. Sampai di Jambi saya merenungi dan memberitahu istri saya bahwa laporan itu tidak benar, itu semua rekayasa, itu semua tulisan bohong dan saya diajari,” kisahnya.

Baca juga: Pinus Sitanggang: Jangan Lagi LSM Provokasi Petani dan Masyarakat Soal Tanah Adat di TPL

Satu tahun tiga bulan, Marudut tinggal di Jambi dengan rasa bersalah dan rindu yang luar biasa terhadap istri dan anaknya. Ia akhirnya mengumpulkan keberanian diri untuk kembali ke kampungnya Pematang Sidamanik. Ia paham betul akan konsekuensi yang akan diterima saat pulang ke desa.

Dikucilkan, dihina dan dianggap sebagai penghianat merupakan cap yang menyakitkan akan diterimanya beserta keluarga. “Saya menyadari bahwa pengaduanku pada pak Bahara Sibuea itu salah dan tidak benar. Lalu saya berniat untuk pulang dan memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya. Saya akan sampaikan yang sebenarnya kepada polisi dan penyidik bahwa laporan saya itu palsu. Seperti itulah cerita masalah di 16 September 2019,” ungkapnya.

Tiba di desa, semua yang dibayangkannya benar terjadi, dia dan keluarga besarnya merasakan rasa sakit mendalam terlebih saat salah satu media terang-terangan menjual berita mengenai pemukulan anaknya yang faktanya hanya rekayasa belaka.

Atas pengakuan palsunya itu, ia dengan tegas meminta maaf kepada seluruh media yang turut memberitakan berita bohong tersebut.

“Kenapa saya mau memberikan keterangan palsu, karena dikampung itu kalau saya tidak ikut di lembaga itu, saya dibenci. Bahkan sejak saya pulang awal 2021 hingga sekarang saya dibenci, saya diejek, sakit perasaan saya. Sekali lagi saya tegaskan bahwa anak saya tidak ada dipukul oleh Bahara Sibuea, itu semua rekayasa dan berita bohong,” pungkasnya.

Sang istri Verawati Silalahi juga angkat bicara. Ia mengakui, gegara pengaduan palsu tersebut selama setahun tiga minggu, dirinya beserta tiga orang anaknya ditinggal suami.

“Saya dan tiga orang anak ditinggal selama setahun tiga minggu,” ucapnya menahan air mata. (wl)

Pos terkait