KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong transformasi industri kecil dan menengah (IKM) agar semakin berdaya saing, berkelanjutan, dan berbasis nilai budaya lokal. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui kolaborasi antara Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) dengan Universitas Mahasaraswati (UNMAS) Denpasar dalam pengembangan Sustainability and Culture Business Model Canvas (SC-BMC).
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa transformasi model bisnis IKM menjadi agenda penting dalam mendukung Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). “IKM fesyen dan kriya memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi berkelanjutan berbasis budaya. Dengan pendekatan bisnis yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya, IKM tidak hanya meningkatkan daya saing, tetapi juga menciptakan nilai tambah berkelanjutan dan berkarakter Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Sebagai langkah nyata, BPIFK dan UNMAS Denpasar menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dan melaksanakan penelitian bersama terkait penerapan SC-BMC. Model ini merupakan pengembangan dari Business Model Canvas (BMC) klasik yang menekankan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan nilai budaya lokal (culture) dalam perancangan model bisnis.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, menjelaskan, “SC-BMC tidak hanya fokus pada profitabilitas, tetapi juga menilai dampak positif terhadap manusia, lingkungan, dan pelestarian nilai lokal.”
BACA JUGA: Kemenperin Percepat Pengembangan Industri Semikonduktor, Fokus pada Desain Chip dan Talenta Nasional
Pilot test SC-BMC telah diterapkan pada 15 IKM di Bali, menunjukkan bahwa model ini membantu pelaku usaha memahami potensi dan tantangan bisnis secara menyeluruh. Selain itu, model ini mendorong praktik usaha yang seimbang antara aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya.
Menurut Reni, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri menjadi kunci percepatan transformasi IKM nasional. Dengan dukungan riset terapan, SDM unggul, dan kebijakan yang tepat, IKM fesyen dan kriya berpeluang naik kelas serta menembus pasar nasional maupun global.
Hasil penelitian juga menunjukkan SC-BMC mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan secara terpadu. Model bisnis ini terdiri atas 15 blok terintegrasi yang menjadi panduan pengembangan usaha berkelanjutan dan berkarakter lokal. “SC-BMC membuktikan keberlanjutan dan budaya bisa berjalan seiring profitabilitas, menjadi fondasi penting bagi penguatan IKM hijau dan berdaya saing global,” imbuh Reni.
Dari sisi pasar, SC-BMC efektif merespons tren global seperti conscious consumer, keberlanjutan, digitalisasi, serta kebangkitan produk berbasis budaya lokal. Diferensiasi berbasis identitas budaya memberikan nilai tambah sulit ditiru produk massal, terutama untuk segmen premium, pariwisata budaya, dan ekspor.
Selain itu, aspek sosial dan budaya menunjukkan dampak signifikan melalui pemberdayaan SDM lokal, pelestarian pengetahuan tradisional, serta penguatan nilai komunitas. Sementara dari sisi lingkungan, penerapan prinsip circularity, eco-material, reuse, dan efisiensi energi terbukti menekan sumber daya dan emisi tanpa mengurangi kualitas produk.
Kepala BPIFK, Dickie Sulistya, menambahkan, “Kerja sama dengan perguruan tinggi tidak berhenti pada MoU, tetapi menjadi komitmen bersama untuk menghadirkan pendampingan, inovasi, dan model bisnis aplikatif bagi IKM fesyen dan kriya.”
Ke depan, kolaborasi BPIFK dan UNMAS Denpasar diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam pasar fesyen dan kriya nasional maupun internasional melalui pendekatan bisnis yang berkelanjutan, berakar pada budaya lokal, dan inklusif bagi pelaku IKM. (KSC)
TIM REDAKSI







