YOGYAKARTA | kliksumut.com – Selama enam belas bulan terakhir, sektor pariwisata mati suri. Aneka pembatasan mobilitas menambah berat beban pelaku industri ini. Yogyakarta, yang menjadi salah satu tujuan wisata populer di Indonesia, kehilangan Rp10 triliun sepanjang pandemi.
Angka Rp10 triliun tersebut adalah perhitungan omset bisnis anggota Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Daerah Istimewa Yogyakarta saja. Jika sektor terkait diikutkan, menurut Ketua GIPI DIY, Bobby Ardyanto Setya Aji, kerugiannya bisa melonjak hingga Rp25 triliun dikutip kliksumut.com dari voaindonesia.com.
“Kalau kita bicara dalam sebuah ekosistem pariwisata, data kerugian bisa sampai kurang lebih Rp25 triliun karena dalam sebuah ekosistem pariwisata, bisnis turunannya banyak sekali. Termasuk misalnya sampai ke temen-temen UMKM, seperti yang ada di Malioboro,” ujar Bobby, dalam perbincangan dengan media di Yogyakarta, Selasa (3/8/2021).
Sementara dari sisi sumber daya manusia, ada sekitar 30 ribu orang yang kehilangan pekerjaan, di luar sektor hotel dan restoran. Selain kerugian akibat bisnis macet, kondisi ini juga diperparah oleh kewajiban pelaku usaha yang tetap harus dipenuhi selama pandemi. Mereka masih harus tetap menggaji karyawan, membayar listrik dan BPJS, serta tentu saja merawat asetnya.
Di sektor hotel dan restoran, dampaknya juga tak kalah berat. Tingkat hunian hotel saat ini rata-rata di bawah 10 persen, bahkan banyak yang mencatatkan hunial nol persen dan sebagian lain harus tutup. Mohammad, dari PHRI DIY, menyebut hotel bintang tiga setiap bulan memiliki beban kerugian dan kewajiban pembayaran sekitar Rp400 juta untuk membayar listrik, angsuran bank dan beban lain. Sementara hotel bintang empat mengalami kerugian sekitar Rp800 juta per bulan. Sebagian hotel masih bisa beroperasi, karena dukungan keuangan dari pemiliknya.
“Harapan kami pemerintah membantu staf yang unpaid leave (cuti tak berbayar -red), yang di-PHK, karena mereka BPJS-nya, asuransinya kan harus tetap ada, dan segala macam. Sehingga butuh ada relaksasi dari pemerintah untuk persoalan asuransi, persoalan listriknya, dan segala macam itu,” ujar Mohammad.
Sektor Pendukung Terdampak
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIY, V Hantorom menyebut ada 65 perusahaan angkutan pariwisata di Yogyakarta dengan total 817 unit kendaraan. Pada 2019, penyedia layanan transportasi wisata ini mencatatkan omzet Rp468 miliar.
BACA JUGA: Yogya Saat ini, Kondisi Rumah Sakit Gawat Darurat
Krisis ini berdampak pada sekitar 600 pekerja kantor sektor transportasi wisata, seperti bagian admistrasi, mekanik hingga penjaga keamanan. Sedangkan sopir dan kru angkutan wisata yang kehilangan pekerjaan, sekurangnya 2.600 orang.
Sedangkan asosiasi agen perjalanan wisata, Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Yogyakarta mengatakan kerugian mereka setahun terakhir mencapai sekitar Rp75 miliar. M Fachri, perwakilan asosiasi ini mengatakan, setidaknya 1.200 pekerja industri ini harus dirumahkan tanpa gaji. Dari 161 perusahaan anggota ASITA di Yogyakarta, tujuh diantaranya telah menutup usahanya. Mayoritas yang masih bertahan juga tidak memiliki pendapatan bisnis, karena tidak ada turis mancanegara yang datang.








