KLIKSUMUT.COM – Peta geopolitik Timur Tengah kembali berguncang. Dalam langkah yang mengejutkan sekaligus berani, Australia secara resmi menyatakan dukungan atas kemerdekaan Palestina. Ini menjadikan Negeri Kanguru sebagai sekutu Amerika Serikat terbaru yang merapatkan barisan dengan seruan global: akui kedaulatan Palestina, wujudkan solusi dua negara.
Dukungan dari Australia ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Anthony Albanese dalam konferensi pers yang dikutip dari Tirto, Senin (11/8/2025). Ia menegaskan bahwa solusi dua negara adalah harapan terbaik bagi umat manusia untuk memutus siklus kekerasan yang terus menghantui wilayah Gaza dan Tepi Barat.
“Hingga Israel dan Palestina menjadi negara permanen, maka perdamaian hanya sementara,” ujar Albanese tegas.
Tak berhenti di situ, Albanese juga menekankan bahwa Australia siap mendorong kerja sama internasional agar Palestina tak hanya diakui di atas kertas, tapi juga di panggung global sebagai negara yang setara.
Langkah Australia menyusul sikap mengejutkan yang datang dari Eropa: Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan dukungan penuh atas kedaulatan Palestina, dan bahkan berjanji mendeklarasikannya secara resmi pada September mendatang.
“Yang paling mendesak saat ini adalah menghentikan perang di Gaza dan menyelamatkan warga sipil. Kita butuh gencatan senjata, pembebasan sandera, dan peningkatan bantuan kemanusiaan,” tegas Macron dalam pernyataan resmi, Kamis (24/7/2025).
Jika benar terjadi, Prancis akan menjadi anggota G7 pertama sekaligus negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang mengambil langkah bersejarah tersebut—pukulan telak terhadap dominasi narasi pro-Israel di dunia barat.
Kini, sebanyak 148 dari 193 negara anggota PBB telah mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Meski demikian, Palestina masih berstatus sebagai observer state di PBB dengan hak terbatas dan tanpa suara dalam keputusan besar Dewan Keamanan maupun Majelis Umum.
Namun, perubahan dukungan dari negara-negara kuat seperti Australia, Prancis, Inggris, dan Kanada, menandai babak baru dalam diplomasi Timur Tengah.
Dukungan internasional terhadap Palestina ini tak pelak memicu kemarahan Tel Aviv. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengeluarkan pernyataan keras dan menuduh langkah negara-negara Barat itu sebagai “tindakan memancing konflik”.
“Ini tidak membawa kedamaian, namun ini membawa perang,”* ujarnya tajam, dikutip dari France 24, Senin (11/8/2025).
Netanyahu juga mengecam sekutu-sekutunya sendiri, menyebut bahwa keputusan mereka adalah bentuk pengkhianatan yang akan memperkeruh situasi di kawasan.
“Melihat negara-negara Eropa dan Australia masuk ke lubang kelinci itu begitu saja… sungguh memalukan,” kecamnya.
Dengan dua negara besar Australia dan Prancis membuka jalan, sorotan kini tertuju pada Amerika Serikat yang hingga kini masih bergeming. Di bawah pemerintahan Donald Trump, AS menolak mengakui Palestina sebagai negara dan terus memberikan dukungan politik serta militer penuh terhadap Israel.
Namun, dengan dukungan global yang terus menguat dan tekanan internasional meningkat, pertanyaan besar pun mengemuka: Apakah dunia tengah menyaksikan babak baru dalam perjuangan Palestina meraih pengakuan penuh sebagai negara merdeka dan berdaulat?
Waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: suara-suara dukungan untuk Palestina kini tak lagi bisa dibungkam. (KSC)








