KLIKSUMUT.COM | TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta anggota keluarga dan pejabat tinggi Republik Islam, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Kabar ini memicu gelombang protes, peringatan berkabung, dan ancaman balasan militer besar-besaran.
Kematian Khamenei pertama kali diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang menyebut operasi itu sebagai “kesempatan bagi rakyat Iran untuk merebut pemerintahan mereka.” Trump menjelaskan bahwa operasi ini didukung teknologi intelijen Israel yang berhasil melacak lokasi Khamenei sebelum serangan.
Beberapa jam kemudian, kantor berita resmi Iran, IRNA, mengonfirmasi bahwa Khamenei tewas di kantornya siang hari. Laporan menyebut putri, cucu, menantu perempuan, dan menantu laki-laki Khamenei juga menjadi korban. Selain itu, penasihat utama Khamenei, Ali Shamkhani, dan komandan Korps Garda Revolusi Islam, Mohammed Pakpour, turut tewas.
Menurut The Telegraph, jenazah Khamenei ditemukan di antara puing-puing dengan luka akibat serpihan bom. Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1986, meninggal dunia pada usia 86 tahun.
Laporan menyebut lebih dari 900 serangan udara dilancarkan ke pangkalan militer, fasilitas nuklir, dan gedung pemerintahan di seluruh Iran menggunakan jet tempur F-35, F-22, serta drone sekali pakai, berlangsung selama 12 jam.
Otoritas Iran mendesak evakuasi penduduk Teheran yang berjumlah sekitar 10 juta orang. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 201 orang tewas dan lebih dari 700 terluka, termasuk 108 anak-anak yang tewas akibat serangan di sebuah sekolah di wilayah selatan.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Iran menargetkan wilayah Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi. Garda Revolusi menegaskan akan melancarkan “operasi ofensif paling ganas dalam sejarah” terhadap Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Trump memantau operasi dari resor Mar-a-Lago di Florida, sementara sorakan terdengar di beberapa kota di AS setelah kabar kematian Khamenei muncul. Serangan ini menandai serangan kedua AS terhadap Iran sejak Trump kembali memimpin, setelah sebelumnya menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.
Kematian Khamenei terjadi di tengah negosiasi mengenai penghentian program nuklir Iran. Pejabat AS menyatakan operasi ini bersifat pre-emptive untuk mencegah potensi serangan Iran terhadap pasukan Amerika.
Media semi-pemerintah Iran Fars dan stasiun TV pemerintah IRIB mengonfirmasi masa berkabung selama 40 hari serta tujuh hari libur nasional. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pembunuhan Khamenei “tidak akan dibiarkan tanpa jawaban” dan akan membuka “lembaran baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah.”
BACA JUGA: Netanyahu: Membunuh Khamenei Akan Akhiri Konflik, Bukan Memperparah Perang
“Dengan segenap kekuatan dan dukungan bangsa Islam, para pelaku kejahatan ini akan menyesalinya,” kata Pezeshkian, dikutip Al Jazeera.
Garda Revolusi Iran menegaskan akan melancarkan serangan balasan terberat, menargetkan wilayah dan pangkalan yang diduduki pasukan Amerika. Ancaman ini memicu kekhawatiran global akan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dengan tewasnya Khamenei dan dampak serangan luas, ketegangan geopolitik meningkat drastis, menandai babak baru konfrontasi antara Iran, AS, dan Israel. (KSC)
TIM REDAKSI








