KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 6 November 2026, dibuka dengan tekanan cukup besar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam hingga meninggalkan level psikologis 5.000.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka melemah 74,43 poin atau 1,48 persen ke level 4.955,83. Tekanan jual berlanjut pada perdagangan pagi, seiring melemahnya sejumlah saham unggulan dan sentimen negatif dari pasar saham global.
Berdasarkan data perdagangan sekitar pukul 09.10 WIB, IHSG tercatat kehilangan 70,25 poin atau 1,41 persen ke level 4.960. Sebanyak 436 saham bergerak melemah, sementara hanya 101 saham menguat dan 122 saham stagnan.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual masih mendominasi aktivitas perdagangan di pasar modal domestik.
Bursa Wall Street dan Asia Ikut Membebani IHSG
Salah satu faktor yang membayangi pergerakan saham hari ini adalah pelemahan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, indeks S&P 500 terkoreksi 4,35 persen, Nasdaq Composite turun 5,52 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 3,44 persen.
Sentimen negatif dari Amerika Serikat tersebut turut memengaruhi pergerakan bursa saham Asia dan meningkatkan kehati-hatian investor di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar juga mengalami tekanan. Saham BBCA, ASII, AMMN, BRPT, dan BYAN tercatat bergerak di zona merah pada awal perdagangan.
Investor Mencermati Pergerakan Rupiah dan Kebijakan The Fed
Selain tekanan dari bursa global, investor juga mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat memengaruhi arus modal asing, biaya impor, serta prospek kinerja sejumlah emiten.
Dari eksternal, perhatian pasar tertuju pada rilis data tenaga kerja Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP) Oktober 2026.
Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), yang selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah pergerakan pasar keuangan global.
Investor Diminta Tetap Waspada
Di tengah volatilitas pasar saham, investor perlu mencermati perkembangan IHSG dan pergerakan saham secara lebih hati-hati.
Aksi jual atau profit taking, sentimen global, serta pergerakan nilai tukar rupiah menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek.
Pelaku pasar juga perlu memperhatikan fundamental perusahaan, laporan keuangan emiten, serta kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi.
Perdagangan saham hari ini menjadi perhatian karena IHSG kembali menghadapi tekanan setelah pada Kamis (5/11/2026) berhasil menguat 2,25 persen ke posisi 5.030,26.
Akankah IHSG mampu kembali menembus level 5.000 atau justru melanjutkan koreksi? Perkembangan pasar saham selanjutnya masih akan ditentukan oleh respons investor terhadap sentimen domestik maupun global.
Disclaimer: Informasi ini merupakan pemberitaan mengenai perkembangan pasar modal dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. (KSC)








