KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 09.40 WIB, rupiah berada di level Rp16.591 per dolar AS, melemah 28 poin atau setara 0,17 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.563 per USD.
Sementara itu, mengutip data Yahoo Finance, rupiah diperdagangkan di level Rp16.606 per USD pada waktu yang sama. Perbedaan data ini mencerminkan dinamika pasar yang masih fluktuatif menjelang sejumlah rilis ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pergerakan rupiah hari ini diprediksi masih fluktuatif, namun akan ditutup menguat. “Untuk perdagangan Senin ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.520 hingga Rp16.560 per USD,” ujar Ibrahim dalam analisis hariannya, Senin (7/10).
Menurut Ibrahim, pelaku pasar kini cenderung mengabaikan kekhawatiran atas penutupan sementara pemerintahan AS, karena pengalaman sebelumnya menunjukkan dampak langsung yang terbatas terhadap pasar keuangan global.
BACA JUGA: SPBU Vivo dan BP Batal Beli BBM dari Pertamina, Ini Alasannya!
Pasar saat ini lebih memusatkan perhatian pada data ketenagakerjaan swasta AS, mengingat rilis non-farm payrolls (NFP) pemerintah untuk September kemungkinan akan tertunda akibat shutdown. Data penggajian ADP dan laporan PHK Challenger menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja AS, menjadi sinyal penting menjelang keputusan suku bunga The Fed.
“Pasar memperkirakan peluang sebesar 99,3 persen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin lagi dalam pertemuan akhir Oktober,” jelas Ibrahim, mengutip data dari CME FedWatch Tool.
Pemangkasan suku bunga oleh The Fed sebelumnya dilakukan pada bulan September, juga sebesar 25 basis poin. Namun, sejumlah pejabat bank sentral AS mulai menyuarakan keraguan atas perlunya pemangkasan lanjutan, terutama dengan inflasi AS yang masih tinggi.
BACA JUGA: Menkeu Purbaya: Perlakukan Wajib Pajak dengan Baik, Tax Amnesty Jangan Diulang Terus
Meski diprediksi akan menguat pada akhir perdagangan hari ini, rupiah masih dibayangi oleh sentimen global, terutama dari arah kebijakan moneter AS dan perkembangan data ekonomi terbaru. Fluktuasi ini membuka ruang bagi investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. (KSC)







