Ribuan Warga AS Turun ke Jalan Tolak Kebijakan Trump: Serukan Hentikan Perang dan Deportasi Massal

Pasca Upaya Pembunuhan, Trump Serukan AS “Tetap Kuat dan Teguh”
Seorang pendukung pro-Trump memegang potret mantan Presiden AS Donald Trump selama demonstrasi di Huntington Beach, California, Minggu 14 Juli 2024, sehari setelah Trump ditembak dalam acara kampanyenya.

KLIKSUMUT.COM | WASHINGTON, AS – Ribuan pengunjuk rasa membanjiri jalan-jalan, Sabtu (19/5/2025) di Washington, New York, Chicago, dan puluhan kota besar lainnya di Amerika Serikat untuk menolak kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump terkait deportasi, pemecatan massal pegawai pemerintah, serta keterlibatan militer AS dalam konflik di Gaza dan Ukraina.

Di depan Gedung Putih, massa aksi dengan penuh semangat membawa berbagai spanduk bertuliskan pesan tegas seperti “Pekerja harus memiliki kekuasaan”, “Tidak ada kerajaan”, “Hentikan mempersenjatai Israel”, hingga “Proses hukum untuk semua”. Aksi ini menjadi gelombang perlawanan sipil terbesar sejak pelantikan Trump pada Januari lalu.

BACA JUGA: Trump: Rusia Beri Sinyal Positif atas Usulan Gencatan Senjata Amerika

Solidaritas untuk Palestina, Ukraina, dan Migran

Aksi protes ini juga diwarnai dengan sorakan dukungan terhadap para migran yang telah dideportasi atau sedang menghadapi ancaman deportasi. Para demonstran menyatakan solidaritas mereka terhadap warga Palestina yang menjadi korban agresi Israel di Gaza, dan mendesak pemerintah AS untuk mengambil sikap lebih tegas terhadap invasi Rusia di Ukraina.

“Ketika Trump dan pemerintahannya memobilisasi mesin deportasi AS, kami akan mengorganisir jaringan perlawanan untuk membela tetangga kami,” teriak salah satu pengunjuk rasa di Lafayette Square, Washington, seperti dilaporkan Reuters dan Channel News Asia (CNA).

Di tengah lautan manusia yang berkumpul, tampak sejumlah peserta aksi mengenakan syal keffiyeh dan membawa bendera Palestina sambil meneriakkan “Bebaskan Palestina”. Sementara di sudut lain, simpatisan Ukraina mengangkat simbol dukungan dan menuntut penghentian perang yang dipimpin Vladimir Putin.

Kebijakan Trump Tuai Kecaman Luas

Sejak kembali menjabat sebagai Presiden AS, Donald Trump bersama sekutunya, termasuk Elon Musk, dituduh telah merombak total struktur pemerintahan. Lebih dari 200.000 pegawai federal diberhentikan, dan sejumlah lembaga pemerintah dibubarkan.

Kritik juga mengalir deras atas kebijakan menahan mahasiswa asing dan ancaman pencabutan pendanaan federal terhadap universitas-universitas yang menjalankan program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI), serta inisiatif iklim dan protes pro-Palestina.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia di AS menyebut kebijakan Trump sebagai bentuk kemunduran demokrasi dan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hak sipil.

BACA JUGA: Amerika Sepakati Penjualan Amunisi dan Buldoser Senilai $3 Miliar ke Israel

Gelombang Demonstrasi Nasional Berlanjut

Di dekat Monumen Washington, spanduk-spanduk besar terpampang jelas: “Kebencian tidak pernah membuat negara mana pun hebat” dan “Hak yang sama untuk semua tidak berarti hak yang lebih sedikit untuk Anda”.

Demonstrasi nasional ini merupakan hari kedua rangkaian aksi protes sejak Trump dilantik kembali. Ribuan warga yang terdiri dari aktivis, pelajar, buruh, hingga veteran, bersatu menyerukan satu suara: hentikan kebijakan diskriminatif, hentikan perang, dan pulihkan keadilan. (KSC)

Pos terkait