KLIKSUMUT.COM | BERASTAGI – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I dorong perguruan tinggi swasta (PTS) Sumatera Utara kembangkan sistem pendidikan yang inklusif dan adaptif berbasis teknologi termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Dengan sistem tersebut guna memperluas akses dan meningkatkan daya saing lulusan di era digital,” ungkap.
Kepala LLDikti Wilayah I, Prof Drs. Saiful Anwar Matondang, Ph.D, saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) 2026 di Hotel Sinabung Hills, Berastagi, Kamis (9/4/2026).
BACA JUGA: Kemdiktisaintek dan Kemenpora Perkuat Sinergi Beasiswa Atlet
Mengusung tema “Pendidikan Tinggi Inklusif, Adaptif, dan Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045”, Rakerwil 2026 ini menjadi forum strategis bagi pimpinan PTS di Sumut untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi ke depan.
Berbagai materi disampaikan, mulai dari strategi hilirisasi riset, transformasi perguruan tinggi menuju kampus berdampak, hingga penguatan digitalisasi kampus di era AI.
Saiful menegaskan, konsep pendidikan inklusif tidak hanya sebatas membuka akses seluas-luasnya bagi seluruh lapisan masyarakat, tetapi juga memastikan sistem pendidikan mampu menjangkau berbagai kondisi dan latar belakang mahasiswa.
“Mulai dari desa hingga kota, tidak boleh ada anak bangsa yang tidak kuliah hanya karena keterbatasan ekonomi. Pemerintah sudah menyediakan berbagai skema beasiswa,” ujarnya.
Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi, inklusivitas pendidikan juga harus diiringi dengan kemampuan adaptasi kampus terhadap perubahan.
Dalam forum tersebut, isu transformasi digital melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu sorotan utama.
Perguruan tinggi dinilai perlu mengadopsi teknologi ini untuk menciptakan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel, personal, dan menjangkau lebih banyak mahasiswa.
Saiful juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya berperan sebagai pencetak lulusan, tetapi harus mampu menghasilkan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Menurutnya, kampus harus responsif terhadap perubahan global, termasuk kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi.
“Perguruan tinggi harus adaptif. Tidak hanya memproduksi sarjana, tetapi juga memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, LLDikti Wilayah I juga mendorong PTS di daerah ini untuk menerbitkan ijazah dan transkrip nilai dalam format bilingual (Bahasa Indonesia dan Inggris) guna meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja internasional.
Menurut Saiful, kebutuhan tenaga kerja dari Indonesia di sejumlah negara Eropa saat ini cukup tinggi.
Karena itu, dokumen akademik berbahasa ganda menjadi langkah strategis untuk mempermudah lulusan dalam mengakses peluang kerja di luar negeri.
Ia juga mengapresiasi sejumlah perguruan tinggi di Sumut yang telah lebih dulu menerapkan sistem tersebut, salah satunya Universitas Medan Area (UMA).
Selain inklusif dan adaptif, Saiful menekankan pentingnya peran perguruan tinggi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs).
Ia menyebut, pendidikan tinggi memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan taraf ekonomi masyarakat melalui penciptaan tenaga kerja terdidik.
“Kalau SDM meningkat, maka income juga meningkat. Di situlah kampus memberikan dampak nyata bagi pembangunan,” ujarnya.
Raker diisi dengan diskusi dan penyampaian materi oleh beberapa pembicara. Rektor UMA Prof Dr Dadan Ramdan M.Eng memaparkan tentang strategi perguruan tinggi inklusif, adaptif, dan berdampak melalui hilirisasi riset berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Kemudian, materi bertajuk transformasi PTS di Sumut menuju kampus berdampak untuk menghasilkan SDM unggul dan berdaya saing disampaikan Wakil Rektor III Dr Rudianto MSi.
Sedangkan materi transformasi digital kampus di era AI: strategi adaptif untuk meningkatkan daya saing dan mewujudkan pendidikan inklusif dipaparkan dosen Advisor SEVIMA, Prof. Imas Maesaroh, M.Lib., Ph.D,
BACA JUGA: Saiful Bantah Tudingan Korupsi KIP Kuliah di LLDikti Wilayah I
Dalam pemaparannya, Prof Imas menekankan bahwa AI dapat menjadi alat strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif. Dari manual ke digital.
“Transformasi digital kampus di era AI merupakan strategi survival. Bukan masalah trend, anggaran dan teknologi,” ujarnya.
Hadir secara daring dan menyampaikan materi di acara ini Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti Prof Dr Ir Sri Suning Kusumawardani ST MT dimoderatori Dr Siti Nurmawan Sinaga M.Kes (Ketua STIKes Mitra Husada Medan).
Ketua panitia yang juga Kabag Umum LLDikti Wilayah I Ahmad Subhan SE mengatakan kegiatan yang berlangsung hingga Jumat (10/4/2026) dirangkai dengan anugerah bagi perguruan tinggi berprestasi.
Ia berharap Rakerwil 2026 ini memperkuat peran perguruan tinggi dalam menciptakan pendidikan yang inklusif, dan adaptif. (KSC)
Reporter: Swisma





