KLIKSUMUT.COM | YOGYAKARTA – Pemain muda asal Tajikistan, Rahmatsho Rahmatzoda, menjalani pengalaman Ramadan yang berbeda tahun ini. Bersama PSIM Yogyakarta, ia merasakan bulan suci di Indonesia tanpa kehadiran keluarga yang berada jauh di kampung halamannya di Tajikistan.
Meski jauh dari orang-orang terdekat, Rahmatsho mengaku tetap menikmati suasana Ramadan di Indonesia. Pemain kelahiran 6 April 2004 itu bahkan mengungkapkan rasa cintanya terhadap negara dan masyarakat yang membuatnya merasa nyaman beradaptasi.
“Saya sangat jatuh cinta dengan negara ini. Saya menyukai semuanya, dan saya ingin tinggal di sini untuk waktu sangat lama. Menurut saya esensi bulan suci Ramadan di mana saja tetaplah sama,” ujar Rahmatsho, Minggu (8/3/2026).
Bulan suci Ramadan selalu membawa kenangan manis bagi Rahmatsho tentang kebersamaan dengan keluarga dan teman-temannya di kampung halaman. Ia mengaku momen berkumpul bersama keluarga menjadi hal yang paling dirindukannya saat menjalani puasa di luar negeri.
“Tidak ada persiapan khusus untuk Ramadan kali ini, hanya saja biasanya ada banyak keluarga dan teman. Bisa menghabiskan bulan seperti ini bersama keluarga adalah hal yang sangat luar biasa,” katanya.
Walau begitu, pemain muda ini tetap berusaha profesional dan fokus pada karier sepak bolanya. Menurutnya, pengorbanan jauh dari keluarga adalah bagian dari perjalanan hidup sebagai atlet profesional.
BACA JUGA: PSIM Yogyakarta Pesta Gol 4-2 atas PSBS Biak, Ze Valente Bersinar di Pekan ke-23 BRI Super League
“Tentu terasa sulit karena keluarga saya berada sangat jauh. Saya sebenarnya sangat ingin menghabiskan hari-hari seperti ini bersama keluarga. Namun sepak bola adalah bagian dari hidup saya. Saya harus rela berkorban demi sepak bola,” jelasnya.
Menjalani puasa di tengah aktivitas sebagai pesepak bola profesional ternyata bukan hal yang sulit bagi Rahmatsho. Ia bahkan mengaku mendapatkan energi tambahan selama Ramadan.
“Sama sekali tidak sulit. Sebaliknya, di bulan ini saya justru mendapatkan lebih banyak energi dan kekuatan. Ramadan sangat penting bagi saya,” ungkapnya.
Pemain bernomor punggung 63 di PSIM tersebut mengandalkan pola makan teratur saat sahur dan berbuka untuk menjaga kondisi fisiknya. Dengan cara itu, ia tetap mampu mengikuti sesi latihan intensitas tinggi bersama tim.
“Saya makan di pagi hari saat sahur dan kemudian saat berbuka puasa. Pada masa seperti ini saya justru merasa memiliki lebih banyak kekuatan dan energi,” tambahnya.
Selain suasana Ramadan yang hangat, Rahmatsho juga merasa tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan makanan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Ia menilai cita rasa makanan di kota tersebut tidak terlalu berbeda dengan hidangan di kampung halamannya.
BACA JUGA: PSIM Yogyakarta Bangkit, Tahan Imbang Bali United 3-3 di BRI Super League
Hal itu membuatnya lebih mudah menjalani sahur dan berbuka puasa selama tinggal di Indonesia.
Bagi Rahmatsho Rahmatzoda, Ramadan kali ini memang berbeda karena jauh dari keluarga. Namun dukungan lingkungan, masyarakat, dan tim membuatnya tetap merasa nyaman menjalani ibadah sekaligus menjalankan karier sepak bolanya di Indonesia. (KSC)
TIM REDAKSI





