Proyek Bendungan Sarulla Rp25 Miliar Disorot, Dugaan Subkontrak hingga Material Batu Dipertanyakan

Proyek Bendungan Sarulla Rp25 Miliar Disorot, Dugaan Subkontrak hingga Material Batu Dipertanyakan
Proyek Bendungan Sarulla, Kecamatan Pahae Jae yang menelan anggaran hampir Rp25 miliar itu kini menjadi perhatian setelah muncul dugaan pekerjaan disubkontrakkan kepada salah seorang warga Kecamatan Pahae Jae, penggunaan beton yang dipersoalkan, hingga material batu yang diduga tidak sesuai dengan ketentuan pekerjaan. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM | TAPANULI UTARA – Persoalan teknis dan pola pengerjaan kembali menjadi sorotan dalam proyek pembangunan Bendungan Sarulla, Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara. Proyek yang disebut menelan anggaran hampir Rp25 miliar tersebut kini mendapat perhatian setelah muncul sejumlah informasi dan dugaan terkait pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Beberapa hal yang menjadi pertanyaan antara lain dugaan pekerjaan yang disubkontrakkan kepada warga Kecamatan Pahae Jae, penggunaan metode pengecoran beton, hingga material batu yang digunakan dalam pekerjaan konstruksi bendungan.

Informasi tersebut diperoleh media ini setelah melakukan penelusuran ke lokasi proyek pada Selasa, 15 September 2026. Penelusuran mencakup kondisi pekerjaan di lapangan, metode pengecoran, penggunaan material, serta informasi mengenai salah satu paket pekerjaan yang disebut memiliki nilai sekitar Rp9 miliar.

BACA JUGA: MAN Tapanuli Utara Laksanakan Program Pembelajaran Ramadan 1447 H/2026 M

Paket Pekerjaan Rp9 Miliar Diduga Dikerjakan Rp6 Miliar

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga sekitar, salah satu pekerjaan dengan nilai sekitar Rp9 miliar tersebut diduga dilaksanakan melalui pihak lain atau subkontraktor dengan nilai pengerjaan sekitar Rp6 miliar.

Bacaan Lainnya

Jika informasi tersebut benar, terdapat selisih nilai sekitar Rp3 miliar yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Persoalan tersebut bukan semata mengenai besar kecilnya nilai pekerjaan, tetapi juga menyangkut bagaimana mekanisme pelaksanaan pekerjaan tersebut, hubungan antara kontraktor utama dengan pihak yang mengerjakan, serta kesesuaiannya dengan ketentuan kontrak dan pengadaan yang berlaku.

Hingga berita ini ditulis, informasi mengenai dugaan tersebut masih memerlukan klarifikasi dari pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap proyek.

Penggunaan Beton Jadi Perhatian

Selain persoalan pola pengerjaan, metode pelaksanaan pekerjaan beton juga menjadi perhatian.

Proyek bendungan merupakan pekerjaan konstruksi yang berkaitan dengan struktur untuk membendung dan mengendalikan debit air dalam jumlah besar. Karena itu, mutu material dan pengendalian kualitas pekerjaan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Sebelumnya, pengawas proyek Rinaldi Sianturi kepada awak media menjelaskan mengenai penggunaan molen kecil dalam pekerjaan beton.

Menurut Rinaldi, penggunaan molen kecil dilakukan karena kendaraan Ready Mix tidak dapat melakukan mobilisasi menuju lokasi proyek.

Ia menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan akses jalan, di mana masyarakat tidak memberikan izin atau akses bagi kendaraan Ready Mix untuk masuk menuju lokasi pekerjaan.

Dengan kondisi tersebut, pelaksana kemudian menggunakan molen kecil atau metode pencampuran beton di lokasi.

Namun, metode tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan spesifikasi teknis pekerjaan, mutu beton yang dipersyaratkan, metode pelaksanaan, serta hasil pengujian kualitas beton.

Material Batu Kali Dipertanyakan

Sorotan lainnya berkaitan dengan material batu yang digunakan dalam pekerjaan.

Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa material batu yang tercantum untuk pekerjaan bendungan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) disebut berupa batu padas.

Namun, saat penelusuran di sekitar lokasi proyek, ditemukan penggunaan batu kali yang berada di sekitar aliran sungai.

Perbedaan informasi mengenai jenis material tersebut perlu mendapatkan penjelasan dari pihak pelaksana maupun pengawas proyek.

Sebab, kesesuaian material konstruksi seharusnya mengacu pada spesifikasi teknis, dokumen kontrak, serta ketentuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan pekerjaan.

Penggunaan material tertentu tidak dapat langsung dinilai sebagai pelanggaran hanya berdasarkan pengamatan visual. Diperlukan pemeriksaan terhadap spesifikasi teknis, dokumen kontrak, sumber material, hasil pengujian, serta persetujuan teknis yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.

Warga Berharap Bendungan Memberikan Manfaat

Di tengah munculnya berbagai pertanyaan tersebut, masyarakat Pahae Jae pada dasarnya menyambut positif pembangunan Bendungan Sarulla.

Warga berharap proyek yang menggunakan anggaran negara tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung kebutuhan pembangunan di wilayah Pahae.

Masyarakat juga berharap seluruh proses pembangunan dilaksanakan secara transparan, sesuai spesifikasi dan ketentuan yang berlaku, serta tidak menimbulkan kerugian maupun dampak negatif bagi warga sekitar.

Dengan nilai proyek yang mencapai puluhan miliar rupiah, masyarakat tentu memiliki kepentingan untuk mengetahui bahwa setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Apa Itu Ready Mix dan Site Mix?

Untuk memahami persoalan metode pengecoran yang menjadi perhatian dalam proyek Bendungan Sarulla, perlu dibedakan antara Ready Mix dan Site Mix.

Ready Mix merupakan beton yang proses pencampurannya dilakukan di batching plant berdasarkan komposisi atau mix design yang telah ditentukan. Beton kemudian dikirim menuju lokasi proyek menggunakan truck mixer.

Secara sederhana, proses Ready Mix dapat digambarkan:

Semen + pasir + batu pecah + air + admixture → batching plant → truck mixer → lokasi proyek → pengecoran.

Sistem tersebut memungkinkan penakaran material dilakukan melalui proses batching. Metode Ready Mix juga umum digunakan pada pekerjaan konstruksi yang membutuhkan volume beton besar dan pengendalian mutu yang ketat.

Ready Mix dapat digunakan untuk berbagai pekerjaan struktur, termasuk jalan beton, jembatan, gedung, fondasi berukuran besar hingga pekerjaan bendungan.

Beton juga memiliki target mutu tertentu sesuai kebutuhan struktur, misalnya fc’ 20 MPa, 25 MPa, 30 MPa, atau mutu lainnya berdasarkan desain dan spesifikasi teknis.

Site Mix Menggunakan Molen di Lokasi

Berbeda dengan Ready Mix, Site Mix merupakan metode pencampuran beton yang dilakukan langsung di lokasi pekerjaan.

Material seperti semen, pasir, agregat, air, serta bahan tambahan jika diperlukan dibawa ke lokasi proyek. Material kemudian ditakar dan dicampurkan menggunakan molen atau concrete mixer.

Alurnya secara sederhana:

Material → penakaran di lokasi → mixer/molen → beton segar → pengecoran.

Penggunaan Site Mix tidak serta-merta berarti mutu beton lebih rendah dibandingkan Ready Mix.

Kualitas beton tetap bergantung pada sejumlah faktor, termasuk ketepatan takaran material, kualitas bahan, proses pencampuran, jumlah air, waktu pencampuran, hingga pengujian mutu beton.

Potensi persoalan dapat muncul apabila penakaran material dilakukan tanpa pengendalian yang memadai atau hanya mengandalkan perkiraan.

Kadar air pada pasir, misalnya, dapat memengaruhi komposisi campuran. Penambahan air juga perlu dikendalikan agar tidak mengubah komposisi campuran dari mix design yang telah ditentukan.

Selain itu, kualitas agregat, semen, urutan pemasukan material, waktu pencampuran dan proses pengecoran turut menentukan kualitas beton yang dihasilkan.

BACA JUGA: Huta Ginjang Tapanuli Utara, Destinasi Wisata Negeri di Atas Awan dengan Panorama Danau Toba

Mutu Beton Tidak Bisa Dinilai Hanya dari Tampilan

Hal penting lainnya adalah membedakan antara metode produksi beton dengan mutu beton.

Beton yang sudah mengeras tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan tampilan permukaannya apakah dibuat menggunakan Ready Mix atau molen kecil.

Begitu pula, kualitas beton tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat apakah permukaan beton terlihat keras atau tidak.

Untuk mengetahui mutu beton secara objektif, diperlukan pemeriksaan terhadap dokumen mix design, material yang digunakan, proses pelaksanaan, serta pengujian yang sesuai dengan standar dan spesifikasi pekerjaan.

Dengan demikian, persoalan penggunaan molen kecil di proyek Bendungan Sarulla perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari alat yang digunakan, tetapi juga apakah metode tersebut memenuhi persyaratan teknis pekerjaan dan menghasilkan beton sesuai mutu yang dipersyaratkan.

Pengawas Proyek Belum Memberikan Klarifikasi Lanjutan

Saat dikonfirmasi kembali melalui sambungan telepon selular mengenai sejumlah persoalan tersebut, termasuk informasi penggunaan material batu kali dan dugaan pola pengerjaan paket senilai Rp9 miliar, Rinaldi Sianturi belum memberikan respons atau jawaban.

Konfirmasi lebih lanjut diperlukan agar informasi yang beredar di masyarakat dapat diuji dan tidak menimbulkan kesimpulan sepihak.

Terlebih, proyek dengan nilai hampir Rp25 miliar tersebut merupakan pekerjaan yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Karena itu, transparansi mengenai kontrak, metode pelaksanaan, spesifikasi material, pengendalian mutu, serta hasil pekerjaan menjadi penting untuk memastikan pembangunan Bendungan Sarulla berjalan sesuai ketentuan. (KSC)

Pos terkait