KLIKSUMUT.COM | LANGKAT ~ Pagi itu, ketika matahari mulai meninggi, Desa Pasar Rawa diselimuti suara riuh tawa dan langkah kaki anak-anak sekolah. Mereka berbaris di tepi hutan mangrove, menyentuh lumpur, belajar mengenali akar-akar mangrove yang menjulang, menyerupai jari-jari alam yang bangkit kembali.
Kegiatan itu menjadi bagian dari Program Edukasi Pelestarian Mangrove Bersama Siswa/i yang digelar oleh KTH Penghijauan Maju Bersama. Program ini juga terintegrasi dengan Program Pelibatan & Pengembangan Masyarakat PT Pertamina EP Pangkalan Field, yang menekankan keseimbangan antara edukasi, pelestarian alam, dan pemberdayaan masyarakat.
BACA JUGA: Kuat Dugaan Konservasi Mangrove Tapak Kuda Kena Sabotase Politik Keluarga Kades
Suasana semakin hangat ketika para siswa mulai menanam bibit mangrove di tepi lumpur. Bibit-bibit itu menjadi simbol lembar baru perjalanan ekowisata Pasar Rawa, sekaligus tanda bahwa alam dan generasi muda bisa berjalan beriringan.
Vice President Corporate Secretary PHR Regional 1, Eviyanti Rofraida, menegaskan, program ini menjadi percik harapan bagi pemulihan kawasan mangrove.
“Kami bersyukur bisa mengedukasi anak-anak mengenai bagaimana mengenali, mengelola, dan memanfaatkan mangrove,” ujarnya kepada kliksumut.com, Rabu (26/11/2025).
BACA JUGA: Dorong Pengurangan Emisi Karbon, Telkomsel Tanam 2 Ribu Bibit Mangrove di Langsa
Dari Kawasan Nyaris Mati Hingga Ekowisata
Di balik tawa dan semangat anak-anak, tersimpan kisah panjang rehabilitasi ekosistem yang hampir punah. Sejak 2022, Kasto Wahyudi, tokoh masyarakat, bersama Pertamina EP Pangkalan Susu Field, memulai upaya pemulihan. Hingga 2025, mereka menanam lebih dari 5.800 batang mangrove, mengubah pesisir yang gersang menjadi kawasan hijau nan hidup.
“Dulu mangrove di kawasan ini, tidak sebagus ini. Sekarang sudah bagus. Terima kasih Pertamina,” kata Kasto, Ketua Kelompok Tani Penghijauan (KTH) Maju Bersama, yang kini memimpin pengembangan ekowisata Pasar Rawa.
Transformasi tak berhenti di situ. Pengelolaan homestay pertama di Pasar Rawa muncul dari pengalaman turis asing yang terpukau dengan keindahan mangrove dan ingin tinggal lebih lama.
“Karena pernah turis asing datang ke sini dan nyaman, maka kami ingin punya tempat menampung mereka,” jelas Kasto.
Homestay ini menjadi pintu bagi masyarakat untuk mengembangkan ekonomi baru. Selain menyambut wisatawan, warga mulai menawarkan kuliner khas dan produk olahan, seperti Ikan Baronang Crispy, menjadikan ekowisata sebagai lahan belajar sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Sinergi Alam dan Kesejahteraan Warga
Field Manager Pertamina EP Pangkalan Susu, Edwin Susanto, menekankan pentingnya menjaga sinergi antara manusia dan alam.
“Program Edu Ekowisata Mangrove Pasar Rawa kami lakukan karena maraknya alih fungsi lahan. Semoga bermanfaat bukan hanya bagi masyarakat yang mencari rezeki, namun juga bagi alam yang menjadi filter hidup,” ujarnya.
Selain edukasi dan pariwisata, Pertamina menyiapkan rencana jangka panjang untuk kawasan ini, termasuk pusat pembibitan udang dan ikan, demi mendukung ketahanan pangan dan energi berkelanjutan.
Homestay yang baru diresmikan bukan sekadar bangunan. Ia menjadi simbol harapan: alam yang dirawat akan memberi manfaat, masyarakat yang diberdayakan akan tumbuh mandiri, dan anak-anak yang teredukasi akan menjadi penjaga bumi masa depan.
Hari itu, Desa Pasar Rawa merayakan bukan hanya sebuah peresmian fisik, melainkan masa depan hijau yang berkelanjutan, harmonis, dan manusiawi. (KSC)
REPORTER: Dody Ariandi








