Penghulu di Medan Gowes 5 KM Demi Akad Nikah Tepat Waktu di Tengah Kelangkaan BBM

Penghulu di Medan Gowes 5 KM Demi Akad Nikah Tepat Waktu di Tengah Kelangkaan BBM
Penghulu di Medan gowes 5 KM demi akad nikah di Kecamatan Medan Perjuangan. (foto/ist)

KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Minggu  pagi (30/11/2025), Kota Medan kembali diselimuti ketidakpastian akibat kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Distribusi yang terganggu karena cuaca ekstrem, badai, dan gelombang tinggi membuat antrean di SPBU mengular. Mobilitas warga tersendat, roda aktivitas terseret perlahan.

Namun, di tengah situasi yang membuat banyak orang mengeluh dan menyerah, satu peristiwa kecil tetapi menggetarkan hati terjadi di Kecamatan Medan Perjuangan.

Pukul 08.00 WIB, pasangan calon pengantin Dicky Kurnia dan Mia Handayani Dalimunthe menanti dengan harap cemas di rumah mereka, Jalan Pelita IV No. 03. Di saat sebagian orang kesulitan keluar rumah karena kehabisan bensin, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Medan Perjuangan, H. Ramlan, MA, justru mengambil keputusan tak biasa.

Ia meninggalkan motor dan mobilnya. Ia memilih mengayuh sepeda. Demi satu tujuan: memastikan akad nikah berlangsung tepat pukul 09.00 WIB.

“Masyarakat berhak mendapatkan layanan terbaik. Tugas pencatatan nikah ini adalah ibadah, dan kami tidak boleh menunda kebahagiaan sepasang calon pengantin hanya karena kami kehabisan bensin,” ujar H. Ramlan dengan pelipis masih berkeringat saat tiba di lokasi.

BACA JUGA: SPBU Swasta Alami Kelangkaan BBM: Dirut Pertamina Sebut Pihaknya Tidak Lakukan Praktik Ajas Manfaat

Di bawah terik matahari Medan, Ramlan mengayuh sepeda gunungnya melewati jalanan padat. Setelan jas rapi dan peci hitam tampak kontras dengan roda sepeda yang terus berputar. Tak ada keluhan, tak ada ragu  hanya komitmen pada pelayanan.

Melihat sang penghulu datang dengan sepeda, Dicky dan Mia langsung larut dalam haru.

Bacaan Lainnya

“Kami benar-benar tidak menyangka. Situasi BBM sedang sulit, tapi Pak Ramlan tiba tepat waktu. Kami merasa sangat dihargai,” kata Mia dengan mata berkaca-kaca.

Setelah mengambil napas sejenak, H. Ramlan langsung memimpin prosesi akad nikah. Suasana hening seketika ketika Dicky mengucapkan ijab kabul dengan lantang, menandai sahnya ikatan mereka.

Momen sederhana itu menjadi istimewa — bukan hanya bagi mempelai, namun juga bagi sang Kepala KUA yang baru saja berjibaku di jalan demi pelayanan.

Aksi Ramlan cepat menyebar di lingkungan internal Kemenag. Banyak penghulu dan penyuluh agama mulai mempertimbangkan penggunaan sepeda, becak motor listrik, atau transportasi umum sebagai alternatif saat kondisi darurat.

BACA JUGA: LBH Medan : BBM Langka di Sumut, Pertamina Harus Bertanggungjawab

Langkah Ramlan dianggap sebagai pesan moral bahwa pelayanan publik tidak boleh ikut lumpuh meski energi sedang langka.

Akad nikah Dicky dan Mia bukan hanya peristiwa administratif. Ia menjadi simbol pengabdian seorang pelayan masyarakat yang rela berkorban tenaga dan waktu demi hak warga.

Pengorbanan kecil itu memberi makna besar: Pelayanan prima bukan soal kenyamanan petugas, tetapi soal terpenuhinya kebutuhan masyarakat. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait