Perlu Pemberdayaan Masyarakat
Masyarakat seharusnya menjadi subyek di tengah upaya menata kembali destinasi wisata Labuan Bajo, termasuk Pulau Komodo dan kawasan sekitarnya. Penekanan itu disampaikan Direktur Yayasan Komodo Indonesia Lestari (Yakines) Labuan Bajo, Gabriela Uran ketika dihubungi VOA.
“Untuk kawasan Taman Nasional Komodo itu, supaya masyarakat sejahtera, alam juga tetap dijaga dengan baik, perlu ada pemberdayaan masyarakat yang berada di pulau-pulau di kawasan sekitar itu. Supaya konsep wisata yang berbasis rakyat itu betul-betul jalan, tidak hanya dinikmati oleh para pengusaha atau investor saja, tetapi orang lokal juga harus berdaya,” paparnya.
Pemberdayaan, lanjut Gabriela, adalah upaya terus menerus, dan tidak boleh didasarkan pada proyek. Konsep proyek adalah bahwa setelah selesai program, maka akan selesai pula pemberdayaan. Jika konsep itu diterapkan, tujuan pemberdayaan tidak akan pernah tercapai.
BACA JUGA: Kasus ITE Yang Menjerat Siswa SMA di NTT, Kabareskrim: Kasusnya Sudah Dihentikan
Pemberdayaan juga bermakna, masyarakat dilibatkan dalam perencanaan.
“Masyarakat harus didengar, sejak mulai dari kajiannya. Apa kata masyarakat, harapan-harapan mereka, gagasan-gagasan mereka, potensi lokal yang mereka miliki. Setelah itu, dalam proses pelaksanaan, mereka juga terlibat, dan juga dalam monitoring dari setiap kegiatan itu,” kata Gabriela.
Jika masyarakat terlibat aktif, mereka akan berdaya dan mampu mengambil manfaat dari proses itu. Otomatis, mereka akan sejahtera dari pengelolaan wisata.
“Jika masyarakat lokal sejahtera, dia bisa menjaga alam dengan baik. Sementara orang luar, bisa memanfaatkan itu untuk menikmati sebagai wisata,” urai Gabriela.
Konsep ini seperti lingkaran yang saling berhubung, antara potensi wisata, pengelolaan, kesejahteraan, dan kemauan menjaga kelestarian alam. Jika masyarakat sejahtera melalui pariwisata yang berkelanjutan, mereka otomatis akan ikut melestarikan alam.
Gabriela menekankan, kelompok perempuan di kawasan tersebut harus mendapat perhatian khusus.
“Dari pengalaman kerja kami tentang konservasi alam, perempuan itu seringkali tidak terlalu dilibatkan. Paling di hal-hal kecil seperti ekonomi kreatif, menyiapkan bahan-bahan untuk dijual segala macam. Tapi, dasar-dasar konservasi mereka seharusnya juga tahu,” kata Gabriela. (VOA)








