KLIKSUMUT.COM – Nama NTRL, yang dulu dikenal sebagai Netral, sudah tidak asing di telinga pencinta musik rock alternatif Indonesia. Band yang resmi berdiri pada 11 November 1992 ini menjadi saksi perjalanan panjang musik Indonesia dari era MTV hingga platform digital masa kini. Dengan semangat yang konsisten dan karakter musik yang jujur, NTRL tetap eksis lebih dari tiga dekade di industri musik Tanah Air.
Band ini awalnya dibentuk oleh tiga sahabat SMA Bagus Dhanar Dhana (vokal & bass), Gabriel Bimo Sulaksono (drum), dan Ricky Dayandani alias Miten (gitar). Awalnya bernama Spektakuler, kemudian berganti menjadi Netral saat mereka memutuskan untuk serius bermusik selepas lulus SMA.
Mengusung pengaruh musik alternatif dan punk dari band-band seperti Nirvana, Sex Pistols, dan Sonic Youth, Netral cepat dikenal lewat penampilan energik di berbagai panggung sekolah dan universitas sekitar Jakarta. Nama mereka mulai naik daun saat lagu “Wa..lah!!” dirilis dan tayang di MTV Indonesia yang saat itu bekerja sama dengan ANTV momen penting yang menandai era keemasan musik alternatif di Indonesia.
Kesuksesan album perdana Wa..lah!! (1995) yang terjual lebih dari 80.000 kopi membawa Netral ke jajaran band besar Tanah Air. Tak hanya itu, mereka dipercaya tampil satu panggung bersama band internasional seperti Foo Fighters, Sonic Youth, dan Beastie Boys dalam Jakarta Pop Alternatif Music Festival 1996.
Netral pun masuk nominasi BASF Award sebagai Pendatang Baru Terbaik Grup Rock — pencapaian besar bagi band independen saat itu.
BACA JUGA: Boomerang Reload: Kembali Menggema, Legenda Rock Surabaya Bangkit dari Keheningan
Selepas kepergian drummer Bimo pada 1998, posisi tersebut diisi oleh Eno Gitara Ryanto (Eno). Sementara Miten yang hengkang pada 1999 untuk melanjutkan studi di Amerika digantikan oleh Christopher Bollemeyer (Coki) pada 2002. Formasi Bagus–Eno–Coki inilah yang bertahan hingga kini, menjadi identitas kuat NTRL selama lebih dari dua dekade terakhir.
Netral terus menelurkan karya fenomenal seperti:
-
Tidak Enak (1997) dengan hits “Bobo” dan “Desaku”,
-
Album Minggu Ini (1998) dengan lagu “Pucat Pedih Serang”,
-
Paten (1999) yang meledak lewat tembang “Nurani”,
-
serta Kancut (2003) dengan hits “I Love You” dan “Namanya Juga Netral”.
Masuk tahun 2000-an, mereka semakin mandiri dengan membangun label sendiri Kancut Records, menandai era baru kebebasan berkarya tanpa tekanan industri besar. Album seperti Hitam (2005), Putih (2005), dan Unity (2012) memperlihatkan kedewasaan musikal NTRL dalam menggabungkan idealisme dan realitas pasar.
Lagu “Garuda di Dadaku” (2009) menjadi salah satu karya paling ikonik Netral. Lagu ini bahkan dijadikan soundtrack film berjudul sama dan kemudian diadaptasi menjadi “KPK di Dadaku” sebagai bentuk dukungan terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. Lewat lagu-lagu seperti ini, NTRL membuktikan bahwa musik mereka tidak hanya soal distorsi dan energi, tapi juga tentang sikap dan pesan moral.
Pada tahun 2015, band ini resmi berganti nama menjadi NTRL bentuk penyegaran tanpa meninggalkan akar sejarahnya. Lewat album 11/12 dengan single “Sakit Jiwa”, NTRL menegaskan eksistensinya di dunia musik modern. Tahun 2018, mereka merilis album XXV sebagai perayaan 25 tahun perjalanan karier musik.
BACA JUGA: /rif: Dari Badai Band Hingga Menjadi Ikon Rock Indonesia yang Tetap Eksis
Meski nama berubah, satu hal yang tidak pernah bergeser dari NTRL adalah kejujuran dalam bermusik. Bagi Bagus, Eno, dan Coki, musik adalah wadah ekspresi yang harus lahir dari hati — bukan dari tren sesaat.
“Kita cuma main musik dari hati, tanpa mikirin mau terkenal atau enggak. Kalau orang suka, berarti mereka ngerti apa yang kita rasain,” ujar Bagus dalam sebuah wawancara.
Kini, NTRL tetap aktif tampil di berbagai panggung musik, festival, dan platform digital. Dengan basis penggemar lintas generasi, NTRL terus membuktikan diri sebagai salah satu band rock alternatif paling berpengaruh di Indonesia. (KSC)








