KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid tidak boleh hanya dipahami sebagai tempat ibadah ritual semata, melainkan harus berperan lebih luas sebagai pusat pemberdayaan umat, penguatan nilai kemanusiaan, dan ruang perjumpaan seluruh lapisan masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada Amaliah Astra Awards 2025 yang diselenggarakan Yayasan Amaliah Astra (YAA) di Astra Tower, Jakarta, Rabu (14/1/2025).
“Masjid memiliki fungsi strategis dalam membangun peradaban. Apa yang dilakukan Yayasan Astra ini patut dicontoh, bukan hanya oleh perusahaan, tetapi juga oleh institusi pemerintah,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Menag menjelaskan, sejak masa Rasulullah SAW, Masjid Nabawi telah menjadi pusat kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan, hanya sekitar 20 persen aktivitas masjid digunakan untuk ibadah ritual, sementara 80 persen lainnya dimanfaatkan untuk urusan sosial, pendidikan, hingga pemerintahan.
“Masjid itu adalah meeting point antara hamba dengan Tuhannya. Problem apa pun yang kita hadapi, selesaikan di atas sajadah. Seberat apa pun persoalan, jika diselesaikan di tempat yang sakral, maka akan terasa ringan,” tuturnya.
BACA JUGA: Menag Tegaskan Peran Strategis Kemenag Jaga Persatuan Bangsa di Rakerwil Sultra 2026
Lebih jauh, Menag mengungkapkan bahwa Masjid Nabawi juga berfungsi sebagai sekretariat negara, pengadilan, lembaga pendidikan formal dan nonformal, balai keterampilan, pusat informasi perdagangan, bahkan ruang dialog lintas agama.
“Masjid bukan hanya rumah umat Islam, tetapi rumah kemanusiaan. Karena itu, ke depan kita tidak hanya mengurus masjid, tetapi juga rumah-rumah ibadah lainnya, dengan tujuan yang sama, yakni membebaskan kemiskinan dan memberdayakan umat,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menag juga mendorong pengelolaan keagamaan yang lebih produktif dan berkelanjutan melalui optimalisasi zakat dan wakaf yang telah difasilitasi negara.
Menurutnya, dana umat tidak seharusnya bersifat konsumtif semata, tetapi harus dikelola secara profesional agar mampu memberikan dampak sosial jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Astra, Boy Kelana Soebroto, menyampaikan bahwa Amaliah Astra Awards 2025 diikuti oleh 537 masjid, meningkat sekitar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
BACA JUGA: Kemenag Asahan Gelar Tasyakuran HAB ke-80, Sinergi untuk Indonesia Damai
“Peningkatan partisipasi ini mencerminkan semakin besarnya kesadaran pengelola masjid untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi jamaah dan masyarakat,” ujarnya.
Senada, Ketua Pembina Yayasan Astra, Gita Tiffany Boer, menambahkan bahwa pembinaan masjid di lingkungan Astra diarahkan agar masjid tidak hanya makmur secara fisik, tetapi juga mampu memberikan inspirasi, ketenangan, dan keseimbangan spiritual di tengah padatnya aktivitas masyarakat modern.
Diketahui, Amaliah Astra Awards telah diselenggarakan secara konsisten selama lima tahun terakhir, termasuk pada masa pandemi Covid-19 melalui format daring. Program ini dinilai menjadi praktik baik kolaborasi dunia usaha dalam memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat yang inklusif dan berorientasi masa depan. (KSC)
TIM REDAKSI








