Masjid Raya Kedatukan Sunggal: Ikon Bersejarah yang Dibangun dengan Putih Telur, Tetap Kokoh Sejak 1885

Masjid Raya Kedatukan Sunggal Ikon Bersejarah yang Dibangun dengan Putih Telur, Tetap Kokoh Sejak 1885
Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman dibangun pada tahun1885 oleh seorang Raja Sunggal bernama Datuk Badiuzzaman Surbakti. Masjid ini terletak dikawasan jalan Medan Sunggal, Kecamatan Sunggal, Medan, Sumatera Utara.. (kliksumut.com/Fahmi)

REPORTER: Fahmi

KLIKSUMUT.COM | MEDAN – Masjid Raya Kedatukan Sunggal Serbanyaman menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Deli melawan Kolonial Belanda. Berdiri sejak 1885, masjid bersejarah ini memiliki keunikan tersendiri, yakni dibangun menggunakan putih telur sebagai perekat utama. Hingga kini, bangunan tersebut tetap kokoh dan menjadi salah satu masjid tertua di Kota Medan.

Sejarah Perjuangan dan Penolakan Belanda
Masjid yang terletak di Jalan Medan Sunggal, Kecamatan Sunggal, Medan, Sumatera Utara ini didirikan oleh Datuk Badiuzzaman Surbakti, seorang Raja Sunggal yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Tanah Deli. Pembangunannya sempat mendapat penentangan dari Kolonial Belanda, yang saat itu berusaha menguasai wilayah Deli dan melarang penggunaan semen dalam pembangunan masjid.

BACA JUGA: Paus akan Kunjungi Masjid Istiqlal, Dorong Kerukunan Antarumat

Namun, semangat rakyat tidak padam. Sebagai solusi, para pekerja menggunakan putih telur sebagai perekat campuran pasir dan tanah untuk mendirikan masjid ini. Keunikan inilah yang menjadikan Masjid Raya Kedatukan Sunggal berbeda dari bangunan lainnya dan tetap berdiri megah hingga saat ini.

“Masjid ini adalah bukti nyata perjuangan para Raja dan Datuk di Tanah Deli saat Perang Tanduk Benua atau Perang Songgal yang berlangsung dari tahun 1672 hingga 1895 melawan Belanda,” ujar Datuk Muhammad Ikram, pengurus masjid, pada Jumat (7/3/2024).

Keunikan Arsitektur: Sentuhan Budaya Karo dan Melayu

Tak hanya memiliki sejarah panjang, Masjid Raya Kedatukan Sunggal juga memiliki arsitektur khas yang menggambarkan perpaduan budaya Karo dan Melayu. Hal ini terlihat dari:

– Enam jendela besar dengan dominasi warna hijau dan kuning, yang melambangkan kebudayaan Karo dan Melayu.
– Empat pilar hijau yang menjadi penyangga utama sekaligus ornamen khas masjid.
– Mimbar permanen dari batu, yang menambah nilai estetika sekaligus memperkuat kesan masjid kuno yang bersejarah.

Ramadan di Masjid Raya Kedatukan Sunggal: Destinasi Religi Favorit

Hingga kini, Masjid Raya Kedatukan Sunggal tetap ramai dikunjungi jamaah, terutama saat bulan Ramadan. Banyak warga lokal maupun dari luar kota datang untuk melaksanakan salat, beristirahat, hingga berbuka puasa bersama.

“Setiap harinya, masjid ini selalu ramai, terutama di bulan suci Ramadan. Ada yang datang dari Medan, bahkan dari luar kota,” tambah Datuk Muhammad Ikram.

Selain itu, pihak pengelola masjid rutin mengadakan berbagai kegiatan keagamaan selama Ramadan, seperti: Pengajian, Tadarus Al-Qur’an, Salat Tarawih berjamaah dan Berbuka puasa Bersama.

BACA JUGA: Ribuan Warga Padati Salat Idulfitri Perdana di Masjid Raya Al Jabbar

Warisan Sejarah yang Dijaga Kelestariannya

Sebagai masjid yang menyimpan banyak kisah perjuangan, keberadaan Masjid Raya Kedatukan Sunggal menjadi aset berharga yang terus dilestarikan. Pihak pengelola berkomitmen untuk menjaga keaslian bangunan dan memastikan masjid ini tetap menjadi tempat ibadah yang nyaman bagi umat Muslim.

“Masjid ini pernah digunakan sebagai tempat bermusyawarah dan menyusun strategi perang melawan Belanda. Kini, kami berupaya agar sejarahnya tetap hidup dan tidak terlupakan,” tutup Datuk Muhammad Ikram.

Dengan segala keunikan sejarah dan arsitekturnya, Masjid Raya Kedatukan Sunggal bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ikon wisata religi yang wajib dikunjungi di Kota Medan. (KSC)

Bacaan Lainnya

Pos terkait