KLIKSUMUT.COM – Nama Marvells mungkin tidak asing bagi penikmat musik Indonesia era 2000-an. Grup musik asal Bandung ini dikenal dengan perjalanan karier yang penuh dinamika, mulai dari pergantian label hingga sorotan media akibat konflik yang sempat viral.
Marvells digawangi oleh Icom (drum), Yana (vokal), Dony (bass), dan Idea (gitar). Nama “Marvells” sendiri memiliki makna unik, diambil dari buku nama bayi yang berarti sesuatu yang lebih baik—mencerminkan harapan besar para personelnya dalam berkarya di industri musik.
Sebelum dikenal luas sebagai Marvells, band ini sebenarnya memulai perjalanan dengan nama The Cat. Kala itu, mereka sempat merilis album di bawah label Musica Studios. Namun, perjalanan mereka tidak berhenti di sana.
Setelah berpindah ke label Modern Grup, mereka mengganti nama menjadi Marvells dan merilis album Dari Dasar Dunia. Pada album debut tersebut, mereka menggandeng musisi ternama Yovie Widianto, yang turut memberi warna pada karya mereka.
Merasa distribusi album kurang maksimal, Marvells kembali berpindah label ke SMM Records. Di bawah label ini, mereka merilis album kedua bertajuk Marvells dengan lagu andalan “Kisah Aku”, yang cukup dikenal di kalangan penikmat musik Tanah Air.
BACA JUGA: MALIQ & D’Essentials: Perjalanan Panjang Band Jazz Pop Indonesia yang Konsisten Berkarya
Tak hanya itu, pada 2009 mereka merilis album April, 2009 dengan single rock berjudul “Lagi Bohong” yang menunjukkan eksplorasi musikalitas mereka.
Nama Marvells sempat menjadi sorotan publik pada Agustus 2007. Hal ini terjadi setelah insiden pemukulan yang melibatkan gitaris mereka, Idea, dengan vokalis Pasha Ungu dari band Ungu.
Meski konflik tersebut bersifat personal, dampaknya cukup besar hingga menyeret nama Marvells ke berbagai pemberitaan media saat itu.
Memasuki bulan Ramadan 1429 H (September 2008), Marvells merilis karya religi bernuansa Islam. Lagu seperti “Seperti Kapas”, “Jangan Tinggalkan Aku”, dan “Dimanakah Akhir Ceritaku” menjadi simbol perjalanan spiritual yang dikemas dalam satu benang cerita bertema pencarian.
Pada tahun 2010, Marvells harus kehilangan salah satu personelnya, Guggie. Meski begitu, mereka tetap berkarya dan merilis album Udara dengan lagu utama berjudul sama.
BACA JUGA: Mahkota Band: Grup Pop Asal Cianjur yang Melejit Lewat Album “Jangan Ganggu Dulu”
Perjalanan Marvells mencerminkan dinamika band Indonesia yang harus beradaptasi dengan perubahan industri musik. Meski tidak selalu berada di puncak popularitas, mereka tetap dikenang sebagai salah satu band dengan karakter kuat di era 2000-an.
Dengan berbagai fase yang dilalui mulai dari pergantian nama, konflik, hingga eksplorasi genre Marvells membuktikan bahwa konsistensi dan keberanian bereksperimen menjadi kunci untuk bertahan di industri musik Tanah Air. (KSC)
TIM REDAKSI








