Ketua GMNI STITBA: Balikpapan di Persimpangan Krisis Iklim, Hutan Lindung Terancam

Ketua GMNI STITBA: Balikpapan di Persimpangan Krisis Iklim, Hutan Lindung Terancam
ANCAMAN EKOSISTEM SUNGAI WAIN: Ketua GMNI STITBA Balikpapan, Andy Hadzan Hasdiansyah, menyoroti aktivitas ilegal di hutan lindung Sungai Wain yang terus mengancam ekosistem dan kualitas hidup warga Balikpapan. (FOTO: Arif Genta Buana)

KLIKSUMUT.COM | BALIKPAPAN ~ Kota Balikpapan sebagai etalase hijau di beranda Ibu Kota Nusantara (IKN), kini menghadapi krisis lingkungan yang serius. Di balik slogan pembangunan, aktivitas gergaji mesin terus merusak hutan lindung Sungai Wain, benteng terakhir ekosistem kota.

Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Balikpapan (STITBA), Andy Hadzan Hasdiansyah, menegaskan bahwa krisis iklim bukan terjadi tiba-tiba, melainkan dibangun, diizinkan, dan dinormalisasi selama bertahun-tahun, Kamis (1/1/2026).

BACA JUGA: Menko PMK Pratikno Minta Daerah Siaga Ekstra Hadapi Bencana Hidrometeorologi Jelang Tahun Baru 2026

Ancaman Kerusakan di Sungai Wain

Andy Hadzan mengatakan, modus klasik pengupasan lahan ilegal terus berlangsung. Para pelaku membuka lahan sedikit demi sedikit, menyamarkan sebagai “lahan kosong”, dan berharap pemerintah terlambat bertindak. Hutan lindung Sungai Wain, yang menjadi paru-paru kota sekaligus penyangga air, menjadi salah satu korban utama.

“Pejabat sibuk menenangkan publik dengan angka; nol koma sekian persen. Tapi krisis iklim tak diukur dari statistik, tapi dari banjir yang makin sering, pesisir yang rapuh, dan suhu yang menyengat,” tegasnya.

BACA JUGA: MK Batalkan HGU 190 Tahun di IKN, Komisi II DPR Siap Evaluasi Total Aturan: “Final and Binding, Jangan Bikin Investor Panik”

Hukum dan Penegakan yang Lemah

Andy Hadzan juga menyoroti lemahnya penegakan hukum. Ekskavator terus beroperasi tanpa rasa bersalah, sementara rantai besar para pemodal, pembeli lahan, dan pembiayaan nyaris tidak tersentuh. Pemerintah harus memilih; terus memelihara ilusi “masih aman” atau berani mengakui bahwa krisis iklim sudah dekat.

“Balikpapan kini bertanya; Akankah kota ini terus memelihara ilusi ‘masih aman’ atau berani mengakui krisis iklim sudah mengetuk pintu?,” serunya.

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Terbit Perpres 79/2025, Otorita IKN Siap Bangun Kawasan Legislatif dan Yudikatif

Perlu Langkah Konkret

Andy Hadzan juga menyebutkan. dampak kerusakan ekosistem Sungai Wain telah nyata. Bencana hidrometeorologi meningkat, kualitas hidup warga menurun, dan risiko bagi generasi mendatang terus bertambah. Andi menekankan transparansi data, audit independen, dan penegakan hukum tanpa kompromi sebagai syarat minimum.

“Kota ini butuh keberanian mengakui masalah dan bertindak cepat. Harus ada upaya penyelamatan Hutan lindung Sungai Wain, bukan malah menjadi korban pembangunan. Langkah konkret diperlukan: patroli ketat, sanksi tegas, dan restorasi ekosistem,” ujarnya. (KSC)

REPORTER: Arif Genta Buana

Pos terkait