Kemenperin Dorong IKM Logam Naik Kelas

Kemenperin Dorong IKM Logam Naik Kelas
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) melalui program pendampingan penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2015.

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) melalui program pendampingan penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2015. Langkah strategis ini ditujukan agar IKM, khususnya sektor logam dan permesinan, mampu meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi, serta memperluas peluang menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun global.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan tata kelola usaha dan mutu produk merupakan kunci utama agar IKM mampu bersaing di tengah kompetisi industri yang semakin ketat.

Menurutnya, pelaku IKM saat ini tidak hanya dituntut menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga harus mampu memenuhi aspek Quality, Cost, and Delivery (QCD) yang menjadi tolok ukur kepercayaan konsumen dan industri besar.

“Upaya tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 yang mencakup pengendalian proses bisnis, mulai dari budaya organisasi, pengelolaan sumber daya manusia, proses produksi, hingga evaluasi berkelanjutan,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Agus menjelaskan, semakin banyak perusahaan besar yang kini mensyaratkan kepemilikan sertifikat ISO 9001:2015 sebagai prasyarat awal menjalin kemitraan dengan pelaku IKM.

Bacaan Lainnya

Karena itu, sertifikasi ISO tidak lagi sekadar menjadi pelengkap administrasi, melainkan telah menjadi kebutuhan strategis untuk meningkatkan daya saing sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.

“Sertifikat ISO 9001:2015 telah menjadi salah satu persyaratan penting bagi IKM untuk dapat bergabung dalam rantai pasok industri. Karena itu, Kemenperin terus memberikan pendampingan agar pelaku IKM mampu memahami sekaligus menerapkan standar tersebut secara optimal,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) menggelar Workshop Sosialisasi dan Asesmen Sistem Manajemen Mutu pada 18–19 Juni 2026 di Jawa Barat.

Program ini merupakan bagian dari Fasilitasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 bagi IKM Logam dan Permesinan yang secara konsisten telah dilaksanakan sejak tahun 2021.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengatakan, pendampingan sertifikasi ISO diharapkan mampu mendorong lebih banyak IKM naik kelas melalui peningkatan tata kelola perusahaan, efisiensi proses produksi, dan kualitas produk.

BACA JUGA: Prabowo Dorong BUMN Alokasikan Laba untuk Riset

“Kami berharap semakin banyak IKM yang memiliki sistem manajemen yang baik sehingga mampu menghasilkan produk yang berkualitas, lebih efisien, berdaya saing tinggi, dan siap menjadi bagian dari ekosistem industri yang lebih besar,” ujar Reni.

Reni mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah IKM di Indonesia saat ini mencapai sekitar 4,4 juta unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 13,4 juta orang atau sekitar 65,38 persen dari total tenaga kerja industri nasional berdasarkan Sakernas 2025.

Namun, kontribusi nilai tambah industri pengolahan nonmigas pada triwulan I 2026 masih didominasi industri besar sebesar 78,45 persen, sedangkan kontribusi IKM baru mencapai 21,55 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang peningkatan produktivitas IKM masih sangat besar.

“Mengingat jumlah pelaku IKM mendominasi sektor industri nasional, peningkatan produktivitas sekecil apa pun akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Pada pelaksanaan program di Jawa Barat, Ditjen IKMA menggandeng UPTD Industri Logam Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat serta Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Bahan dan Barang Teknik (BBSPJIBBT).

Plt. Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Budi Setiawan menjelaskan bahwa program pendampingan terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu:

  1. Workshop Sosialisasi dan Asesmen Sistem Manajemen Mutu.
  2. Pendampingan Implementasi ISO 9001:2015.
  3. Audit Sertifikasi ISO 9001:2015.

Workshop yang berlangsung selama dua hari tersebut diikuti 10 peserta yang mewakili lima IKM logam dan permesinan di Jawa Barat.

Peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari penguatan motivasi, pemahaman teknis penerapan ISO, diskusi, asesmen mandiri, hingga asesmen lapangan untuk mengukur tingkat kesiapan masing-masing perusahaan.

BACA JUGA: Pemerintah Siap Turunkan Harga Gas Industri Non-Subsidi, KSPI: Langkah Strategis Cegah Gelombang PHK

Hasil asesmen akan menjadi dasar dalam menentukan peserta yang paling siap mengikuti pendampingan intensif hingga proses audit sertifikasi ISO.

Budi berharap program ini tidak hanya dimanfaatkan untuk memperoleh sertifikat, tetapi juga menjadi langkah awal membangun tata kelola usaha yang lebih profesional.

“Kami berharap program fasilitasi ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai upaya memperoleh sertifikat, tetapi juga menjadi fondasi bagi pelaku IKM dalam membangun tata kelola usaha yang semakin profesional, meningkatkan mutu produk secara berkelanjutan, serta memperluas akses pasar dan kemitraan dengan industri yang lebih besar,” tutup Budi. (KSC)

REDAKSI

Pos terkait