IHSG & Rupiah Melemah Usai BI dan The Fed Tahan Suku Bunga, Gejolak Global Bayangi Pasar

IHSG & Rupiah Melemah Usai BI dan The Fed Tahan Suku Bunga, Gejolak Global Bayangi Pasar
Ilustrasi Pasar keuangan Indonesia ditutup lesu pada perdagangan Rabu (18/6/2025), seiring respons negatif investor atas keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuannya. (kliksumut.com/AI/ist)

Pasar keuangan Indonesia tertekan oleh keputusan bank sentral, ketegangan geopolitik, dan arah kebijakan global yang belum pasti. Ekonomi RI diprediksi tetap tangguh meski badai global belum reda.

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia ditutup lesu pada perdagangan Rabu (18/6/2025), seiring respons negatif investor atas keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuannya. Di tengah ketidakpastian global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak melemah.

IHSG ditutup merosot 0,67% atau 48 poin ke level 7.107,79, sementara rupiah melemah 0,12% ke posisi Rp 16.295 per dolar AS. Tekanan terhadap pasar domestik makin kuat seiring keputusan The Federal Reserve yang juga memilih untuk menahan suku bunganya dan memberikan sinyal penundaan pemangkasan suku bunga.

BACA JUGA: Harga Emas Melonjak 30% Sepanjang 2025, Geser Dolar dan Treasury Jadi Safe Haven Utama

IHSG Melemah, Sektor Properti Jadi Pengecualian

Data BEI menunjukkan, dari total 801 saham yang diperdagangkan, 361 saham melemah, 228 menguat, dan 212 stagnan. Nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp 11,24 triliun dengan volume transaksi 20,31 miliar saham dalam lebih dari 1,2 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turun ke Rp 12.455 triliun.

Sektor properti menjadi satu-satunya sektor yang bertahan di zona hijau dengan kenaikan hampir 3%, sementara sektor utilitas (-1,33%), finansial (-1,3%), dan bahan baku (-1,28%) menjadi pemberat terbesar IHSG.

Dari sisi saham, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang koreksi terbesar. AMMN turun 4%, memotong -11,85 poin IHSG, sedangkan BBCA anjlok 1,93%, menyumbang -8,52 poin.

BI Pertahankan Suku Bunga 5,50%, Pasar Kecewa

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 17-18 Juni 2025 memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di 5,50%, serta suku bunga Deposit Facility di 4,75%, dan Lending Facility di 6,25%.

BI menilai kebijakan ini konsisten dengan target inflasi 2,5±1% serta menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat. Namun pasar tampaknya mengharapkan sinyal pelonggaran moneter, sehingga reaksi pasar menjadi negatif.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa bank sentral akan terus mencermati ruang untuk penurunan suku bunga di masa mendatang. “Kami akan menjaga stabilitas sambil tetap membuka ruang akselerasi pertumbuhan ekonomi,” katanya.

The Fed Tahan Suku Bunga, Gagal Puaskan Pasar Global

Bank sentral AS, The Federal Reserve, juga menahan suku bunga di kisaran 4,25–4,50%. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa tekanan inflasi akibat tarif Presiden Donald Trump terhadap barang impor kemungkinan akan meningkat dalam waktu dekat.

Meskipun The Fed memberikan proyeksi dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, namun meningkatnya jumlah anggota FOMC yang tidak lagi mengharapkan penurunan suku bunga membuat investor pesimis.

Di Wall Street, Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah masing-masing 0,10% dan 0,03%, sementara Nasdaq berhasil menguat 0,13%. Powell menegaskan bahwa The Fed akan bersikap hati-hati sebelum memangkas suku bunga lebih lanjut.

Rupiah Tertekan, Obligasi Diminati

Nilai tukar rupiah yang melemah ke Rp 16.295/US$ terjadi pasca keputusan BI. Ketegangan geopolitik dan dolar AS yang kuat menjadi penyebab utama.

Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan minat beli yang meningkat. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun tipis ke 6,677%, mengindikasikan pelaku pasar mengalihkan dana ke Surat Berharga Negara (SBN).

Gejolak Global: Perang Israel-Iran, G7 Dukung Tel Aviv

Konflik Israel-Iran terus menjadi momok pasar global. Dalam KTT G7 terbaru, negara-negara anggota G7 mendeklarasikan dukungan penuh kepada Israel dan menyalahkan Iran atas ketegangan yang terjadi.

Pernyataan itu menjadi sentimen negatif baru bagi pasar yang sudah rapuh akibat perang dagang, tarif, dan suku bunga tinggi. G7 juga memperingatkan bahwa Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir dalam kondisi apa pun.

Ekonomi RI Tetap Optimistis: Target Pertumbuhan 5,4%, Laffer Yakin Bisa 8%

Meski tekanan global menguat, optimisme masih datang dari dalam negeri. Dalam forum CNBC Economic Update 2025, ekonom senior AS Arthur Laffer menyatakan keyakinannya bahwa ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh hingga 8% jika kebijakan pro-pasar ditegakkan.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan bahwa ketidakpastian global saat ini bisa menjadi permanen akibat pergeseran menuju unilateralisme, yakni kecenderungan negara-negara besar menyelesaikan konflik ekonomi tanpa mengandalkan lembaga multilateral seperti WTO dan IMF.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Terus Tertekan, Investor Menanti Keputusan The Fed Pekan Ini

Proyeksi Pasar Hari Ini: Arah Belum Jelas, Waspadai Volatilitas

Hari ini, pasar diprediksi masih akan bergerak volatile, mencermati efek lanjutan dari keputusan BI dan The Fed. Sentimen negatif juga datang dari perkembangan konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Berikut ini sejumlah agenda ekonomi penting hari ini:
– DBS Treasures Group Discussion: Trusted Partner for Global Wealth
– Kolaborasi TikTok Shop, Tokopedia, dan Kemenperin untuk program KALCER
– Public Expose PT Archi Indonesia Tbk
– Sharia Investment Week (SIW) 2025 oleh BEI, KPEI, KSEI, OJK. (KSC/CNBC)

Pos terkait