KLIKSUMUT.COM – Harga emas dunia mencatat lonjakan luar biasa sepanjang tahun 2025, dengan kenaikan sekitar 30%, menjadikannya aset safe haven paling unggul dibandingkan yen Jepang, franc Swiss, dolar AS, dan surat utang AS (US Treasury).
Kondisi ini terjadi di tengah gejolak geopolitik, khususnya di Timur Tengah, dan ketidakpastian fiskal yang membayangi Amerika Serikat, serta meningkatnya ketegangan dagang global.
Menurut data perdagangan terkini, harga emas (kode XAU) kini diperdagangkan pada US\$3.403,09 per troy ons, setelah sempat mencapai puncak tertinggi di atas US\$3.500 pada April 2025. Sinyal kuat ini mempertegas bahwa emas kini menjadi pelarian utama investor saat risiko ekonomi global meningkat.
BACA JUGA: Harga Emas Dunia Bangkit Imbas Perang Iran-Israel dan Sinyal Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Emas: Aset Tak Tergantung Pemerintah
Keunggulan utama emas dibandingkan aset safe haven lainnya terletak pada sifat independennya terhadap kewajiban pemerintah.
“Keuntungan utama emas adalah tidak menjadi kewajiban siapa pun. Berbeda dengan obligasi dan mata uang yang tergantung pada kinerja ekonomi suatu negara,” jelas Nikos Kavalis, Direktur Pelaksana Metals Focus, dikutip dari CNBC International.
Sifat ini menjadikan emas semakin dicari di tengah meningkatnya keraguan terhadap pasar Treasury dan stabilitas fiskal AS.
Kinerja Aset Safe Haven Lain Melemah
Dibandingkan emas, beberapa aset safe haven lainnya menunjukkan kinerja lebih rendah:
* Indeks dolar AS melemah hampir 10% sepanjang tahun ini.
* Yen Jepang terapresiasi sekitar 8% terhadap dolar, namun menghadapi tekanan struktural dari kebijakan suku bunga rendah.
* Franc Swiss naik sekitar 10%, tetapi terkendala oleh kebijakan suku bunga negatif Swiss National Bank.
* Imbal hasil US Treasury 10 tahun turun 19 basis poin, menunjukkan kenaikan harga, tetapi juga merefleksikan kekhawatiran terhadap utang jangka panjang AS.
Ketidakpastian Fiskal dan Politik Dorong Emas
Analis menilai kenaikan harga emas dipicu oleh ketidakpastian kebijakan fiskal AS, termasuk penurunan peringkat kredit oleh Moody’s dan pengenaan tarif timbal balik oleh Presiden Donald Trump. Hal ini memicu aksi jual besar-besaran terhadap obligasi jangka panjang AS pada April dan Mei 2025.
“Ada perasaan yang berkembang bahwa masa depan dolar AS dan pasar Treasury AS tidak menentu. Ini mendorong investor mencari aset yang lebih stabil seperti emas,” ujar Shaokai Fan, Kepala Bank Sentral Global di World Gold Council.
Bank Sentral Dunia Borong Emas
Tak hanya investor ritel dan institusional, bank sentral global juga menunjukkan ketertarikan luar biasa terhadap emas. Pada 2024, bank sentral menambahkan 1.044,6 ton emas ke cadangan, menandai tahun ketiga berturut-turut pembelian melebihi 1.000 ton.
Bahkan, Bank Sentral Eropa melaporkan bahwa emas kini menjadi aset cadangan terbesar kedua, melampaui euro, dan mencakup hampir 20% dari cadangan global per akhir 2024.
Mengapa Emas Semakin Unggul?
Menurut Nicholas Frappell, Kepala Pasar Institusional Global di ABC Refinery, emas unggul karena:
* Tidak terpengaruh rasio utang terhadap PDB yang tinggi.
* Tidak tergantung pada keputusan kebijakan fiskal negara tertentu.
* Tidak memiliki risiko rekanan (counterparty risk), tidak seperti obligasi atau mata uang fiat.
BACA JUGA: Harga Emas dan Yen Jepang Jadi Pilihan Lindung Nilai di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global
“Emas adalah pasar yang besar, likuid, dan apolitis. Tidak diterbitkan oleh pemerintah mana pun, sehingga tidak membawa risiko politik,” tambah Fan dari World Gold Council.
Sementara itu, Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities menambahkan bahwa emas memiliki nilai intrinsik, yang menjadikannya aset safe haven sejati di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.
Outlook: Harga Emas Bisa Tembus Rekor Baru?
Dengan situasi geopolitik yang masih memanas, ketidakpastian fiskal AS belum mereda, dan bank sentral dunia terus menambah cadangan emas, banyak analis memperkirakan harga emas berpotensi menembus rekor baru dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, investor disarankan tetap mencermati fluktuasi pasar dan dinamika global yang bisa memengaruhi pergerakan harga logam mulia ini. (KSC/CNBC)







