KLIKSUMUT.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri 2026, sejumlah konsumen di berbagai daerah menyampaikan bahwa harga pangan di pasar tradisional masih relatif terkendali dan pasokan barang cukup mudah ditemukan.
Meski terdapat fluktuasi pada beberapa komoditas, masyarakat menilai kondisi pasar masih kondusif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama Ramadan hingga menjelang Lebaran.
Maryati, seorang konsumen yang berbelanja di pasar tradisional di Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, mengatakan harga beberapa komoditas bahkan mengalami penurunan dibandingkan pekan sebelumnya.
Menurutnya, harga ayam potong yang sempat berada di kisaran Rp40.000 per kilogram kini turun menjadi Rp38.000 per kilogram.
“Sekarang lebih turun dibandingkan minggu lalu. Semua kebutuhan rumah tangga saya beli di pasar ini. Harga ayam sebelumnya Rp40.000, sekarang turun jadi Rp38.000 per kilogram. Sampai saat ini kita bersyukur,” ujar Maryati, Jumat (13/3/2026).
Ia juga berharap harga kebutuhan pokok dapat terus stabil bahkan turun menjelang Lebaran.
Hal serupa disampaikan Zuria, warga yang berbelanja di Pasar Jombang, Tangerang Selatan. Ia melihat adanya perubahan harga pada sejumlah komoditas di minggu kedua Ramadan, meski tidak terlalu signifikan.
“Ada perubahan harga di minggu kedua ini, ada yang lebih murah sedikit. Ayam juga stabil. Mudah-mudahan harga pangan bisa turun lagi menjelang Lebaran,” kata Zuria.
Sementara itu, Rena, konsumen di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, menilai kenaikan harga yang terjadi masih dalam batas wajar dan tidak terlalu membebani masyarakat.
BACA JUGA: Cadangan Pangan Nasional Aman 324 Hari, Bapanas Pastikan Stok Beras RI Sangat Kuat
Ia juga menyebutkan bahwa ketersediaan bahan pangan di pasar masih cukup baik sehingga masyarakat tidak kesulitan mencari kebutuhan pokok.
“Harga memang ada kenaikan, tapi masih aman, tidak terlalu naik. Yang penting barang tidak susah dicari, dan sekarang masih tersedia semua,” ungkapnya.
Kondisi stabilnya harga dan pasokan pangan di lapangan juga tercermin dari data inflasi pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pangan pada Ramadan tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Komponen volatile food pada Februari 2026 tercatat sebesar 2,50 persen secara bulanan (month to month) dengan kontribusi 0,41 persen terhadap inflasi umum bulanan.
Sementara itu, inflasi pangan secara tahunan tercatat berada di level 4,64 persen. Angka ini masih berada dalam rentang target pemerintah sebesar 3 hingga 5 persen.
Jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, inflasi pangan pada Ramadan 2026 juga terlihat lebih stabil. Pada Ramadan 2022, inflasi pangan tercatat 5,48 persen, meningkat menjadi 5,83 persen pada Ramadan 2023, dan sempat melonjak hingga 10,33 persen pada Ramadan 2024.
Pemerintah memastikan akan terus menjaga stabilitas harga pangan agar tetap berada dalam koridor kewajaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Berbagai langkah strategis dilakukan, di antaranya memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah serta mendorong kerja sama antardaerah. Skema ini memungkinkan daerah dengan surplus pasokan pangan dapat memasok kebutuhan ke daerah yang mengalami kekurangan.
Selain itu, pengawasan juga diperketat melalui Satgas Saber pelanggaran harga, keamanan, dan mutu pangan.
BACA JUGA: Pantau Harga Pangan Ramadan 2026, Bapanas Sidak Pasar Jatinegara
Selama periode 5 Februari hingga 11 Maret 2026, tercatat sebanyak 47.217 kegiatan pengawasan telah dilakukan. Dari kegiatan tersebut, Satgas mengeluarkan 705 surat teguran, melakukan koordinasi pengisian stok kosong dalam 1.494 kegiatan, serta mengeluarkan rekomendasi pencabutan izin usaha sebanyak dua kasus dan pencabutan izin edar sebanyak empat kasus. Penegakan hukum juga dilakukan dalam enam kegiatan.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap stabilitas harga pangan tetap terjaga sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan menjelang Lebaran dengan lebih tenang. (KSC)
TIM REDAKSI






