KLIKSUMUT.COM – Harga minyak dunia diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kegagalan perundingan damai serta ancaman blokade Selat Hormuz oleh Presiden Donald Trump menjadi faktor utama yang memicu kekhawatiran pasar global.
Janiv Shah, Wakil Presiden Pasar Minyak di Rystad Energy, menyebut bahwa potensi blokade Selat Hormuz dapat mendorong lonjakan harga minyak secara drastis. Hal ini diperparah oleh meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah serta tidak tercapainya kesepakatan dalam perundingan damai terbaru.
“Ketegangan yang terus meningkat akan berdampak langsung pada pasokan minyak global, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu,” ujarnya.
BACA JUGA: Perang AS-Israel vs Iran Ancam Inflasi Pangan dan Minyak, Airlangga Soroti Risiko Blokade Selat Hormuz
Sementara itu, para trader di platform IG Group memperkirakan harga minyak mentah Amerika Serikat akan naik ke level 98 dolar AS per barel saat pembukaan perdagangan Senin pagi. Angka ini meningkat dari posisi penutupan sebelumnya di kisaran 96,57 dolar AS per barel pada Jumat lalu.
Pandangan lebih ekstrem datang dari Kirill Dmitriev, utusan ekonomi Presiden Rusia Vladimir Putin. Melalui platform X, ia menyebut harga minyak berpotensi melonjak hingga mencapai 150 dolar AS per barel dalam waktu dekat jika eskalasi konflik terus berlanjut.
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan proyeksi lonjakan tajam tersebut. Neil Wilson, Ahli Strategi Investasi di Saxo Bank (Saxo UK), menilai pasar mulai kebal terhadap retorika Presiden Trump.
“Kami dan pasar memahami bahwa Trump kerap menggunakan ancaman eskalasi sebagai strategi negosiasi,” ujarnya.
BACA JUGA: Bahlil Lahadalia Legalkan 45.000 Sumur Rakyat, Target Lifting Minyak Nasional Naik Drastis
Wilson menambahkan bahwa banyak investor saat ini mengandalkan strategi yang dikenal sebagai “TACO” (Trump Always Chickens Out), yakni keyakinan bahwa Trump pada akhirnya akan mengurungkan ancamannya. Dengan demikian, kenaikan harga minyak diperkirakan tidak akan berlangsung ekstrem dalam jangka panjang.
Meski begitu, pelaku pasar tetap diminta untuk mewaspadai perkembangan situasi geopolitik yang dapat berubah sewaktu-waktu dan berdampak besar terhadap stabilitas harga energi global. (KSC)





