Harga Emas Dunia Melejit Akibat Konflik Israel-Iran, Rekor Tertinggi Dekati US$3.500/troy ons

harga emas hari ini, harga emas naik, penyebab harga emas naik, emas 5 Juni 2025, dolar AS melemah, ketegangan Rusia Ukraina, ISM Services PMI turun, The Fed, konflik dagang AS China
Foto: emas gold. (CNBC)

KLIKSUMUT.COM | JAKARTA – Harga emas dunia terus melesat dan mendekati rekor tertinggi sepanjang masa seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran. Lonjakan permintaan terhadap aset safe haven membuat harga emas makin kokoh di atas level US$3.400 per troy ons, bahkan diperkirakan segera menembus US$3.500.

Mengutip data perdagangan pasar spot pada Senin pagi (16/6/2025) pukul 06.25 WIB, harga emas menguat 0,38% menjadi US$3.445,14 per troy ons, setelah pada perdagangan Jumat (13/6/2025) melonjak 1,42% ke level US$3.432,18 per troy ons. Kenaikan ini memperpanjang reli emas menjadi tiga hari berturut-turut dengan akumulasi penguatan mencapai 3,3%.

BACA JUGA: Harga Emas Meroket! Ketegangan Israel-Iran Dorong Harga Dekati Rekor Sepanjang Masa

Rekor harga penutupan ini telah mengalahkan catatan sebelumnya di US$3.424,30 per troy ons yang tercipta pada 21 April 2025. Sementara jika dilihat dari rekor intraday, harga tertinggi yang tercatat Jumat lalu adalah US$3.446,20, masih di bawah rekor historis US$3.500,05 pada 22 April 2025.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Kenaikan tajam harga emas dipicu oleh meningkatnya konflik militer di Timur Tengah. Serangan udara Israel ke wilayah Iran menjadi pemicu lonjakan permintaan terhadap aset lindung nilai.

“Israel menghancurkan beberapa target strategis Iran, dan hal ini menciptakan kekhawatiran geopolitik yang nyata di pasar global. Harga emas akan tetap tinggi karena pasar mengantisipasi balasan dari Iran,” kata Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist di RJO Futures, dikutip dari Reuters.

Pada Minggu malam, situasi memanas setelah kedua negara kembali saling meluncurkan serangan. Iran melaporkan 78 korban jiwa pada hari pertama serangan Israel, dengan tambahan 60 korban tewas di hari kedua akibat rudal yang menghantam apartemen 14 lantai di Teheran, termasuk 29 anak-anak.

Beberapa target strategis seperti depot minyak Shahran dan gedung Kementerian Pertahanan Iran juga diserang. Di pihak Israel, sirene serangan udara terdengar di Yerusalem dan Haifa, memaksa sekitar satu juta warga berlindung.

Konflik juga meluas ke kawasan lain. Kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, mengklaim telah menembakkan rudal balistik ke kota Jaffa, Israel tengah. Ini merupakan sinyal eskalasi serius di kawasan Timur Tengah.

Sentimen Tambahan: Inflasi AS dan Suku Bunga The Fed

Selain faktor geopolitik, harga emas juga didorong oleh data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Inflasi tahunan AS pada Mei 2025 tercatat 2,4%, naik dari 2,3% di April namun masih di bawah ekspektasi 2,5%.

Data Producer Price Index (PPI) AS juga menunjukkan perlambatan, dengan kenaikan tahunan sebesar 2,6% di Mei, tertahan oleh harga layanan seperti tiket pesawat yang menurun. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga.

Lingkungan suku bunga rendah secara historis selalu menguntungkan harga emas karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset non-yielding seperti logam mulia.

Proyeksi Harga Emas: Bisa ke US$4.000?

Sejumlah lembaga keuangan ternama melihat tren bullish harga emas belum akan berakhir. Goldman Sachs memproyeksikan harga emas akan mencapai US$3.700 per troy ons pada akhir 2025, dan bisa tembus US$4.000 pada pertengahan 2026. Sementara Bank of America (BofA) optimistis emas bisa naik ke US$4.000 dalam 12 bulan ke depan.

Namun di sisi lain, permintaan emas fisik di Asia justru melemah. Di India, misalnya, harga emas sudah melampaui batas psikologis 100.000 rupee, membuat konsumen menahan diri untuk membeli.

Fokus Pekan Ini: Keputusan The Fed

Investor emas kini menantikan hasil rapat kebijakan The Fed yang digelar pada Selasa dan Rabu pekan ini. Isyarat dovish atau keputusan pemangkasan suku bunga bisa menjadi katalis tambahan bagi emas untuk terus melambung.

Jika The Fed memberi sinyal pelonggaran moneter lebih cepat, harga emas berpotensi menembus level US$3.500 dan bahkan membuka jalan menuju US$3.600–3.700 per troy ons dalam waktu dekat. (KSC)

Pos terkait