Harga Emas Babak Belur, Jatuh 3 Hari Beruntun dan Tembus Level Terendah dalam 8 Hari

Harga Emas Terjun Bebas ke Level Terendah 2 Pekan, Gencatan Senjata Israel-Iran Jadi Pemicu
Harga emas dunia kembali anjlok dan menyentuh level terendah dalam dua minggu terakhir. (kliksumut.com/ist)

KLIKSUMUT.COM – Harga emas dunia mengalami pukulan telak sepanjang pekan ini. Tak hanya anjlok selama tiga hari berturut-turut, logam mulia ini juga terlempar dari level psikologis penting US\$ 3.400 per troy ounce. Penurunan ini memperpanjang derita emas yang sebelumnya sempat menjadi primadona di tengah ketidakpastian global.

Mengacu data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Jumat (25/7/2025) ditutup di level US\$ 3.335,93 per troy ounce, melemah 0,95% dalam sehari. Ini menjadi level terendah sejak 15 Juli 2025. Secara kumulatif, emas sudah melemah 2,88% dalam tiga hari terakhir dan 0,4% sepanjang pekan ini—lebih dalam dibanding pelemahan minggu lalu yang hanya 0,19%.

BACA JUGA: Perang Pecah di Perbatasan Thailand-Kamboja, Ketegangan Meningkat, Dunia Internasional Cemas

Deretan Rekor Buruk Harga Emas Pekan Ini

Pelemahan harga emas kali ini mencatatkan lima rekor negatif yang cukup signifikan:
1. Harga penutupan terendah dalam 8 hari
Penutupan di US\$ 3.335,93 pada Jumat menjadi yang terendah sejak 15 Juli 2025.

2. Terlempar dari level US\$ 3.400
Level ini merupakan batas psikologis penting yang selama ini menjadi penopang harga emas.

3. Melemah tiga hari beruntun
Fenomena ini sangat jarang terjadi di tahun 2025. Sepanjang tahun ini, emas baru lima kali mencatatkan pelemahan tiga hari berturut-turut. Terakhir kali terjadi pada 23–25 Mei dengan koreksi 2%.

4. Melemah dua pekan beruntun
Ini baru ketiga kalinya emas mengalami penurunan dua pekan berturut-turut sepanjang tahun ini—sebelumnya terjadi di awal Mei dan akhir Juni.

5. Kinerja mingguan terburuk sejak Juni
Pelemahan mingguan sebesar 0,4% mencerminkan tekanan jual yang cukup konsisten, terutama dipicu sentimen makroekonomi global.

Dolar AS Menguat, Safe Haven Kehilangan Daya Tarik

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah penguatan indeks dolar AS (DXY) yang ditutup di angka 97,65, level tertingginya dalam empat hari terakhir. Kuatnya dolar membuat harga emas yang dibanderol dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Di sisi lain, pasar global tengah menunjukkan minat risiko yang meningkat setelah tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Jepang, serta sinyal positif dari negosiasi dagang antara AS dan Uni Eropa.

“Kesepakatan dengan Jepang cukup signifikan, dan ada harapan tercapainya kesepakatan dengan Uni Eropa sebelum tenggat 1 Agustus. Hal ini mengurangi permintaan terhadap safe haven seperti emas,” ungkap Peter Grant, Wakil Presiden dan Analis Senior Zaner Metals, dikutip dari Reuters.

BACA JUGA: Harga Emas Dunia Terjun Bebas, Tinggalkan Level Psikologis US\$3.400 per Troy Ons — Apa Penyebabnya?

Komisi Eropa pun menyatakan bahwa kesepakatan dagang dengan AS kini sudah dalam jangkauan, meski Uni Eropa tetap bersiap dengan tarif balasan jika pembicaraan gagal.

Data Ekonomi AS Perkuat Posisi The Fed

Sentimen negatif emas diperparah oleh rilis data klaim pengangguran mingguan AS yang turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Stabilnya pasar tenaga kerja memberi sinyal bahwa Federal Reserve (The Fed) kemungkinan akan mempertahankan suku bunga di level 4,25%-4,50% dalam rapat minggu depan.

Namun, lonjakan inflasi akibat kenaikan tarif impor dari kebijakan Presiden Donald Trump bisa menjadi faktor penentu arah kebijakan selanjutnya.

Trump bahkan dilaporkan melakukan kunjungan mendadak ke kantor The Fed untuk menekan Ketua Jerome Powell agar memangkas suku bunga lebih agresif, meningkatkan ketegangan antara lembaga moneter dan Gedung Putih.

“Emas mungkin akan menarik minat beli di kisaran US\$ 3.300, tetapi belum akan menembus rekor tertinggi baru sebelum keputusan The Fed diumumkan,” tambah Grant.

Apa Selanjutnya?

Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai saat terjadi ketidakpastian global dan suku bunga rendah, kali ini sinyal ekonomi yang kuat dan penguatan dolar AS membuatnya kehilangan daya tarik jangka pendek.

Investor kini menanti arah kebijakan suku bunga The Fed, yang kemungkinan besar akan menjadi penentu pergerakan emas di pekan depan. (KSC)

Pos terkait