Gunung Tangkuban Parahu: Pesona Wisata Alam Ikonik Jawa Barat dengan Sejarah Letusan Vulkanik

Gunung Tangkuban Parahu: Pesona Wisata Alam Ikonik Jawa Barat dengan Sejarah Letusan Vulkanik
Tangkuban Perahu (foto/ist)

KLIKSUMUT.COM Gunung Tangkuban Parahu merupakan salah satu gunung berapi paling terkenal di Indonesia yang berada di perbatasan Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat, sekitar 20 kilometer di utara Bandung. Gunung ini menjadi destinasi wisata favorit berkat panorama alamnya yang menakjubkan, hamparan hutan pinus, serta perkebunan teh yang mengelilinginya.

Dengan ketinggian mencapai 2.086 meter di atas permukaan laut, Gunung Tangkuban Parahu memiliki bentuk stratovolcano atau gunung api kerucut yang terbentuk dari lapisan lava dan material vulkanik. Gunung ini dikenal aktif secara geologis dan terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Gunung Tangkuban Parahu memiliki suhu udara yang cukup dingin. Pada siang hari suhu rata-rata sekitar 17°C, sementara pada malam hari dapat turun hingga 2°C. Kawasan gunung ini juga memiliki kekayaan ekosistem hutan yang beragam, antara lain: Hutan Dipterokarp Bukit, Hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane dan Hutan Ericaceous atau hutan pegunungan

Vegetasi tersebut menjadikan kawasan ini sebagai habitat penting bagi berbagai flora dan fauna khas pegunungan di Jawa Barat.

Selain keindahan alamnya, aktivitas vulkanik gunung ini menghasilkan berbagai mineral seperti lava, sulfur, dan uap belerang yang dapat terlihat langsung di beberapa kawahnya.

Bacaan Lainnya

Aktivitas geologi Gunung Tangkuban Parahu telah membentuk 13 kawah yang tersebar di kawasan puncaknya. Dari jumlah tersebut, tiga kawah paling populer yang menjadi tujuan wisata adalah: Kawah Ratu – kawah terbesar dan paling terkenal, Kawah Upas – kawah luas dengan pemandangan eksotis dan Kawah Domas – terkenal dengan sumber air panas dan aktivitas belerang

Selain itu terdapat kawah lain seperti Kawah Badak, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, hingga Kawah Pangguyanganbadak.

Menurut penelitian geologi yang tercatat dalam buku Bandung Purba karya T. Bachtiar dan Dewi Syafriani, Gunung Tangkuban Parahu terbentuk sekitar 125.000 tahun lalu di kawasan Kaldera Sunda.

Gunung ini diketahui lebih muda dibandingkan Gunung Burangrang yang terbentuk sekitar 210.000–105.000 tahun lalu.

Proses pembentukan gunung ini juga berkaitan dengan aktivitas geologi di Sesar Lembang yang menyebabkan sebagian aliran material vulkanik tertahan di kaki patahan tersebut.

BACA JUGA: Gunung Sibayak, Gunung Raja di Tanah Karo yang Jadi Favorit Pendaki Pemula

Sejarah letusan Gunung Tangkuban Parahu pertama kali didokumentasikan oleh ahli botani dan geologi asal Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn pada tahun 1853.

Berdasarkan catatan tersebut, letusan pertama yang tercatat terjadi pada tahun 1829. Setelah itu, gunung ini mengalami beberapa kali aktivitas vulkanik, di antaranya: 1846 – peningkatan aktivitas vulkanik, 1910 – letusan besar dengan kolom asap setinggi 2 km, 1957 – erupsi freatik di Kawah Ratu, 1983 – erupsi freatik, 1992 – awan abu setinggi 159 meter, 2013 – erupsi freatik pada Februari, Maret, dan Oktober dan 2019 – erupsi freatik pada Juli, Menurut penelitian geologi, masa istirahat antara letusan gunung ini berkisar 30 hingga 70 tahun.

Untuk mengantisipasi risiko bencana, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah menyusun peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Tangkuban Parahu sejak tahun 2005.

Wilayah tersebut dibagi menjadi tiga zona: KRB I – potensi hujan abu, KRB II – potensi lontaran batu pijar dan abu dan KRB III – area paling berbahaya dekat kawah

Beberapa lembah yang berpotensi terdampak aliran lahar antara lain: Ciasem, Cimuji, Cikole, Cikapundung, Cihideung, Cibeureum dan Cimahi

Selain terkenal secara geologi, Gunung Tangkuban Parahu juga sangat erat dengan cerita rakyat Sunda, yaitu Legenda Sangkuriang.

Legenda ini mengisahkan tokoh Sangkuriang yang tanpa sadar jatuh cinta kepada ibunya sendiri, Dayang Sumbi.

Untuk menggagalkan rencana pernikahan tersebut, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membuat telaga dan perahu dalam satu malam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu yang dibuatnya hingga terbalik. Perahu terbalik itulah yang dipercaya masyarakat sebagai asal bentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Para ahli geologi meyakini bahwa kawasan Bandung dahulu merupakan danau purba raksasa yang terbentuk akibat bendungan aliran Sungai Citarum oleh letusan gunung api purba, yaitu Gunung Sunda.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan pada: Gunung Krakatau di Selat Sunda dan Ngorongoro di Tanzania.

BACA JUGAPesona Gunung Sibual Buali, Surga Pendakian Tersembunyi di Tapanuli Selatan

Hal ini membuat legenda Sangkuriang dipercaya sebagai refleksi cerita rakyat yang merekam peristiwa geologi masa lampau.

Gunung Tangkuban Parahu bukan hanya sekadar destinasi wisata alam di Jawa Barat, tetapi juga menyimpan nilai geologi, sejarah letusan, serta legenda budaya yang kuat. Keindahan kawah, udara sejuk pegunungan, serta kisah rakyat yang melegenda menjadikan gunung ini sebagai salah satu ikon wisata paling populer di Indonesia. (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait