Fourtwnty: Perjalanan, Lagu Hits, dan Pengaruh Besar di Musik Indie Indonesia

Fourtwnty: Perjalanan, Lagu Hits, dan Pengaruh Besar di Musik Indie Indonesia
Fourtwnty (foto/ist)

KLIKSUMUT.COM – Fourtwnty adalah grup musik indie asal Indonesia yang sukses mengubah wajah musik folk pop Tanah Air. Beranggotakan Ari Lesmana, Nuwi, Roots, Andi Armand, Primandha Ridho, dan Ryan Maulana, band ini turut dibentuk oleh Roby Satria, gitaris Geisha. Sejak kemunculannya, Fourtwnty dikenal lewat lirik puitis, aransemen sederhana namun emosional, serta pesan reflektif yang dekat dengan generasi muda.)

Fourtwnty resmi terbentuk pada tahun 2010. Namun perjalanan mereka tidak selalu mulus. Pada tahun 2015, grup ini sempat berada di ambang perpecahan akibat kesibukan masing-masing personel dan belum adanya perkembangan finansial yang signifikan.

Di tahun yang sama, mereka merilis album perdana bertajuk Lelaku (2015). Album ini mengusung genre folk pop dengan nuansa akustik yang hangat dan lirik penuh makna. Beberapa lagu yang menjadi favorit pendengar antara lain: Fana Merah Jambu, Aku Tenang, Hitam Putih dan Diam-Diam Kubawa Satu

Meski belum langsung meledak secara komersial, Lelaku berhasil membangun fondasi kuat bagi identitas musik Fourtwnty.

Nama Fourtwnty mulai dikenal luas pada tahun 2017 setelah lagu “Zona Nyaman” dari album kedua mereka Ego & Fungsi Otak (2018) dipilih sebagai soundtrack film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody.

Lagu ini menjadi titik balik dalam karier mereka. “Zona Nyaman” bukan hanya populer di radio dan platform streaming, tetapi juga menjadi anthem generasi muda yang sedang mencari arah hidup. Kesuksesan ini turut mengangkat lagu-lagu lain dari album tersebut seperti: Kusut, Kita Pasti Tua dan Realita

Popularitas “Zona Nyaman” bahkan sering disejajarkan dengan lagu “Akad” milik Payung Teduh yang juga booming pada periode yang sama, menandai kebangkitan musik indie di arus utama.

BACA JUGA: Fonticello, Pelopor Musik Cello Rock Indonesia Asal Yogyakarta

Bacaan Lainnya

Puncak eksistensi Fourtwnty semakin terlihat saat mereka sukses menggelar tur independen pertama bertajuk “Heliotropisme” pada 2019. Tur ini digelar di 10 kota besar Indonesia, antara lain:

Medan, Makassar, Malang, Palembang, Pontianak, Padang, Bogor, Banjarmasin, Yogyakarta, dan Pekanbaru.

Tur yang berlangsung dari September hingga Desember 2019 ini menjadi bukti bahwa Fourtwnty telah memiliki basis penggemar kuat di berbagai daerah. Menariknya, tur ini digelar secara independen, mempertegas identitas mereka sebagai band indie yang mandiri.

Kesuksesan Fourtwnty membuka jalan bagi musisi indie lainnya untuk menembus pasar yang lebih luas. Setelah mereka, bermunculan nama-nama seperti: Nadin Amizah, Hindia, Feast, Pamungkas, Sal Priadi dan Soegi Bornean

Meski sebenarnya musik indie telah lebih dulu dirintis oleh musisi seperti Float, Efek Rumah Kaca, Mocca, dan Naif, Fourtwnty berhasil membawa warna folk pop reflektif ke audiens yang lebih besar dan mainstream.

Fenomena ini membuktikan bahwa musik indie tidak lagi menjadi konsumsi kalangan terbatas, melainkan telah menjadi bagian penting dari industri musik nasional.

Di balik kesuksesan mereka, perjalanan Fourtwnty tidak instan. Meski lagu-lagunya banyak disukai sejak awal, para personel belum merasakan dampak ekonomi yang signifikan hingga sekitar tahun 2019.

BACA JUGA: Float, Grup Musik Indonesia yang Konsisten Berkarya Sejak 2004 dengan Warna Pop, Rock, hingga Jazz

Perjuangan panjang, konsistensi dalam berkarya, serta kedekatan emosional dengan pendengar menjadi kunci bertahannya Fourtwnty hingga kini.

Fourtwnty bukan sekadar grup musik, melainkan simbol perubahan dalam industri musik Indonesia. Dengan gaya bermusik yang jujur, sederhana, dan penuh makna, mereka berhasil membuktikan bahwa karya autentik tetap memiliki tempat di hati penikmat musik.

Dari hampir bubar hingga menjadi salah satu ikon musik indie Indonesia, perjalanan Fourtwnty adalah cerita tentang ketekunan, idealisme, dan keberanian keluar dari “zona nyaman.” (KSC)

TIM REDAKSI

Pos terkait