KLIKSUMUT.COM | JEDDAH – Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menghadiri agenda Exit Meeting Amirul Hajj 2026 yang berlangsung di Kantor Urusan Haji Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (6/6/2026). Forum tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026 sekaligus merumuskan berbagai rekomendasi strategis guna meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah Indonesia pada musim haji mendatang.
Dalam pertemuan tersebut, Menhaj Irfan Yusuf menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan haji tahun ini yang dinilai menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Irfan Yusuf, penyelenggaraan ibadah haji Indonesia merupakan pekerjaan besar yang melibatkan jutaan aspek layanan dan ribuan petugas. Dengan karakteristik jemaah yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, koordinasi antarlembaga menjadi kunci keberhasilan.
“Penyelenggaraan haji tahun ini tidak mudah. Jemaah kita datang dari seluruh Indonesia dengan berbagai macam latar belakang dan keberagaman. Alhamdulillah, dengan kerja sama semua pihak, prosesnya dapat terlaksana dengan baik,” ujar Irfan Yusuf, Minggu (7/6/2026).
Ia menegaskan bahwa Kementerian Haji dan Umrah tidak dapat bekerja sendiri dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah. Oleh karena itu, apresiasi diberikan kepada seluruh pemangku kepentingan yang terlibat sejak tahap persiapan, operasional, puncak pelaksanaan ibadah, hingga proses pemulangan jemaah ke Tanah Air.
“Kami membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Saya mengapresiasi seluruh stakeholder yang sudah bekerja keras dalam menyelenggarakan haji tahun ini,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PPIH Arab Saudi, Ian Heriyawan, memaparkan sejumlah capaian penting penyelenggaraan haji 2026.
Menurut Ian, tingkat penyerapan kuota haji Indonesia mencapai 99,6 persen, sebuah angka yang menunjukkan tingginya efektivitas pengelolaan keberangkatan jemaah tahun ini.
“Penyerapan kuota kita mencapai 99,6 persen. Ada sekitar 600 kuota yang tidak terserap,” jelas Ian.
Ia juga mengungkapkan bahwa proses pemulangan jemaah berjalan sesuai rencana. Hingga awal Juni 2026, sebanyak 78 kelompok terbang (kloter) atau sekitar 30.500 jemaah telah kembali ke Indonesia.
Ian Heriyawan menekankan bahwa salah satu tantangan utama penyelenggaraan haji ke depan adalah memperkuat sinergi antara petugas haji Indonesia dengan syarikah atau perusahaan penyedia layanan haji di Arab Saudi.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan mitigasi terhadap berbagai kebijakan baru Arab Saudi, termasuk sistem penunjukan syarikah yang memiliki peran penting dalam penyediaan layanan transportasi, akomodasi, dan konsumsi jemaah.
“Kita harus fokus pada bagaimana kerja sama antara petugas haji dan syarikah nanti. Termasuk mitigasi terhadap kebijakan Saudi tentang penunjukan syarikah,” katanya.
Dalam forum yang sama, Sekretaris Amirul Hajj, Ilfi Nurdiana, menyampaikan sepuluh rekomendasi strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan haji Indonesia pada tahun berikutnya.
1. Perbaikan Layanan dan Kapasitas Tenda di Mina
Amirul Hajj meminta adanya peningkatan kapasitas tenda serta penyediaan ruang privasi yang lebih baik bagi jemaah perempuan selama berada di Mina.
2. Ketepatan Waktu Transportasi Armuzna
Penyedia transportasi diminta lebih disiplin dalam memenuhi jadwal keberangkatan dan penjemputan jemaah sebelum maupun sesudah Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).
3. Percepatan Operasional Bus Shalawat
Bus shalawat diharapkan dapat beroperasi lebih cepat pasca-Armuzna sehingga memudahkan jemaah menjalankan tawaf ifadah dan tawaf wada.
4. Hotel Dekat Masjidil Haram
Penempatan hotel yang lebih dekat dengan Masjidil Haram dinilai mampu meningkatkan kenyamanan jemaah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap transportasi.
5. Optimalisasi Produk Indonesia untuk Katering
Penggunaan bahan makanan dan produk dalam negeri di sektor katering diharapkan terus ditingkatkan guna mendukung ekonomi nasional.
6. Pelatihan Petugas yang Lebih Intensif
Petugas kloter dan petugas daerah perlu mendapatkan pelatihan yang lebih komprehensif agar standar layanan semakin merata.
7. Penguatan Standar Layanan Petugas
Amirul Hajj juga merekomendasikan penambahan pembimbing ibadah laki-laki untuk memastikan pelayanan tetap optimal dalam berbagai kondisi.
8. Diplomasi Kesehatan dan Fasilitas Armuzna
Peningkatan jumlah toilet bagi perempuan dan lansia, fasilitas tenda yang lebih baik, serta izin safari wukuf bagi jemaah sakit menjadi fokus rekomendasi.
9. Haji Ramah Lingkungan
Program pengurangan sampah plastik melalui penggunaan tumbler dan dispenser air minum di kawasan Armuzna menjadi bagian dari transformasi layanan haji berkelanjutan.
10. Layanan Dorong Lansia dan Kajian Bandara Taif
Pemerintah didorong menghadirkan layanan jasa dorong yang terintegrasi bagi lansia dan jemaah risiko tinggi. Selain itu, kajian pembukaan Bandara Taif untuk operasional haji Indonesia juga direkomendasikan.
Exit Meeting Amirul Hajj 2026 juga mencatat sejumlah indikator positif dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Tingkat kepuasan jemaah mengalami peningkatan yang signifikan, sementara jumlah keluhan tercatat menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, hasil audit internal maupun eksternal menunjukkan berkurangnya temuan administratif dan operasional. Hal ini menandakan tata kelola penyelenggaraan haji Indonesia semakin transparan, profesional, dan akuntabel.
Dengan berbagai capaian tersebut, pemerintah optimistis kualitas layanan haji Indonesia akan semakin baik pada musim haji mendatang. Evaluasi dan rekomendasi yang disusun dalam Exit Meeting Amirul Hajj 2026 diharapkan menjadi fondasi kuat untuk menghadirkan pelayanan yang lebih nyaman, aman, dan berkualitas bagi seluruh jemaah haji Indonesia. (KSC)
TIM REDAKSI




