EdanE, Legenda Hard Rock Jakarta yang Tak Pernah Padam Sejak 1991

EdanE, Legenda Hard Rock Jakarta yang Tak Pernah Padam Sejak 1991
Edane (foto/ist)

KLIKSUMUT.COM – Nama EdanE (sering ditulis Edane atau EdanE) bukan sekadar band rock biasa. Grup musik hard rock asal Jakarta ini telah menjadi bagian penting dari sejarah musik rock dan metal Indonesia sejak awal 1990-an. Digagas pada 1991, EdanE terus menunjukkan eksistensinya hingga kini, menembus lintas generasi dengan karakter musik yang garang dan konsisten.

EdanE berawal dari proyek E & E, kolaborasi gitaris Eet Sjahranie dan Ekki Soekarno pasca keterlibatan mereka di proyek Kharisma Indonesia (1988). Meski proyek duo tersebut tak berlanjut karena kesibukan masing-masing, Eet tetap meneruskan E & E dengan menggandeng Ecky Lamoh.

Tonggak penting terjadi pada 10 Mei 1992, ketika E & E resmi bertransformasi menjadi EdanE lewat perilisan album debut The Beast. Sejak saat itu, EdanE langsung mencuri perhatian di era keemasan rock dan metal Indonesia awal 1990-an.

Album The Beast dirilis melalui AIRO Records dan berisi sembilan lagu ikonik, termasuk “Ikuti” dan “Menang Atau Tergilas”. Album ini mendapat sambutan luar biasa dan kemudian masuk daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi Rolling Stone Indonesia. Lagu “Ikuti” bahkan dinobatkan sebagai salah satu 150 Lagu Indonesia Terbaik.

Tak lama setelah rilis, EdanE didapuk sebagai band pembuka konser Sepultura World Tour 1992 di Stadion Lebak Bulus, Jakarta—sebuah pencapaian monumental bagi band rock lokal kala itu.

BACA JUGA: Slank: Dari “Anak Slenge’an Cikini” Jadi Legenda Rock Tanah Air! Ini Kronologi Lengkapnya

Dalam perjalanannya, EdanE dikenal sebagai band dengan dinamika formasi yang intens, terutama di lini vokal. Album-album penting seperti Jabrik (1994), Borneo (1996), 9299 (1999), hingga 170 Volts (2002) menunjukkan eksplorasi musikal EdanE yang terus berkembang, dengan pengaruh kuat dari Pantera, Van Halen, dan AC/DC.

Meski mengalami pasang surut, EdanE tetap produktif dan relevan, termasuk saat merilis album Time To Rock (2005) di bawah Sony BMG Indonesia.

Bacaan Lainnya

Setelah sempat vakum, EdanE bangkit kembali pada 2010 dengan album Edan, dirilis lewat Logiss Records. Album ini menandai era baru EdanE dengan orientasi global, dominasi lirik berbahasa Inggris, dan lagu-lagu seperti “Living Dead”, “Best Of Me”, serta “Ingin Beken”.

EdanE kembali mencetak sejarah dengan menjadi band pembuka Sepultura di Kukar Rockin’ Fest 2012, sebuah festival yang meraih rekor MURI sebagai festival musik internasional gratis pertama di Indonesia.

Basis penggemar setia yang dikenal sebagai Edane Freaks menjadi kekuatan utama keberlangsungan band ini. Komunitas ini tersebar di seluruh Nusantara dan aktif mengikuti setiap rilisan, konser, hingga aktivitas EdanE di media sosial.

BACA JUGA: Kisah Sukses Kotak, Band Rock Indonesia yang Lahir dari Ajang The Dream Band

Pada era terbaru, EdanE merilis sejumlah single seperti “Hail Edan” (2015) dan “Si Bangsat (Sesuka Lo)” (2020), berkolaborasi dengan Bagus NTRL. Perubahan formasi terakhir terjadi pada 2021, saat posisi bass diisi oleh Hendra Zamzami.

Dengan enam album studio dan satu album kompilasi, serta deretan penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia (AMI) hingga Hammersonic Award, EdanE membuktikan diri sebagai salah satu band paling berpengaruh di belantika musik rock Indonesia. Lebih dari tiga dekade berlalu, EdanE tetap berdiri—keras, jujur, dan tak pernah kehilangan taring

Pos terkait